Kembali
Keluarga

Pertanyaan-pertanyaan Tidak Relevan dalam Ta’aruf Menjelang Pernikahan

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

 

 

Pada dasarnya ta’aruf hanyalah salah satu upaya untuk menemukan kecocokan untuk menuju kepada pernikahan. Agar pernikahan benar-benar dilandasi dengan kerelaan, bukan atas dasar keterpaksaan. Dengan demikian akan memudahkan membentuk keluarga yang harmonis dan bahagia, hingga akhir hayat tiba.

Meskipun proses ta’aruf dilakukan dalam rangka untuk saling mengenali, mendalami, mencermati dan menganalisa kondisi calon pasangan, bukan berarti semua hal layak ditanyakan. Ada beberapa jenis pertanyaan yang tidak patut atau tidak layak untuk ditanyakan, karena menjadi aib seseorang yang ingin dikubur dan ditutup rapat-rapat.

Bisa jadi bukan karena aib, namun karena pertanyaan tersebut tidak relevan untuk ditanyakan dalam proses menuju pernikahan. Apa saja pertanyaan yang tidak penting atau tidak layak atau tidak relevan untuk ditanyakan dalam proses ta’aruf?

Beberapa poin berikut ini, selayaknya tidak ditanyakan kepada calon pasangan. Hal ini demi menjaga kebaikan sepanjang proses menuju pernikahan yang penuh berkah.

  1. Bagaimana masa lalu kamu?

Bagi sebagian orang, mengenang masa lalu adalah menyakitkan, maka ia telah menguburnya sangat dalam. Apalagi bagi mereka yang pernah mengalami trauma, menceritakan masa lalu adalah beban. Oleh karena itu, meminta calon pasangan menceritakan masa lalu –apalagi dengan detail, tidaklah relevan dalam proses ta’aruf.

Mengapa demikian? Karena sesungguhnya Anda akan menikahi seseorang pada masa sekarang dan masa yang akan datang. Anda tidak menikahi seseorang di masa lalunya.

Maka mempertanyakan masa lalu, meminta calon pasangan menceritakan semua kejadian dengan detail, tidak patut dan tidak relevan dan proses menuju pernikahan. Cukuplah Anda mengajak calon pasangan untuk membangun kehidupan yang lebih baik di masa yang akan datang, dengan meninggalkan semua hal yang buruk.

“Kamu dulu narkoba ya?”

“Kamu dulu suka nge-drug dan mabok ya?”

“Kamu dulu biasa ke lokalisasi ya?”

Pertanyaan seperti sangat tidak sopan dan tidak relevan ditanyakan saat ta’aruf.

  1. Apakah kamu pernah pacaran?

Pertanyaan seperti ini sensitif pada beberapa kalangan dan tidak relevan untuk ditanyakan. Istilah pacaran menjadi sangat liar pemaknaannya, tergantung latar belakang dan pemahaman masing-masing.

Ada orang yang menganggap, munculnya rasa senang secara khusus dalam interaksi antara laki-laki dan perempuan, sudah dianggap sebagai pacaran. Ada yang memahami, pacaran itu jika sampai melakukan kontak fisik antara laki-laki dan perempuan. Nah, tidak ada Andas standar dari istilah pacaran.

Pada sebagian orang, ditanya tentang pacar adalah aib yang hendak dikuburkan. Jika ia bercerita, artinya membangkitkan hal-hal yang sudah ingin dikuburkan. Apalagi jika bertanya secara detail tentang pacar, seperti :

“Berapa orang mantan pacar kamu?”

“Siapa saja nama mantan pacar kamu?”

“Anda dulu ngapain saja dengan pacar-pacar kamu?”

“Berapa kali kamu melakukan hubungan seks dengan para pacar terdahulu?”

Itu semuanya pertanyaan yang tidak patut dan tidak relevan untuk ditanyakan pada saat ta’aruf. Ingat, Anda akan menikahi menikahi seseorang pada masa sekarang dan masa yang akan datang. Anda tidak menikahi seseorang di masa lalunya.

  1. Apakah ada mantan pacar yang masih kamu sukai hingga saat ini?

Saking penasarannya dengan para mantan pacar, ada yang bertanya tentang mantan yang masih disenangi hingga hari ini. Sungguh ini pertanyaan tidak patut dan tidak relevan ditanyakan.

Mungkin alasannya adalah untuk menjajagi kalau-kalau calon pasangan hidupnya masih menyimpan rasa dengan seseorang. Namun pertanyaan seperti itu sangat mendalam dan bahkan menukik ke perasaan.

Yang lebih perlu Anda pertegas adalah komitmen calon pasangan Anda untuk menjalani hidup Anda tanpa beban masa lalu. Tanpa harus mendetailkan soal mantan dan perasaan, namun yang penting sama-sama berkomitmen untuk menjalani kehidupan pernikahan dengan sepenuh hati dan perasaan. Masing-masing harus “menyelesaikan” masa lalu masing-masing.

“Dari duapuluh mantan pacar kamu itu, yang mana yang masih kamu sukai?”

“Siapa saja nama mantan kamu yang masih ada rasa di hati?”

Aduh, enggak banget deh pertanyaan kayak gini.

  1. Apakah ada mantan pacar yang masih menyukai kamu hingga saat ini?

Pertanyaan ini pun tidak kalah sensitifnya jika diungkapkan. Menelisik hingga persoalan seperti ini tidak relevan dengan keinginan untuk membangun masa depan keluarga yang harmonis dan bahagia.

Bisa saja seseorang memiliki masa lalu dan para mantan, namun dalam sebuah proses ta’aruf, seluruh masa lalu itu sudah ditinggalkan. Jika belum meninggalkan para mantan, bagaimana bisa memutuskan untuk ta’aruf?

Asumsi yang sangat mendasar dari proses ta’aruf adalah, seorang lelaki dan seorang perempuan sudah berniat membangun hubungan hingga menuju pernikahan. Ta’aruf dilakukan dalam rangka mendapatkan kecocokan dan kemantapan hati. Bukan dalam rangka membanding-bandingkan antara person yang tengah menjalani ta’aruf dengan para mantan. Maka mempertanyakan apakah masih ada mantan yang menyukai dirinya, sungguh tidak relevan.

“Siapa saja mantan kamu yang masih suka ngeganggu?”

“Dari semua mantan, apakah ada yang masih ingin kembali kepada kamu?”

Pertanyaan yang seperti ini tidak relevan untuk disampaikan.

  1. Apakah kamu masih perawan?

Terdengar seperti petir menggelegar, jika perempuan baik-baik ditanya seperti itu. Bagi beberapa kalangan perempuan, itu pertanyaan yang melecehkan. Namun bagi sebagian yang lainnya, itu sangat sulit untuk mendapatkan jawaban. Sesungguhnya, pertanyaan soal keperawanan itu tidak relevan, karena menyangkut sesuatu yang terjadi di masa lalu.

Pada prinsipnya, semua masa lalu yang buruk harus dikubur dengan taubat nasuha. Calon suami maupun calon istri sejak memasuki proses menuju pernikahan, harus memperbaiki diri secara total untuk menyambut kehidupan berumah tangga yang penuh tanggung jawab. Kubur semua keburukan masa lalu, lakukan taubat secara rutin sampai bersih jiwa Anda, sehingga memasuki pernikahan dalam keadaan jiwa yang baru.

“Apakah selaput dara kamu masih utuh?”

“Kapan pertama kali kamu melepas keperawananmu?”

“Dengan siapa kamu melakukannya”.

Sungguh tidak etis!

  1. Apakah kamu masih perjaka?

Pertanyaan ini adalah imbangan dari pertanyaan sebelumnya. Sebagaimana tidak relevan untuk mempertanyakan keperawanan, demikian juga tidak relevan untuk mempertanyakan keperjakaan.

Hal-hal aib dan sensitif seperti itu harus dikuburkan dengan melakukan taubat nasuha secara rutin. Tidak perlu mengungkit soal keperawanan dan keperjakaan, lebih penting untuk membuat komitmen kehidupan yang lebih baik di  masa yang akan datang.

Sekali lagi, sesungguhnya Anda akan menikahi seseorang pada masa sekarang dan masa yang akan datang. Anda tidak menikahi seseorang di masa lalunya. Lebih penting untuk merancang kebaikan di masa depan, bukan mempersoalkan hal-hal yang telah berlalu.

“Apakah kamu benar-benar masih perjaka?”

“Kapan pertama kali kamu melepas keperjakaanmu?”

“Dengan siapa kamu melakukannya”.

Sungguh tidak etis!

  1. Berapa ukuran pakaian dalammu?

Mempertanyakan hal-hal “dalaman” atau aurat yang selama ini ditutup dengan busana muslim, adalah tabu. Bukan berarti dilarang secara fiqih, karena pertanyaan sensitif seperti itupun masih ada kebolehannya jika memang proses tersebut benar-benar untuk mengambil keputusan menikah. Namun relevansinya apa?

Ukuran besar atau kecilnya “dalaman” itu sangat relatif, dan bukan faktor utama pembentuk kebahagiaan keluarga. Maka selain tidak relevan, juga tidak penting untuk ditanyakan.

  1. Seperti apa bentuk tubuhmu?

Pertanyaan yang ini pun masuk bagian yang tabu. Meminta menggambarkan bagian-bagian tubuh yang masuk wilayah aurat kepada calon pasangan, tidak relevan untuk dilakukan.

Walaupun maksudnya untuk menjadi bahan pertimbangan dalam memutuskan, namun harus diingat bahwa keelokan bentuk tubuh itu sangat relatif, dan bukan faktor utama pembentuk kebahagiaan keluarga. Maka selain tidak relevan, juga tidak penting untuk ditanyakan.

Nah, yang paling penting dalam ta’aruf adalah komitmen melakukan proses kebaikan bersama, menuju kondisi yang lebih baik. Suami dan istri nantinya bersedia untuk terus menerus memperbaiki diri dan menjaga kebaikan pasangan. Agar dari waktu ke waktu semakin meningkat kesalihan dan kesalihahan diri serta semakin meningkat ketaqwaan kepada Allah.

Semoga semakin subur pula cinta kasih di antara mereka, dan semakin banyak keberkahan yang mereka dapatkan dalam kehidupan pernikahan.

 

 

.

Ilustrasi foto : www.hipwee.com

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ditulis oleh Cahyadi Takariawan

Dipublikasikan di RUANG KELUARGA. Media edukasi keluarga, parenting, dan keharmonisan rumah tangga.