Kembali
Keluarga

November, Hari Pahlawan, Hari Ayah dan Hari Guru

Oleh: Sujono M. Syuhada (Direktur Jogja Family Center | Dewan Pengawas Yayasan Al Hikmah Sempor)

Pada bulan ini bangsa kita Indonesia memiliki setidaknya 3 dari 19 hari besar nasional yang maknanya satu sama lain begitu dekat dan saling menguatkan, bahkan bisa dipastikan menyatu dalam satu peran, yaitu peran sebagai pendidik.

Salah satu sosok pahlawan nasional yang selalu bernas di ingatan kita adalah Bapak Soetomo, beliau lebih akrab di tengah kita dengan nama Bung Tomo. Terekam sangat lantang dan terngiang di telinga generasi bangsa Indonesia adalah pekikan Takbir Bung Tomo, ketika beliau mengobrakan semangat arek-arek dan para Santri 10 November 1945 di Lapangan Banteng Surabaya.

Pekikan kalimat Takbir, “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar!” menjadikan arek arek dan para Santri bergerak gagah berani melancarkan perlawanan terhadap tentara sekutu dan NICA yang hendak kembali menganeksasi tanah air dan bangsa Indonesia.

Dengan pekikan takbir inilah jiwa besar anak-anak Indonesia dibangun, terlebih ketika menghadapi situasi sulit serta menentukan nasib bangsa dimasa mendatang. Betapa agung dan indah jiwa bangs akita dibentuk.

“Andai tak ada takbir, saya tidak tahu dengan cara apa membakar semangat para pemuda untuk melawan penjajah!” (Bung Tomo)

Epos Kepahlawanan

Semakin indah dan bergizi bagi jiwa generasi bangsa kita, karena berbagai kisah kepahlawanan bangsa kita begitu menyatu dengan kisah kehidupan berkeluarga yang tangguh. Sejenak saja kita menyempatkan diri untuk menyelami kehidupan Bung Tomo, akan tergambar bahwa beliau bukanlah seorang “Hero” tunggal. Di tengah kehidupannya ada istri dan anak-anak yang begitu teguh sikap turut mengokohkan jiwa para pejuang kemerdekaan. 

Dalam surat balasan kepada Bung Tomo, Sulistina (istri Bung Tomo) pernah bertanya, “Kapankah perang kemerdekaan ini selesai?”

Karena jarang sekali mereka berdua berkumpul, dan anak-anaknya selalu menanyakan kapan Bung Tomo datang. Melihat istrinya mengeluh dengan perjuangannya yang tak kunjung berakhir, Bung Tomo menulis:

’’Tieng kowe tak seneni ya? Sesuk-sesuk adja sok kanda kapan telase merdeka ini, ya? Wong sedih merga ora bareng-bareng dua minggu wae kok ndukani ‘Merdekane’.”

(“Tieng aku boleh marah ya? Lain kali jangan pernah bilang kapan selesainya perang kemerdekaan ini. Cuma sedih karena tidak bersama-sama dua minggu saja, kok menyalahkan “Merdekanya”).

Peran Keayahan

Gottman dan De Claire (1998) menyatakan ayah dan ibu sebagai “pembimbing emosi” hendaknya mempergunakan kesempatan sebaik-baiknya memanfaatkan waktu berharga dengan anak untuk membentuk komunikasi yang berkualitas, dengan berperan aktif dan kaya makna sebagai upaya melatih anak mengenai keterampilan komunikasi dan keterampilan manusia melalui sikap empati dan pemahaman. Pada kesempatan ini orang tua dapat mengajarkan terhadap anakanaknya  enghadapi dinamika kehidupan, yaitu terlibatnya emosi, baik emosi positif maupun negatif (Juniawati, 2015).

Indahnya kehidupan seorang Ibu yang sekaligus seorang istri pejuang. Ia berusaha membangun komunikasi yang baik dengan anak. Lalu, Sang Ibu berhasil mengomunikasikan tentang ayah adalah seorang sosok pejuang. Ketika ada masa Ayah jarang pulang, atau kembali rumahnya namun seringnya di waktu larut malam.

Sementara ketika anak menanyakan keberadaan Sang Ayah, dengan piawai Sang Ibu menceritakan tentang epic-nya kehidupan perjuangan Sang Ayah sedang bersama rekan-rekan seperjuangan melakukan ikhtiar manusiawa mendatangkan sebab-sebab datangnya pertolongan Allah bagi bangsa dan Republik Indonesia.

Beratnya sang ayah yang sedang turut berjuang, sehingga berdampak pada hari-hari yang harus dilalui oleh keluarga seringkali menjadi terasa sulit dan pelik. Namun, Ketika Sang Ibu menjadikan saat-saat terberat menjadi momentum untuk menanamkan jiwa pejuang pada anaknya, itulah seorang Ibu yang sedang memerankan dirinya sebagai seorang pendidik sejati bagi anak-anak di lingkungan keluarga.

Karakter Pejuang

Sangat manusiawi, ketika siapapun yang merasakan pedihnya perjuangan menanyakan, kapan akan datang masa kedamaian. Bahkan gejolak jiwa generasi terbaik yang hidup pada masa Rasulullah SAW diabadikan dalam Al Qur’an.

“…Kapankah datangnya pertolongan Allah? Ketahuilah olehmu, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.” (Q.S. Al-Baqarah: 214)

Ayat ini turun pada waktu perang Khandaq, di mana kaum Muslimin ditimpa kesulitan, keletihan, kelaparan dan bermacam-macam penderitaan. Sedangkan kaum musyrikin memperlihatkan permusuhannya dengan gencar, sehingga para sahabat ada yang mengeluh. Rasul pun bertanya: Kapankah datang pertolongan Allah? Allah menjawab: “Ketahuilah olehmu, bahwa pertolongan Allah itu dekat.”

Bahwa perjuangan melawan kedzaliman adalah jalan Tentara Aqidah dan Tauhid, Jalan Tentara Pemikiran dan cita-cita luhur Bangsa Indonesia. sebagaimana makna yang diuntai oleh Sayyid Quthb dalam FI Dzilalil Qur’an sebelum menjelaskan tafsir dari kalimat ‘menolong’ Allah, mengajukan sebuah pertanyaan,

”Bagaimana cara orang-orang beriman menolong Allah?” Beliau kemudian menjawab sendiri pertanyaannya, “Sesungguhnya mereka memurnikan Allah dalam hati mereka dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu, baik syirik yang nyata maupun yang tersembunyi, serta tidak menyisakan seseorang atau sesuatu pun bersama-Nya didalam dirinya.

Dia menjadikan Allah lebih dicintai dari apapun yang dia cintai serta meneguhkan hukum-Nya dalam keinginan, aktivitas, diam, saat sembunyi-sembunyi, terang-terangan maupun saat malunya, maka Allah akan menolongnya dalam segala urusannya.

Orang-orang yang ‘menolong’ (agama) Allah, dengan tetap istiqamah berjalan di atas jalan-Nya, tidak menyekutukan-Nya, menaati segala perintah-Nya serta menjauhi segala larangan-Nya akan dikokohkan pendiriannya serta diteguhkan jiwanya. Mereka tidak akan berubah sedikit pun sikap, perilaku, serta ketaatannya kepada Allah, meski harus berjuang sekuat tenaga menghadapi serangkaian persoalan hidup yang menderanya.”

Urgensi Kehadiran Ayah

Ketidakhadiran Sang Ayah setiap hari di rumah, karena sedang menjalankan suatu peran keummatan, mencari nafkah, dan sebagainya justru menjadi saat bagi Sang Ayah mendidik jiwa segenap anggota keluarga.

Sementara itu, Sang Ibu menemukan berbagai kesempatan untuk selalu menanamkan keteladanan dan spirit perjuangan Sang Ayah dalam berbagai kesempatan. Misalnya dalam obrolan saat makan dan istirahat bersama, cerita pengantar tidur, mengerjakan berbagai pekerjaan rumah bersama, dan sebagainya, yang disertai suasanai hati sang istri yang memiliki perasaan kasih saying semakin dalam serta cinta tulus kepada suaminya dan anak-anaknya. Meskipun keadaan keluarga sedang mengalami situasi yang dirasa berat.

Alangkah pentingnya kehadiran sosok ayah di tengah kehidupan anak. Dalam beberapa penelitian, telah dibuktikan bahwa keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak sangat penting manfaatnya bagi anak, khususnya dalam hal kognitif, emosi, dan sosial. Manfaat-manfaat tersebut dirasakan oleh anak bahkan hingga dewasa atau remaja (Allen dan Daly, 2002). Selain itu, disebutkan pula bahwa keterlibatan ayah yang baik dapat mengurangi kemungkinan anak melakukan externalizing behavior (Erawati, 2009).

Fathering merupakan peran yang seseorang yang berkaitan dengan anak, bagian dari sistem keluarga, komunitas, dan budaya Lynn (dalam Frogman, 2002). Menurut Cabrerra (2001), keterlibatan ayah adalah konsep multidimensi yang terus berkembang baik dalam segi pengetahuan maupun kesadaran publik.

Bertautan dengan temuan tersebut di atas,  Hawkins (dalam Lamb, 1997) mendefinisikan keterlibatan ayah sebagai sebuah konstruksi multidimensi yang mencakup komponen afektif, kognitif, dan etis, serta komponen tingkah laku yang dapat diobservasi, termasuk juga di dalamnya bentuk keterlibatan secara tidak langsung, seperti mendukung peran ibu dalam pengasuhan dan penyediaan penghidupan bagi keluarga. Keterlibatan ayah adalah perilaku ikut serta secara positif yang dilakukan ayah dalam pengasuhan anaknya (Pleck dalam Hodgins, 2007).

Hadirnya keteladanan dan hadirnya spirit perjuangan Sang Ayah di tengah pengasuhan akan menjadi nutrisi bagi jiwa anak, terutama ketika anak memasuki fase tamyis, yaitu ketika berfungsi akalnya untuk membedakan kebenaran dan keburukan. Yang biasanya akan segera diikuti masa akil-baligh, di mana pada masa itu anak kita mulai memiliki tangung jawab terhadap sikap dan perbuatannya sendiri. Alangkah beruntung jika anak-anak kita mendapatkan nilai-nilai dan jiwa kepemimpinan dari lingkungan terdekatnya, yaitu dari sosok Ayah.

Menurut Bronfenbreuner (Santrock, 2006) ada sejumlah sistem yang berpengaruh terhadap perkembangan anak yaitu mikrosistem, mesosistem, eksosistem, makrosistem dan kronosistem. Salah satu sistem yang paling kuat dan langsung pengaruh-nya terhadap perkembangan anak adalah mikrosistem.

Adapun yang dimaksud dengan lingkungan mikro oleh Bronfenbreuneur adalah situasi lingkungan yang menyebabkan anak dapat melakukan kontak langsung dan saling mempengaruhi. Lingkungan mikro mempunyai peran khusus dalam perkembangan anak, karena dalam mikrosistem ini terdapat unsur orangtua, guru dan juga mencakup kuantitas dan kualitas pengasuhan.

Peran Guru

Betapa kita sangat menghajatkan kehadiran seorang guru inspiratif dalam kehidupan anak-anak kita. Yaitu guru mencintai perannya sehingga melampaui kerja-kerja administratif. Guru yang turut mendidik secara totalitias melampuai program rutinitas. Guru yang turut membantu orang tua untuk lebih mengenali secara lebih jeli buah hati kita. Guru yang turut menumbuh suburkan jiwa anak-anak kita.

Bahwa para pejuang pendidikan di tanah air kita hari ini masih masih banyak yang menemui jalan terjal berupa keterbatasan secara fasilitas, pendanaan, dukungan kebijakan, dan kondisi lingkungan sekitar. Atau sebaliknya, ada beberapa kondisi ada yang memiliki keberlimpahan secara sarana dan prasarana, sehingga menjadikannya sebagai beranda dan sekaligus kebanggaan lembaga, sehingga kurang memperhatikan kekayaan jiwa dan kompetensi para pendidiknya.

Studi yang dilakukan oleh Marzano yang dituangkan dalam buku Classroom Instruction that Works, USA, 2021, menunjukkan bahwa prestasi siswa akan meningkat jika mereka ditangani guru yang efektif, meskipun sekolahnya di bawah rata-rata, bahkan sangat tidak efektif disebabkan kekurangan berbagai fasilitas.

Terlebih lagi jika guru maupun sekolah sama-sama efektif, pengaruhnya akan lebih dahsyat. Sebaliknya, meskipun sekolah terbilang bermutu, prestasi siswa akan merosot jika guru tidak efektif. Artinya, peran guru dalam menciptakan keberhasilan siswa begitu sangat menentukan.

Terutama dalam membentuk karakter seorang murid. Meskipun akses ilmu hari ini begitu mudah didapatkan melalui  teknologi dan digitalasiasi program pembelajaran. Sentuhan jiwa dari pendidik tak kan pernah tergantikan oleh berbgaai perkakas teknologi inforamasi di dunia Pendidikan.

Guru lah yang akan paling mempengaruhi terbentuknya karakter anak kita. Sebab, munculnya karakter bermula dari pikiran dan jiwa yang terbentuk melalui interaksi dengan keteladanan serta suasana batin para pendidik di lingkungan satuan pendidikan tempat tumbuh kembangnya anak kita.

Pada momentum peringatan Hari Guru Nasional 2024, mari kita semakin meneguhkan guru sebagai beranda sekaligus aset yang paling bernilai strategis yang dimiliki oleh Lembaga-lembaga tempat mendidik anak-anak kita. Semoga hari-hari yang dimiliki anak bersama para gurunya, sekaligus menjadi hari terbaik bagi masa depannnya dan masa depan bangsa kita. Amin.

Ditulis oleh ruangkeluarga

Dipublikasikan di RUANG KELUARGA. Media edukasi keluarga, parenting, dan keharmonisan rumah tangga.