Oleh : Ismunandar, S.Pd.I
.
Program keluarga yang sudah memiliki anak seusia sekolah setiap tahun tentu selalu sibuk dengan persiapan untuk memilihkan lembaga pendidikan bagi putra putri tercintanya. Di penghujung tahun pelajaran 2020/2021 ini mereka disibukkan dengan memilih lembaga pendidikan yang menjadi idaman dan cita-cita generasi penerus mereka.
Kebijakan orang tua untuk selalu memprogram anak agar sesuai dengan keinginan orang tua ini yang mungkin menjadi beban tersendiri dalam diri si anak. Tetapi selalu orangtua juga berperan dalam memilihkan pendidikan bagi anak agar tidak keliru dalam memilih lembaga sekolah atau madrasah terbaik.
Hal ini sesuai Firman Allah SWT dalam Kitab Suci Al Qur’an Surat An nisa ayat 9 yang artinya, “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah”.
Orang tua harus mengkhawatirkan kesejahteraan mereka. Terdapat kata Zurriatan Dhi’afan (anak-anak yang lemah) dan Qaulan Sadidan (perkataan yang baik). Namun tidak banyak para ulama menyajikan pengertian kata Zurriatan Dhi’afan dan Qaulan Sadidan secara luas.
Nilai-nilai pendidikan QS. An-Nisa ayat 9 terhadap pengaruh pendidikan orang tua terhadap anak, mengajarkan tentang mengkhawatirkan kesejahteraan anak-anak di belakang mereka apabila mereka telah tiada. Orang tua diperintahkan dalam QS.An-Nisa ini untuk mendidik dan membina anak secara baik dengan memberi mereka bekal dalam menjalani kehidupan di dunia ini dengan memberikan mereka pendidikan aqidah, ibadah, akhlak, keterampilan dan ekonomi agar mereka dapat mandiri dan kuat menjalani kehidupannya.
Tulisan ini lebih memfokuskan pada akhlak atau yang selalu di dengung-dengungkan hari ini tentang pendidikan karkater menjadi mutu manusia sejati. Mengapa hal ini perlu juga diperhatikan hidup kita tidak sendiri tetapi bersama-sama dengan orang lain yang tentu berbeda-beda baik dari suku, agama, ras, bahasa dan sebagainya.
Cermin masyarakat hari ini merupakan hasil pendidikan 20 sampai dengan 30 tahun yang lampau. Lalu bagaimana kondisi bangsa ini di 20 sampai dengan 30 tahun ke depan jika kita tidak membentengi dengan generasi yang cerdas secara intelektual, canggih dalam bidang teknologi namun miskin karakter. Sikap phubbing yang membahayakan generasi kedepan perlu segera dijawab. Jika tidak mereka akan merasakan betapa hilangnya kondisi seperti yang dulu lagi.
Phubbing adalah sebuah tindakan seseorang yang sibuk sendiri dengan gadget di tangannya, sehingga ia tidak perhatian lagi kepada orang yang berada didekatnya. Munculnya generasi egois tak peduli dengan lingkungan dan masyarakat di sekelilingnya. Misalnya ketika terjadi kecelakaan, kebakaran di sekeliling mereka bukan sikap menolong yang di kedepankan namun sibuk selfi. Klik dan share. Apakah ini yang termasuk pendidikan karakter atau dalam bahasa agama dinamakan akhlak.
Hal ini merupakan pilihan kita dalam menerjunkan anak-anak kita saat ini agar mereka tidak terjerembab dalam hal-hal diatas. Mari kita selalu ingatkan pada anak-anak kita untuk selalu mengedepankan karakter yang telah dimiliki bangsa yang besar ini.
Banyak sekali pendidikan karakter yang bisa diambil dari nenek moyang kita baik dari pitutur luhur, pertunjukkan pewayangan yang penuh dengan pesan-pesan moral yang sangan adiluhung. Kita masih ingat dengan perkataan Presiden kita Ir. Soekarno “Jas Merah (jangan sekali-kali melupakan sejarah). Bangsa yang besar adalah bangsa yang mau mempelajari sejarah bangsanya dan menjaga ajaran-ajaran adat ketimuran.
Mari belajar dengan yang sudah dijalankan oleh bangsa Jepang, Kurang canggih apa teknologi mereka tetapi ketika membicarakan tentang budaya Jepang baik dari anak kecil sampai dengan orang dewasa selalu melestarikannya dengan senang hati bukan berfikir kuno atau bukan zamannya lagi. Tetapi mereka tetap maju namun tetap berkarakter seperti: bangsa Jepang dulu.
Negeri ini memiliki potensi jauh lebih besar untuk adab-adab ketimuran yang perlu dijunjung sebagai jati diri bangsa yang besar. Karkater hidup saling asih asuh, gotong royong, bermusyawarah tidak saling menghina dan menjelek-jelekkan antara satu dengan yang lain.
Maka pantaslah jika kita juga harus takut dengan generasi penerus kita 20 sampai dengan 30 tahun yang akan datang akan karakter bangsa ini. Pilihkanlah pendidikan bagi putra putri kita dengan pendidikan yang terbaik.
Siapkanlah lingkungan yang mendukung kesuksesan mereka belajar sehingga pada saatnya nanti ketika sudah dewasa dan mandiri akan menjadi manusia sejati. Atau seringkali disebut manusia yang insan kamil manusia paripurna siap menjadi generasi penerus bangsa yang hebat bermartabat.
Ismunandar, S.Pd.I, guru di MTs Negeri 5 Kulonprogo, nomer HP /WA 081802723015