Puasa Menumbuhkan Semangat Syukur

Puasa Menumbuhkan Semangat Syukur

🌻🌻🌻

Seri Hikmah Puasa

Puasa Menumbuhkan Semangat Syukur

@ummurochimah

 

Di antara sekian banyak hikmah puasa ialah dapat menumbuhkan semangat bersyukur terhadap nikmat yang telah Allah anugrahkan kepada manusia.

Begitu banyaknya nikmat yang telah Allah berikan terkadang membuat seseorang lupa akan nilai nikmat tersebut, betapa besar dan banyaknya nilai itu. Ketika nikmat itu telah menghilang dari dalam diri, biasanya barulah seseorang itu merasakan betapa tingginya nilai nikmat itu.

Orang yang sehat seringkali baru merasakan nilai sehat manakala ia sakit. Orang yang lapang tidak akan merasakan nikmatnya lapang kecuali saat ia dilanda kesempitan.

Seorang yang lapar dan dahaga pasti akan merasakan nikmat kenyang dan minum manakala ia sudah makan sepotong roti atau meneguk segelas air. Oleh karena itu seorang yang makan dan minum setelah mengalami rasa lapar dan dahaga seringkali secara spontan ia akan berkata, “Alhamdulillah.”

Inilah yang diisyaratkan Rasulullah dalam sebuah hadits, “Rabb-ku pernah menampakkan kepadaku untuk membuat sungai Mekkah yang berisi emas, kemudian aku berkata (kepada-Nya), ‘Jangan wahai Rabb-ku, tetapi aku (ingin) merasa kenyang sehari dan merasa lapar sehari. Sebab bila aku lapar, aku merendah sambil berdo’a dan berdzikir kepada-Mu, dan bila aku kenyang aku akan bertahmid dan bersyukur kepada-Mu” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

Ibnu Qoyim Al Jauziyah dalam kitabnya  Madarijus Salikin mengatakan bahwa, syukur merupakan tempat persinggahan yang paling tinggi bagi seorang hamba. Dan syukur adalah separuh iman, melengkapi separuh lainnya, yaitu sabar. Jadi, syukur dan sabar adalah satu kesatuan dalam keimanan.

Orang yang pandai bersyukur adalah mereka yang dapat mengambil manfaat dan pelajaran dari ayat-ayat Allah, baik yang tersurat -tertulis dalam Al Quran- maupun ayat yang tersirat, -penciptaan alam semesta dan yang terhampar di muka bumi-

Syukur dilandaskan pada lima sendi, yaitu orang yang bersyukur tunduk kepada yang disyukuri, mencintai Allah, mengakui nikmat Allah, memuji Allah karena nikmat itu dan tidak menggunakan nikmat itu untuk melakukan sesuatu yang dibenci Allah. Inilah landasan syukur yang harus sempurna dimaknai oleh manusia.

Apa perbedaan syukur dan pujian?

Di dalam hadits disebutkan, “Pujian adalah pangkal syukur. Siapa yang tidak memuji Allah, maka dia tidak bersyukur kepada Allah.” Syukur merupakan pengakuan terhadap nikmat, pujian kepada Allah karena nikmat itu dan mengamalkan nikmat sesuai ridha Allah.

Seorang yang diberi nikmat kesehatan oleh Allah, akan bersyukur dengan menjaga dirinya dari hal-hal yang dapat merusak kesehatannya, misala dengan tidak makan yang berlebihan atau minuman yang dapat merusak organ tubuh.

Orang yang diberi nikmat harta berlimpah akan senantiasa melakukan hal-hal yang dapat mendekatkan dirinya kepada Allah lewat hartanya, misal dengan bersedekah.

Syukur memiliki tiga derajat, yaitu :

Pertama, mensyukuri hal-hal yang disukai. Ini merupakan syukur yang paling umum dan mudah, bisa dilakukan oleh siapa saja.

Kedua, syukur karena mendapatkan sesuatu yang dibenci. Ini bisa dilakukan oleh orang-orang yang tidak terpengaruh oleh keadaan, tetap mengutamakan keridhaan Allah. Hanya orang yang tak bisa membedakan berbagai keadaan, mampu menahan amarah, tidak mudah mengeluh, dan selalu memperhatikan adab dan ilmu. Inilah jalan menuju surga lewat pintu syukur.

Bersyukur saat mendapatkan sesuatu yang dibenci tentulah bukan hal yang mudah. Tetap bersyukur kepada Allah manakala berada dalam kesempitan, atau tetap bersyukur saat Allah berikan sakit dan kekurangan harta tentu menjadi lebih sulit ketimbang mensyukuri hal-hal yang disukai.

Orang yang mampu melakukan ini adalah mereka yang tidak peduli bagaimanapun keadaan yang menimpanya saat itu, kecuali berharap keridhaan Allah atas keadaannya. Ia tetap bersyukur dengan cara menahan amarah dan tidak berkeluh kesah atas keadaan yang menimpanya.

Ketiga, hamba yang tidak memperlihatkan kecuali Pemberi nikmat. Apa pun yang diberikan oleh Sang Pemberi nikmat adalah sesuatu yang agung dan besar, tidak layak untuk dipertanyakan besar kecilnya. Semua yang diberikan akan terasa manis sekalipun itu adalaj kesusahan atau kesempitan. Inilah derajat syukur tertinggi yang hanya mampu dilakukan oleh orang-orang yang mencinta Allah di atas segalanya.

Syukur adalah pangkal kebahagiaan hidup manusia. Mereka yang pandai bersyukur hingga mencapai derajat tertinggi dalam kesyukuran selama menjalani kehidupan di dunia, maka ia akan mendapatkan kebahagiaan hakiki. Kehidupannya akan diliputi dengan penuh makna, merasakan kelimpahan nikmat yang begitu luas dan banyak menyelimuti dirinya, hingga tidak ada celah baginya untuk berkeluh kesah atau meratapi kesulitan hidup yang dihadapi.Syukur adalah pangkal kebahagiaan hidup manusia. Mereka yang pandai bersyukur hingga mencapai derajat tertinggi dalam kesyukuran selama menjalani kehidupan di dunia, maka ia akan mendapatkan kebahagiaan hakiki. Kehidupannya akan diliputi dengan penuh makna, merasakan kelimpahan nikmat yang begitu luas dan banyak menyelimuti dirinya, hingga tidak ada celah baginya untuk berkeluh kesah atau meratapi kesulitan hidup yang dihadapi.

Wallahu’alam

 

7 Ramadhan 1442H

#ramadhanmenulis

#menuliskebaikan

#30daywriting

Ummu Rochimah

Tinggalkan Balasan