Kembali
Kapita Selekta

Mumpung Masih Hidup, Siapkan Legacy yang Berarti

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

Masyarakat Indonesia dari generasi ke generasi selalu mengenal KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Ahmad Dahlan. Keduanya meninggalkan warisan amat berkesan dan memberikan manfaat tiada berkesudahan sampai akhir zaman. Organisasi NU dan Muhammadiyah adalah legacy yang sangat dahsyat, yang akan terus menerus memberikan pahala kebaikan bagi perintisnya.

Jika Anda menemukan masjid yang sudah berumur lama dan masih terus digunakan untuk melaksanakan shalat serta ibadah lainnya, bangunan masjid beserta fasilitasnya tersebut adalah legacy dari para pewakaf, pendiri dan pembangunnya. Mungkin nama pewakaf dan para pendiri tidak tertulis di buku sejarah manapun. Mungkin generasi sekarang yang memakmurkan masjid bahkan tidak mengenal nama-nama orang yang merintis pembangunan masjid tersebut.

Jika Anda menemukan sekolah, pesantren dan lembaga-lembaga pendidikan lain yang hingga sekarang masih memiliki banyak santri dan murid, serta aktivitas belajar mengajar terus berjalan,  maka lembaga pendidikan tersebut adalah legacy dari para perintis dan pendirinya. Semua kebaikan yang muncul dari lembaga pendidikan tersebut akan mengalirkan pahala kepada para perintis dan pendirinya.

Jika Anda menemukan sumur-sumur di daerah yang tandus dan kering, di mana sumur-sumur tersebut masih digunakan masyarakat untuk mengambil air untuk keperluan sehari-hari, maka sumur-sumur tersebut adalah legacy daripara pewakaf dan pembuatnya. Pahala kebaikan terus mengalir kepada pewakaf dan pembuatnya sepanjang sumuritu masih terus dimanfaatkan.

Jika Anda menemukan ilmu atau teori yang bermanfaat untuk kebaikan, dan terus menerus diajarkan serta diterapkan, itu adalah legacy bagi pembuatnya. Jika ada kebijakan, peraturan, undang-undang, yang membawa kemaslahatan bagi masyarakat, yang terus diberlakukan dan dirasakan kemanfaatannya, itu adalah legacy bagi penyusunnya.

Menyiapkan Warisan Berkesinambungan

Nabi Ibrahim as memiliki jejak-jejak kebaikan yang bisa dilihat dan dinikmati oleh generasi setelahnya, bahkan sampai akhir zaman. Setiap menjalankan ibadah haji, semua orang akan mengingat Nabi Ibrahim. Demikian pula setiap menjalankan ibadah korban, semua orang mengingat Nabi Ibrahim. Amal kebaikan Nabi Ibrahim akan terus menerus hadir dan mengalir.

Ini pelajaran penting agar kita bisa membangun legacy sebelum pergi meninggalkan dunia yang fana ini. Ibadah haji yang dilakukan umat Islam setiap tahun hingga hari kiamat, merupakan warisan ibadah yang diserukan oleh Nabi Ibrahim as. Firman Allah,

وَاَ ذِّنْ  فِى  النَّا سِ  بِا لْحَجِّ  يَأْتُوْكَ  رِجَا لًا  وَّعَلٰى  كُلِّ  ضَا مِرٍ  يَّأْتِيْنَ  مِنْ كُلِّ  فَجٍّ  عَمِيْقٍ  

“Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, atau mengendarai setiap unta yang kurus, mereka datang dari segenap penjuru yang jauh” (QS. Al-Hajj: 27).

Ibadah kurban yang dilaksanakan umat Islam setiap tahun, selalu mengingatkan kepada sosok agung, Nabiyullah Ibrahim as dan anaknya, Ismail. Firman Allah,

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ (102)

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: ‘Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?’ Ia menjawab: ‘Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar’” (QS. Ash-Shaffat: 102).

Jika Nabi Ibrahim meninggalkan jejak-jejak kebaikan dalam haji dan kurban, kita juga menemukan jejak kebaikan Utsman bin Affan yang berkesinambungan hingga sekarang. Apabila Anda datang ke Madinah, akan berjumpa dengan sumur peninggalan Utsman bin Affan, 14 abad yang lalu.

Sumur itu dibeli Utsman dari seorang Yahudi bernama Raumah dan diwakafkan untuk umat Islam, seharga 20.000 dirham. Situs Al-Arabiya (13/3/2018) menyatakan, sumur yang dikenal bernama Raumah itu, tak berhenti mengalir meski telah berusia 1.400 tahun. Abdullah Kaber, seorang peneliti dari pejabat pengembangan Madinah mengatakan, kepada Saudi Press Agency bahwa Raumah merupakan satu-satunya sumur zaman Nabi Muhammad yang masih mengalir hingga sekarang.

Pada masa Nabi saw, sumur yang diwakafkan Utsman bin Affan digunakan untuk berbagai keperluan umat Islam. Salah satunya untuk mengairi perkebunan kurma. Pohon-pohon kurma tersebut jumlahnya terus bertambah, hingga diwariskan dari generasi ke generasi.

Sejak zaman para khalifah terdahulu, hingga kini dikelola oleh pemerintah Arab Saudi. Dapertemen Pertanian Saudi mengelola ribuan pohon kurma tersebut untuk diperdagangkan. Sebagian keuntungannya disalurkan kepada anak yatim dan orang-orang tidak mampu. Sebagian lainnya disimpan di rekening bank atas nama Utsman bin Affan dibawah pengawasan Dapertement Pertanian.

Rekening atas nama Utsman bin Affan tersebut terus bertambah. Pemerintah Arab Saudi membeli tanah di kawasan Markaziyah dekat masjid Nabawi, dengan dana dari rekening tersebut. Di atas tanah itulah dibangun hotel Utsman bin Affan di Madinah, bangunan 15 lantai dengan 24 kamar di setiap lantainya.

Jejak-Jejak Peninggalan yang Berkesinambungan

Kisah-kisah di atas memberikan pelajaran penting bagi kita, agar sebelum meninggalkan dunia yang fana ini setiap orang bisa membangun legacy kebaikan yang bisa mengalirkan pahala sepeninggalnya. Legacy kebaikan atau atsar yang ditinggalkan seseorang ini akan terus dicatat di dalam catatan amal kebaikannya sebagaimana disebutkan dalam firman Allah,

اِنَّا  نَحْنُ  نُحْيِ  الْمَوْتٰى  وَنَكْتُبُ  مَا  قَدَّمُوْا  وَاٰ ثَا رَهُمْ   ۗ وَكُلَّ  شَيْءٍ  اَحْصَيْنٰهُ  فِيْۤ  اِمَا مٍ  مُّبِيْنٍ

“Sungguh, Kamilah yang menghidupkan orang-orang yang mati, dan Kamilah yang mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka (tinggalkan). Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab yang jelas / Lauh Mahfuz” (QS. Yasin: 12).

Dalam Tafsir Al-Mukhtashar dari Markaz Tafsir Riyadh dijelaskan,  “Sesungguhnya Kami yang menghidupkan orang-orang yang mati dan membangkitkan mereka pada hari Kiamat untuk menghadapi hisab”.

“Kami mencatat amal saleh dan amal buruk yang mereka lakukan semasa hidup di dunia. Kami menulis usaha mereka yang ada efeknya setelah kematian mereka berupa saleh seperti sedekah jariah, atau amalan buruk seperti kekufuran. Kami mencatat segala sesuatu dalam satu kitab yang jelas, yaitu Lauḥul Maḥfuẓ”.

Dalam kitab Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir karya Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar dijelaskan, وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا۟( dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan) Yakni amal baik dan buruk yang telah mereka lakukan”.

“ وَءَاثٰرَهُمْ ۚ( dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan) Yakni kebaikan yang tidak terputus manfaatnya setelah kematian mereka, seperti orang yang mencontohkan perbuatan yang baik. Atau keburukan yang tetap mengalir setelah kematian mereka, seperti orang yang mencontohkan perbuatan buruk”.

“Yang termasuk dari kebaikan yang tetap mengalir pahalanya adalah mengajarkan ilmu dan membukukannya, mewakafkan sumur, dan membangun masjid dan bangunan. Adapun keburukan yang tetap akan mengalir dosanya adalah memulai kezaliman dan membuat sesuatu yang membahayakan manusia kemudian diikuti oleh orang jahat lain”.

Jadi, apa legacy yang engkau miliki, sebelum engkau pergi? Semoga hanya legacy kebaikan yang kita tinggalkan. Jangan sampai meninggalkan legacy keburukan.

Bahan Bacaan

Aunur Rafiq Saleh dalam https://aunurrafiq18.wixsite.com.

Tafsir Web, https://tafsirweb.com

Ditulis oleh Cahyadi Takariawan

Dipublikasikan di RUANG KELUARGA. Media edukasi keluarga, parenting, dan keharmonisan rumah tangga.