Kembali
Dunia Penulis

Penulis Generalis, Spesialis, atau Subspesialis?

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

Di bidang kedokteran, dikenal ada dokter umum, dokter spesialis, bahkan subspesialis. Dokter umum adalah tenaga medis profesional yang melayani perawatan dan pengobatan terhadap kondisi kesehatan yang bersifat umum. Dokter spesialis menangani perawatan dan pengobatan untuk kondisi yang lebih spesifik. Subspesialis lebih sempit lagi bidang garapnya.

Misalnya kita mengenal dokter spesialis bedah, kemudian ada dokter subspesialis bedah saraf. Ada dokter spesialis penyakit dalam, kemudian dikenal ada subspesialis geriatri, dan seterusnya. Subspesialis menangani bidang yang amat sangat spesifik.

Dalam dunia menulis, kita juga bisa membagi menjadi tiga kategori, berdasarkan tema yang dipilih.

Pertama, Penulis Generalis

Penulis generalis, menulis semua jenis tema. Mereka tidak menulis pada satu tema tertentu, namun pada aneka tema, sesuai selera. Dalam dunia jualan online, dikenal istilah palugada —apa yang lu minta, gua ada.  

Penulis jenis ini, bisa jadi karena tengah proses belajar, sehingga menulis tema apapun yang mudah dan yang melintas di benaknya. Namun bisa pula, sebagai sebuah pilihan sadar. Mereka sadar memilih menjadi generalis. Ini sah-sah saja.

Mereka yang secara sadar memilih generalis, tentu memiliki kemampuan yang hebat. Mereka bisa menulis fiksi maupun nonfiksi. Bisa menulis berbagai macam topik dan tema, sehingga menuntut wawasan yang sangat luas. Pengetahuan mereka meluas, dan ini menguntungkan dalam pergaulan.

Kedua, Penulis Spesialis

Penulis spesialis, memilih satu tema tertentu untuk menjadi branding dirinya di bidang penulisan. Ada yang spesialis menulis tema pendidikan, ekonomi, politik, olahraga, wisata, kuliner, keluarga, pernikahan, parenting, hobi, teknologi, kesehatan, budaya, lingkungan, pemerintahan, militer, ideologi, filsafat, dan lain sebagainya.

Penulis jenis kedua ini, bisa jadi karena memiliki pengetahuan yang terbatas pada satu tema tertentu saja. Mereka tidak memiliki banyak wawasan, pengetahuan mereka terbatas hanya pada satu tema yang ditekuni. Namun bisa jadi, itu menjadi pilihan sadar.

Mereka sadar harus memilih satu tema, agar bisa lebih fokus dan lebih expert di satu tema. Kelebihannya, akan lebih mudah dikenal dan diakses oleh pihak yang memerlukan tema tersebut.

Ketiga, Penulis Subspesialis

Penulis subspesialis adalah kelompok yang sangat mendalam pengetahuannya tentang satu tema. Mereka ini seakan-akan pemilik ‘otoritas’ pada sebuah tema yang amat sangat sempit. Menulis hanya pada satu titik fokus dari spesialisasi.

Misalnya, Oryza A. Wirawan adalah jenis penulis subspesialis. Ia fokus menulis tentang sepakbola. Nah! Jika Furman Bisher adalah penulis spesialis tema olah raga, maka masih sangat luas cakupannya. Namun jika khusus menulis sepakbola, ini kelas subspesialis.

Ayah Irwan Rinaldi adalah jenis subspesialis. Ia fokus menulis tentang tema ayah. Jika Mohammad Fauzil Adhim adalah spesialis parenting, maka cakupan parenting masih luas. Begitu Ayah Irwan konsentrasi menulis seputar ayah, maka cakupan temanya sedemikian sempit.

Menjadi penulis jenis ketiga, bisa jadi karena memang pengetahuan yang terbatas pada satu subtema yang sangat sempit itu, namun bisa juga karena pilihan. Ada orang memilih menekuni satu subtema yang sempit, karena hal itu yang menjadi minatnya.

Pilih Saja, dan Nikmati Prosesnya

Jangan bingung menentukan pilihan. Anda boleh memilih menjadi generalis, spesialis atau subspesialis. Kita bisa menentukan pilihan, dan menjalani proses kepenulisan sesuai pilihan sadar. Setiap penulis memiliki alasan masing-masing atas pilihannya.

Anda dikatakan generalis, spesialis atau subspesialis, tergantung mana yang paling banyak Anda tulis. Misalnya Anda memiliki 100 tulisan di sebuah blog. Jika 80 % tulisan Anda bercorak spesialis, maka Anda adalah penulis spesialis. Sisanya, sebanyak 20 %, bisa Anda gunakan untuk ‘menyimpang’, dengan menulis tema-tema lain.

Artinya, untuk menjadi spesialis atau subspesialis tidak berarti harus 100 % menulis pada spesialisasi tersebut. 80 % sudah menjadi angka yang bagus untuk menyatakan bahwa Anda adalah seorang spesialis atau subspesialis.

Semua pilihan, memiliki kelebihan dan kekurangan. Selalu ada plus minusnya. Maka tak perlu bingung. Jalani saja prosesnya, dan nikmati.

Ditulis oleh Cahyadi Takariawan

Dipublikasikan di RUANG KELUARGA. Media edukasi keluarga, parenting, dan keharmonisan rumah tangga.

Dunia Penulis

Penulis Generalis, Spesialis, atau Subspesialis?

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

Di bidang kedokteran, dikenal ada dokter umum, dokter spesialis, bahkan subspesialis. Dokter umum adalah tenaga medis profesional yang melayani perawatan dan pengobatan terhadap kondisi kesehatan yang bersifat umum. Dokter spesialis menangani perawatan dan pengobatan untuk kondisi yang lebih spesifik. Subspesialis lebih sempit lagi bidang garapnya.

Misalnya kita mengenal dokter spesialis bedah, kemudian ada dokter subspesialis bedah saraf. Ada dokter spesialis penyakit dalam, kemudian dikenal ada subspesialis geriatri, dan seterusnya. Subspesialis menangani bidang yang amat sangat spesifik.

Dalam dunia menulis, kita juga bisa membagi menjadi tiga kategori, berdasarkan tema yang dipilih.

Pertama, Penulis Generalis

Penulis generalis, menulis semua jenis tema. Mereka tidak menulis pada satu tema tertentu, namun pada aneka tema, sesuai selera. Dalam dunia jualan online, dikenal istilah palugada —apa yang lu minta, gua ada.  

Penulis jenis ini, bisa jadi karena tengah proses belajar, sehingga menulis tema apapun yang mudah dan yang melintas di benaknya. Namun bisa pula, sebagai sebuah pilihan sadar. Mereka sadar memilih menjadi generalis. Ini sah-sah saja.

Mereka yang secara sadar memilih generalis, tentu memiliki kemampuan yang hebat. Mereka bisa menulis fiksi maupun nonfiksi. Bisa menulis berbagai macam topik dan tema, sehingga menuntut wawasan yang sangat luas. Pengetahuan mereka meluas, dan ini menguntungkan dalam pergaulan.

Kedua, Penulis Spesialis

Penulis spesialis, memilih satu tema tertentu untuk menjadi branding dirinya di bidang penulisan. Ada yang spesialis menulis tema pendidikan, ekonomi, politik, olahraga, wisata, kuliner, keluarga, pernikahan, parenting, hobi, teknologi, kesehatan, budaya, lingkungan, pemerintahan, militer, ideologi, filsafat, dan lain sebagainya.

Penulis jenis kedua ini, bisa jadi karena memiliki pengetahuan yang terbatas pada satu tema tertentu saja. Mereka tidak memiliki banyak wawasan, pengetahuan mereka terbatas hanya pada satu tema yang ditekuni. Namun bisa jadi, itu menjadi pilihan sadar.

Mereka sadar harus memilih satu tema, agar bisa lebih fokus dan lebih expert di satu tema. Kelebihannya, akan lebih mudah dikenal dan diakses oleh pihak yang memerlukan tema tersebut.

Ketiga, Penulis Subspesialis

Penulis subspesialis adalah kelompok yang sangat mendalam pengetahuannya tentang satu tema. Mereka ini seakan-akan pemilik ‘otoritas’ pada sebuah tema yang amat sangat sempit. Menulis hanya pada satu titik fokus dari spesialisasi.

Misalnya, Oryza A. Wirawan adalah jenis penulis subspesialis. Ia fokus menulis tentang sepakbola. Nah! Jika Furman Bisher adalah penulis spesialis tema olah raga, maka masih sangat luas cakupannya. Namun jika khusus menulis sepakbola, ini kelas subspesialis.

Ayah Irwan Rinaldi adalah jenis subspesialis. Ia fokus menulis tentang tema ayah. Jika Mohammad Fauzil Adhim adalah spesialis parenting, maka cakupan parenting masih luas. Begitu Ayah Irwan konsentrasi menulis seputar ayah, maka cakupan temanya sedemikian sempit.

Menjadi penulis jenis ketiga, bisa jadi karena memang pengetahuan yang terbatas pada satu subtema yang sangat sempit itu, namun bisa juga karena pilihan. Ada orang memilih menekuni satu subtema yang sempit, karena hal itu yang menjadi minatnya.

Pilih Saja, dan Nikmati Prosesnya

Jangan bingung menentukan pilihan. Anda boleh memilih menjadi generalis, spesialis atau subspesialis. Kita bisa menentukan pilihan, dan menjalani proses kepenulisan sesuai pilihan sadar. Setiap penulis memiliki alasan masing-masing atas pilihannya.

Anda dikatakan generalis, spesialis atau subspesialis, tergantung mana yang paling banyak Anda tulis. Misalnya Anda memiliki 100 tulisan di sebuah blog. Jika 80 % tulisan Anda bercorak spesialis, maka Anda adalah penulis spesialis. Sisanya, sebanyak 20 %, bisa Anda gunakan untuk ‘menyimpang’, dengan menulis tema-tema lain.

Artinya, untuk menjadi spesialis atau subspesialis tidak berarti harus 100 % menulis pada spesialisasi tersebut. 80 % sudah menjadi angka yang bagus untuk menyatakan bahwa Anda adalah seorang spesialis atau subspesialis.

Semua pilihan, memiliki kelebihan dan kekurangan. Selalu ada plus minusnya. Maka tak perlu bingung. Jalani saja prosesnya, dan nikmati.

Ditulis oleh Cahyadi Takariawan

Dipublikasikan di RUANG KELUARGA. Media edukasi keluarga, parenting, dan keharmonisan rumah tangga.