Kembali
Motivasi Menulis

Meraih Kebahagiaan Harian Melalui Tulisan

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

“I don’t believe it is possible to have fun every day. But I do believe it is possible to do something meaningful that helps people every day” – Mark Zuckeberg

.

Bahagia itu sederhana. Begitu yang sering kita dengar. Pada level tertentu, pernyataan itu benar adanya. Bahagia memang sederhana, yang bisa kita ciptakan dalam kehidupan sehari-hari. Termasuk dalam proses menulis.

Anda tidak perlu membayangkan, bahwa bahagia itu apabila sudah mampu melahirkan buku best seller. Anda tidak perlu menunggu –bahwa bahagia akan Anda dapatkan apabila sudah mencapai puncak popularitas sebagai penulis top nasional atau penulis top dunia.

Sungguh, kebahagiaan bisa kita dapatkan dari proses menulis itu sendiri. Tak perlu menunggu tulisan Anda menjadi  best seller atau menjadi juara kompetisi. Tak perlu menunggu Anda terpilih menjadi penulis terbaik se kabupaten atau provinsi. Tak perlu menunggu Anda terpilih menjadi penulis terbaik tingkat nasional.

Mulai saja dengan menetapkan target, misalnya menulis tigapuluh menit setiap hari, lalu Anda berhasil melakukannya. Ini adalah kebahagiaan. Mulai dengan menetapkan target sehari menulis seratus kata, lalu Anda berhasil mencapainya. Ini adalah kebahagiaan.

Mulai dengan menetapkan target, menulis satu cerpen setiap tiga hari, dan berhasil mencapainya. Ini jelas kebahagiaan. Anda menetapkan target, bisa posting tulisan di media sosial minimal sehari sekali, lalu mampu melakukannya. Ini adalah kebahagiaan. Tanpa harus menunggu hal-hal besar dan spektakuler.

Kita sering salah membayangkan. Seakan para tokoh dan selebritis dunia itu selalu berada dalam kebahagiaan yang sempurna. Seakan mereka yang berjaya, terkenal, dielu-elukan fans di seluruh dunia, pasti bahagia. Seakan mereka yang fotonya memenuhi jagat nyata dan maya, selalu bahagia.

Benarkah mereka bahagia? Belum tentu. Kadang, seseorang berada di puncak kekayaan dan popularitas, namun justru kehilangan kebahagiaan. Mari kita belajar dari Justin Bieber, Warren Buffet dan Marc Zuckeberg.

Kehilangan Kebahagiaan di Puncak Kejayaan

Dikabarkan, di tengah puncak popularitasnya, Bieber justru tidak bahagia. Ia mengalami kehilangan kebahagiaan. “He feels something is missing from his life that can’t be bought. It’s a missing feeling of happiness”, ujar Maria Goncalves (2018), menceritakan kondisi Bieber.

Popularitas, kekayaan, kehebatan prestasi, tak selalu mengukir kebahagiaan. Bieber sempat mengalami masa perawatan yang intensif pada saat dirinya mengalami kehilangan kebahagiaan. “He has been in treatment for this before”, lanjut Goncalves.

Ternyata popularitas yang mendunia, tidak menjamin hadirnya bahagia. Justru ketika berada di puncak keterkenalan, berpotensi kehilangan kebahagiaan. Tidak seperti yang dibayangkan oleh mereka yang belum sampai ke puncak kejayaan dunia.

Warren Buffet memiliki pengalaman spiritual yang sangat berharga. Pengalaman hidupnya mengajarkan, bahwa semakin banyak harta dikumpulkan, justru semakin menghasilkan penderitaan. Tentu ini tidak berlaku universal. Namun bisa menjadi pelajaran berharga bagi siapa saja.

Warren Buffet (2016) menceritakan pengalamannya. “There are things money can’t buy. I don’t think standard of living equates with cost of living beyond a certain point. Good housing, good health, good food, good transport. There’s a point you start getting inverse correlation between wealth and quality of life”.

“Ada hal-hal yang tidak bisa dibeli dengan uang”, ujar Buffet. “Rumah mewah, kondisi kesehatan bagus, makanan lezat, mobil bagus. Ada saatnya Anda mendapatkan korelasi terbalik antara kekayaan dan kualitas hidup”, lanjutnya.

Kebahagiaan dalam hidup tak selalu sebanding dengan kekayaan materi. “My life couldn’t be happier. In fact, it’d be worse if I had six or eight houses. So, I have everything I need to have, and I don’t need any more because it doesn’t make a difference after a point”, lanjut Buffet.

Menurut Buffet, jika seseorang cukup dengan satu rumah, justru akan buruk apabila ia memiliki enam atau delapan rumah. Setelah seseorang memiliki semua yang ia perlukan, dirinya tidak membutuhkan lagi kelebihannya. Karena hal itu tidak akan menambah kebahagiaan.

Pada konteks kejayaan materi dan popularitas, seseorang sudah tidak akan merasakan tambahan kebahagiaan lagi, saat mendapatkan hal sama berlipat-lipat. “When you get to 10 times or 100 times or 1,000 times, it doesn’t make a difference –in quality of life,” ujar Buffet.

Bukan Jawaban

Bill Gates memiliki pengalaman spiritual yang serupa. Menurut gates, banyak orang saat miskin terobsesi untuk bekerja keras mendapatkan sebanyak mungkin harta. Makin banyak harta yang ingin didapatkan, makin keras pula kerja yang harus dilakukan.

Namun setelah didapat, sering kali membuat orang berpikir ulang — bahwa harus bekerja sekeras itu, hanya untuk mendapatkan sesuatu yang ternyata ‘bukan jawaban’. Ya, itu semua bukan jawaban, seperti dituturkan Gates (2016).

“Money is counterproductive-it prevents happiness to come. For a long time I believed that more wealth and luxury automatically meant more happiness. I come from a very poor family, where the rules were to work more to achieve more material things, and I applied this for many years”, ujar Gates.

Awalnya Gates meyakini bahwa kesehatan dan kemewahan akan mendatangkan kebahagiaan. Karena dirinya berasal dari keluarga miskin, maka ia membayangkan akan mencapai kebahagiaan jika bisa mengumpulkan kekayaan.

“More and more I heard the words: ‘Stop what you are doing now –all this luxury and consumerism— and start your real life.’ I had the feeling I was working as a slave for things that I did not wish for or need. I have the feeling that there are lot of people doing the same thing,” ungkap Bill Gates.

Ternyata, puncak kebahagiaan justru bukan pada popularitas atau kekayaan itu sendiri. Bukan pada realitas “memiliki” kemewahan materi. Ternyata bahagia ada dalam memberi. Seperti yang dilakukan oleh Gates yang mengumpulkan dana charity untuk berbagi. Tahun 2017 lalu tercatat Bill & Melinda Gates Foundation memiliki dana abadi sebesar USD 50,7 miliar.

Kebahagiaan —seperti yang dirasakan pula oleh Mark Zuckeberg— adalah dalam peduli, berbagi dan saling mengasihi dengan orang-orang tercinta —keluarga dan teman-teman.

“To me, happiness is doing something meaningful that helps people and that I believe in with people I love. I think lots of people confuse happiness with fun. I don’t believe it is possible to have fun every day. But I do believe it is possible to do something meaningful that helps people every day,” ujar Zuckeberg.

Zuck merasakan kebahagiaan bertumbuh dari persahabatan. Hubungan baik dengan banyak kalangan telah memberikan makna dalam kehidupan. Justru dengan itu manusia bisa bahagia. “As I’ve grown up, I’ve gained more appreciation for my close relationships — my wife, my partners at work, my close friends. Nobody builds something by themselves. Long term relationships are very important,” lanjut Zuck.

Mari Ciptakan Kebahagiaan Melalui Tulisan

Saya berbahagia saat menuliskan artikel ini. Saya berbahagia setelah selesai menulis dan mulai mengedit. Saya berbahagia saat mengunggah tulisan ini ke blog. Saya berbahagia saat ada beberapa sahabat mengunjungi blog saya. Ini adalah kebahagiaan harian bagi saya.

Semua dari kita bisa menciptakan kebahagiaan harian. Tidak perlu menunggu sesuatu yang besar atau ajaib. Kita hanya perlu membuat target-target sederhana, untuk kita capai dengan penuh disiplin diri. Menciptakan target menulis harian, kemudian kita berusaha mencapai dengan kesungguhan.

Sejak proses menulis, hingga menyelesaikan dan mempublikasikan tulisan, semua kita lakukan dengan bahagia. Kita nikmati prosesnya. Kita nikmati pencapaian target. Kita nikmati keberhasilan menciptakan karya tulis. Kita bahagia dengan berbagi inspirasi melalui tulisan.

Sesederhana itu. Bahagia, tak perlu menunggu.

.

Bahan Tulisan

Marcel Schwantes, Warren Buffett Says This is What He’d Do to Live a Happier Life—If He Could Live All Over Again, www.cnbc.com, 10 Agustus 2019

Maria Goncalves, Justin Bieber Is Suffering From ‘A Missing Feeling Of Happiness,’ Per ‘People’, www.inquisitr.com 5 November 2018

Rahul Varshneya, Is Mark Zuckerberg Happy? https://www.inc.com, 14 Juni 2016

Remy Blumenfeld, Bill Gates’ 5 Secrets To Happiness Are Surprisingly Affordable, www.forbes.com, 7 Desember 2019

Ditulis oleh Cahyadi Takariawan

Dipublikasikan di Ruang Menulis. Kanal kreasi naskah, literasi, dan karya tulis terpilih.