Kembali
Dunia Buku

Proses Layout Buku Antologi

.

Ayuk Membuat Buku Antologi – 13

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

Setelah naskah selesai diedit, tahap berikutnya adalah layout. Yang dimaksud dengan layout adalah menata teks, foto dan elemen lain dalam format sebuah buku. Setelah layout selesai dikerjakan, buku sudah siap untuk dicetak.

Dengan demikian, saat proses layout berlangsung, semua bahan sudah harus selesai. Tugas layouter adalah menata semua bahan untuk menjadi buku yang indah, menarik, dan nyaman dibaca.

Seakan layout hanya soal teknis, padahal perannya sangat besar. Sebagus apapun isi tulisan, jika layout berantakan, membuat penampilan buku tidak indah dan tidak nyaman untuk dibaca. Pastikan naskah buku antologi dilayout secara profesional oleh pihak yang ahli di bidangnya.

Layouter tidak hanya dituntut memiliki penguasaan software berbagai program image editor. Namun dituntut pula memiliki jiwa seni sehingga bisa bekerja menampilkan hasil akhir yang artistik bahkan futuristik. Tidak sekedar menata teks menjadi urutan dalam halaman demi halaman buku, namun membuatnya menjadi indah dilihat dan nyaman dibaca.

Ada banyak program yang biasanya digunakan untuk layout huku, seperti Adobe Photoshop dan Corel Photo Paint. Ada pula program vector graphic, seperti Corel Draw, Adobe Illustrator, dan Freehand. Ditambah lagi dengan program lain seperti QuarkXpress, Adobe Pagemaker, dan Adobe Indesign.

Proses layout sangat erat dengan seni komposisi warna. Selama ini dikenal empat model warna dalam proses pencetakan, yaitu bitmap, grayscale, RGB (Red, Green, Blue) dan CMYK (Cyan, Magenta, Yellow, Black). Buku bisa diatur untuk menjadi penuh warna, sehingga memberikan tampilan yang indah menawan.

contoh layout buku

Empat Prinsip Layout

Sebagaimana telah disebutkan, layout bukan sekedar pekerjaan menata teks ke dalam halaman-halaman buku. Lebih dari itu layout adalah proses visi dan juga seni. Layouter harus mengetahui isi atau tema buku, untuk disesuaikan dengan gaya layoutnya. Apakah bergaya formal, minimalis, ramai atau bahkan rumit.

Membuat buku akademik, berbeda layoutnya dengan buku populer. Membuat buku novel, berbeda layout dengan buku pelajaran. Membuat buku perenungan tentang kematian dan hari akhir, berbeda dengan buku humor. Layouter harus benar-benar memahami jenis buku yang dikerjakan.

Biasanya, dalam layout buku menggunakan empat prinsip berikut.

  1. Sequence, yaitu prinsip urutan atau aliran, yang akan memudahkan pembaca untuk mengurutkan pandangannya. Prinsip ini membuat buku nyaman dan mudah dibaca.
  2. Emphasis, yaitu prinsip memberikan penekanan tertentu pada layout sebagai strategi untuk menarik untuk perhatian. Di sinilah letak jiwa seni seorang layouter sangat berperan.
  3. Balance, yaitu prinsip mengatur keseimbangan, antara simetris dan asimetris. Terkadang sebuah buku justru menuntut desain yang asimetris, untuk menciptakan penampilan yang unik dan berbeda.
  4. Unity, yaitu prinsip kesatuan atau keseluruhan, secara fisik maupun non fisik. Layouter harus mampu memasukkan pesan dari isi buku menjadi konsep desain layout.

Elemen-Elemen Layout Buku

Sebuah buku, tidak hanya berisi teks. Ada elemen-elemen lain yang bisa menjadi penguat dan pelengkap pesan, sekaligus memperindah tampilan. Di antara elemen buku adalah :

  1. Teks naskah, inilah elemen utama dari buku antologi
  2. Foto, menjadi elemen yang menjadi penguat pesan sekaligus memberikan daya tarik.
  3. Artwork, merupakan elemen berupa berbagai jenis karya seni, baik berupa ilustrasi, kartun, sketsa, dan lain sebagainya.
  4. Kotak, lingkaran, atau bentuk lainnya, adalah elemen untuk memasukkan pesan yang dikhususkan, seperti quotes.
  5. Point, adalah suatu daftar atau list yang terdiri dari beberapa baris berurutan ke bawah.
  6. Elemen warna menjadi bagian penting dalam layout, dengan memadukan atau kombinasi warna yang serasi.

Siapa yang Melakukan Layout Buku Antologi?

Jika buku antologi diterbitkan dengan model self publishing, semua pekerjaan produksi harus ditangani sendiri oleh tim kerja yang telah dibentuk sejak awal oleh inisiator. Namun jika buku diterbitkan oleh penerbit mayor maupun penerbit indi, semua proses produksi sudah ditangani oleh tim yang dimiliki oleh pihak penerbit.

Jika menerbitkan buku melalui penerbit mayor, semua proses produksi dikerjakan oleh penerbit. Pihak inisiator dan para penulis tinggal memantau prosesnya. Demikian pula pada penerbit indi, mereka menyediakan jasa proses pracetak komplit, dengan ketentuan harga, tentu saja.

Jika buku diterbitkan secara self publishing, yaitu melalui lembaga percetakan, bukan penerbitan, maka tim kerja harus menangani sendiri. Sebagian bertugas melakukan layout, sebagian bertugas membuat cover depan maupun belakang, sebagian membuat ilustrasi untuk tambahan isi buku, dan lain sebagainya. Ketika semua sudah siap dalam bentuk format sebuah buku siap cetak, tinggal dibawa ke percetakan.

Bisa pula dipercayakan kepada pihak layouter profesional yang bekerja secara freelance. Mereka bisa membantu untuk melakukan layout buku, sesuai dengan keinginan pihak pemesan. Maka harus disampaikan dengan detail keinginan dari tim antologi, agar bisa dipahami oleh layouter.

Selamat berkarya, selamat mengubah dunia.

Ditulis oleh ruangkeluarga

Dipublikasikan di Ruang Menulis. Kanal kreasi naskah, literasi, dan karya tulis terpilih.