.
Oleh : Sri Rohmatiah (alumni Kelas Menulis Alineaku)
“Sebuah kebiasaan tidak bisa diciptakan oleh orang lain, hanya diri kita sendiri yang bisa mewujudkannya” –Sri Rohmatiah, 2022.
.
Berbicara tentang seberapa penting membaca dan menulis bagi anak-anak, tentu sangat penting. Membaca dan menulis adalah ilmu yang utama sebelum anak-anak memulai pelajaran lain.
Namun, yang jadi permasalahan, setelah mahir membaca, anak-anak malas untuk menulis. Baik itu menyalin pelajaran atau mengarang cerita. Menulis seakan-akan menjadi momok terbesar melebihi pelajaran matematika.
Hal ini pernah disampaikan anak saya ketika ada tugas mengarang dari gurunya. “Mulai nulis dari mana?”
Saya jadi teringat ketika mulai belajar menulis bersama Pak Cahyadi Takariawan dan Bun Ida Nurlaela. Hambatan itu disampaikan pula oleh beberapa peserta menulis termasuk saya, “Dari mana kita memulai menulis?”
Anak-anak patut berbahagia karena bisa belajar menulis sejak masih belia. Mungkin saya termasuk orang terlambat untuk belajar menulis. Akan tetapi tidak ada kata terlambat dalam belajar. Sepanjang masa, tetap belajar, belajar dan belajar.
Dari mana kita memulai menulis? Sebelum mendapat jawaban sederhana dari saya. Saya ajak sahabat semua mengingat metode pembelajaran yang dikembangkan Charlotte Mason tentang belajar menulis, membaca pada anak.
Language Art, Pelajaran Bahasa
“Tidak ada yang bisa mahir tanpa kebiasaan. Seseorang bisa membaca, menulis karena sering melakukan hal tersebut” –Sri Rohmatiah, 2022.
Sejak anak usia sekolah, mereka sudah dikenalkan dengan namanya language art atau belajar bahsa. Pada fase ini belajar membaca menulis sangat menentukan masa depannya.
Untuk belajar menulis pada anak ataupun orang dewasa perlu menerapkan habit of perfect execution, selalu mengerjakan sesuatu dengan sempurna. Mendapatkan hasil yang baik tentunya harus ada habit training.
Habit training, adalah melatih kebiasaan dalam keseharian. Sebuah kebiasaan tidak bisa diciptakan oleh orang lain, hanya diri kita sendiri yang bisa mewujudkannya. Jika anak belum bisa mengatur waktu yang tepat, orang tua bisa membantunya.
Membuat jadwal kapan membaca kapan menulis setiap harinya, lambat laun akan menjadi sebuah habit. Kita harus menyakini, bahwa tidak ada yang bisa mahir tanpa kebiasaan. Seseorang bisa membaca, menulis karena sering melakukan hal tersebut.
Seseorang mahir mengambil foto, mahir listrik, karena mereka sudah biasa. Jadi habit training juga bisa diterapkan kepada anak-anak saat ingin belajar menulis dan membaca.
Dari Mana Memulai Menulis?
“Seperti yang dikatakan Charlotte Mason, anak belajar narasi tertulis dimulai umur 10 atau 11 tahun” –Sri Rohmatiah, 2022.
Ketika sudah membuat jadwal menulis pada anak agar tercipta habit training, anak-anak masih tidak tahu bagaimana menulis dengan baik dan benar. Untuk memulai menulis, anak-anak harus digiring untuk melakukan beberapa hal berikut :
Pertama, ajak anak untuk membaca buku
Membaca. Anak bisa disodorkan buku bacaan yang sesuai dengan usianya, misalnya pelajaran atau buku kisah. Dengan membaca akan memantik kreativitas anak dan memiliki bahan untuk dituliskan.
Walaupun dengan adanya referensi, anak tidak akan melakukan plagiat, karena setiap anak itu unik. Mereka memiliki gaya sendiri dalam bermain kata. Sentuhan jari-jarinya akan sangat berbeda dengan pengarang aslinya.
Kedua, ajak anak membuat narasi
Saya perhatikan, salah satu SMP Negeri yang ada di Madiun menerapkan siswanya untuk membawa buku bacaan setiap hari Jum’at. Sebelum masuk ke kelas, seluruh siswa wajib membaca buku yang mereka bawa. Bukan saja membaca, siswa pun harus menulisaknya kembali dengan bahasa mereka sendiri.
Seperti yang dikatakan Charlotte Mason, anak belajar narasi tertulis dimulai umur 10 atau 11 tahun. Pada awal menulis, tentunya banyak kesalahan dan itu tidak perlu dikoreksi, karena butuh beberapa tahun lagi untuk bisa mahir.
Pak Cahyadi mengatakan, menulis semudah bernapas. Hal ini bisa diterapkan juga kepada anak-anak. Biarkan anak menulis seperti dia bernafas, tak perlu irama dalam menulis.
Jika menulis dari hasil membaca terasa sulit, bisa ajak anak-anak menulis dari aktivitasnya sehari-hari. Mungkin dulu kita sering mengenalnya menulis diary.
Ide di atas juga bisa kita terapkan bukan kepada anak saja. Orang dewasa pun harus memiliki habit training. Semoga bermanfaat.
.

Sri Rohmatiah adalah ibu rumah tangga, pebisnis, dan penulis produktif di Kompasiana. Telah menghasilkan dua buku “Kalau Berbeda Lalu Kenapa?” dan “Isyarat Cinta Penuh Makna”. Tinggal di Madiun. Alumni Kelas Menulis Online (KMO) Alineaku, dan Kelas Emak Punya Karya batch 2. Ia juga menjadi Presiden Komunitas Emak Produktif (KEPO).