Puasa Menumbuhkan Rasa Empati dan Jiwa Sosial

Puasa Menumbuhkan Rasa Empati dan Jiwa Sosial

🌻🌻🌻

Seri Hikmah Puasa

Puasa Menumbuhkan Rasa Empati dan Jiwa Sosial

@ummurochimah

 

Di antara hikmah puasa yang lain adalah hikmah ijtima’iyah (hikmah yang bernilai sosial), terlebih lagi puasa di bulan Ramadhan.

Rasulullah saw adalah contoh pelopor seorang yamg dermawan. Beliau selalu berada di garis depan dalam hal kedermawanan.

Berikut kisah kedermawanan Rasulullah saw yang patut kita jadikan teladan.

Aisyah berkata: “Suatu hari, ketika sakit, Rasulullah saw menyuruhku bersedekah dengan uang tujuh dinar yang disimpannya di rumah. Setelah menyuruhku bersedekah, beliau lalu pingsan. Ketika sudah siuman, Rasulullah saw bertanya kembali: ‘Uang itu sudah kau sedekahkan?‘ ‘Belum, karena aku kemarin sangat sibuk,’ jawabku. Rasulullah bersabda, ‘Mengapa bisa begitu, ambil uang itu!’.

Begitu uang itu sudah di hadapannya, Rasulullah saw lalu bersabda, ‘Bagaimana menurutmu seandainya aku tiba-tiba meninggal, sementara aku mempunyai uang yang belum aku sedekahkan? Uang ini tidak akan menyelamatkan Muhammad seandainya ia meninggal sekarang, sementara ia mempunyai uang yang belum disedekahkan’.” (HR Ahmad).

Ibadah puasa Ramadhan mewajibkan setiap manusia merasakan lapar, meskipun mereka mampu dan kaya yang tidak mungkin akan mendatangkan kelaparan bago dirinya. Namun kewajiban puasa menuntut mereka untuk berlapar-lapar di siang hari, sehingga mereka dapat merasakan apa yang diderita oleh kaum fakir dan miskin.

Al Allamah Ibnul Hammam berkata, “Sesungguhnya seseorang berpuasa dia akan merasakan pedihnyarasa lapar di sebagian waktunya, sehingga ia akan teringat bagaimana kalau rasa lapar itu terus menerus. Dengan itu pada dirinya akan timbul rasa empati kepada kaum fakir miskin.”

Setelah muncul rasa empati dalam diri manusia yang berpuasa, maka kemudian akan tumbuh dalam dirinya jiwa sosial, suka menolong dan berbagi. Secara khusus Rasulullah memberikan petunjuk mengenai sikap sosial ini dalam sabdanya, “Barangsiapa memberi jamuan buka puasa kepada ekpada orang yang berpuasa, maka ia mendapat pahala seperti pahalanya (orang yang berpuasa) itu, tanpa mengurangi sedikit pun pahala orang yang berpuasa tersebut.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban)

Hikmah sosial dalam ibadah puasa ini menunjukkan bahwa proses ibadah puasa yang dilakukan oleh manusia tidak hanya berdimensi vertikal yaitu hubungan dengan Allah (hablum minallah), namun juga memiliki dimensi horisontal, yaitu hubungan sesama manusia (hablum minannas)

Rasulullah secara lebih spesifik memberikan contoh teladan kedermawanan selama bulan Ramadhan, sebagaimana tertuang dalam salah satu haditsnya, “Rasulullah saw adalah orang yang paling dermawan, dan sifat dermawannya itu lebih menonjol pada bulan Ramadhan, yakni ketika ia ditemui malaikat Jibril.” (HR Bukhari)

Suasana puasa dapat mendorong orang untuk melakukan aktifitas untuk membantu orang lain dan melakukan kebaikan-kebaikan yang bernilai sosial, yang pada saatnya nanti akan menumbuhkan nilai-nilai sosial dalam diri seseorang.

Kekuatan puasa Ramadhan dalam menghidupkan atau memperkuat nilai-nilai hidup sosial dicapai melalui proses pengulangan. Setiap tahun, dalam sebulan ada masa untuk kembali melakukan proses aktivasi menumbuhkan rasa empati dan jiwa sosial ini. Pengulangan yang terus menerus akanmemberi dampak yang relatif menetap dalam diri seseorang, hingga pada tataran tertentu dapat menjadi sebuah habit atau kebiasaan. Aktifitas beribadah puasa dan amal sosial selama puasa pada akhirnya akan menguatkan nilai sosial dan nilai keagamaan dalam diri seseorang.

 

Wallahu’alam

15 Ramadhan 1442H

 

#ramadhanmenulis

#menuliskebaikan

#30daywriting

Ummu Rochimah

Tinggalkan Balasan