Kembali
Ruang Tamu

“Rugi Kalau Gak Ikut”, Emang Emak Paling Keren!

.

Oleh : Leni Cahya, ID – 01601 EEPK 2020

.

Bermula dari sebuah ‘klik’an iseng. Disusul tawaran serius untuk bergabung di kelas menulis online. Aku asal jawab saja “saya daftar.”

Lalu kesungguhan pun diuji. Semula masih setengah hati, antara “lanjut” atau “berhenti”. Tapi bisikan impian masa lalu menarikku untuk melaju. Bertahanlah aku di Non Fiksi Batch 30.

Sebuah godaan datang lagi. Bernama Antologi Batch 8. Dengan percaya diri akupun bergabung. Ingin mengasah lebih tajam, senjata pena yang baru didapat. Sebuah pemanasan menuju cita-cita memiliki buku solo.

Tapi lagi-lagi godaan datang, lewat seorang sahabat bernama Yessy Eria. Kuingat kalimat yang akhirnya mengukuhkan ragu di hati, “Rugi kalau ga ikut”.

Hanya empat kata, tapi membakar gelora. Was-was yang memenuhi relung hati segera disingkirkan.

Bismillah, semoga saat ini waktu yang tepat. Biidznillah, semoga impian memiliki buku solo telah menemukan jalannya yang benar.

Akulah Emak yang terakhir gabung di grup Emak-Emak Punya Karya (EEPK) 2020. Sambutan ramah menyapa.

Wadow… Ga nyangka. Aku sedikit malu, layaknya anak baru yang telat masuk. Beruntung aku sudah ‘kenal’ Pak Cah di grup sebelah. Rasa pede pun sedikit terangkat.

Selesai pertemuan Zoom ketiga Pak Cah tak mau basa-basi lagi. Gebrakan dimulai…

“Emak-Emak, yang belum bikin chalenge ga usah kerjakan. Sekarang langsung outline”

Wadoww… Ada rasa suka, lebih banyak kedernya. Ampuuun… Aku kan belum manasin mesin, masa harus langsung kebut??

Emak-Emak sudah banyak posting outline, ketika diintip, bagus semua. Aku makin keder. Bagaimana ini? Deadline makin dekat. Aku makin grogi.

Aku sudah punya bayangan tentang tulisanku, bikin outlinenya otakku buntu. Yang lain sudah di suruh gaspol. Aku masih pusing tujuh keliling.

Tak mau menyerah. Aku punya senjata terakhir. Maka outline pun jadi, meski beberapa kali revisi. Alhamdulillah. Atau aku harus mengatakan Bismillah?

Sesungguhnya, inilah awal mula cerita akan menjadi sebuah keabadian. Ya keabadian dalam sebuah karya bernama ‘buku’.

Bersama Emak-Emak hebat yang membakar semangat. Mak Ida Kus kompor paling hot. Mak Yulia bikin gerah hati. Mak Yessy diam-diam telah berlari. Sang Arsitek Peradaban sungguh menginspirasi.

Tiga puluh lebih Mak lainnya selalu mengamati. Menyimak setiap informasi. Menyerapnya untuk dijadikan amunisi.

Lalu ….

Dorrr!!

Sepuluh ribu karakter sehari! Aku lagi-lagi terkesiap. Gregetan setengah mati.

Benar-benar ini grup bikin blingsatan. Sang Arsitek pernah berkoar, “Harga kali ini bohong. Ekonomis. Kualitas juara!”

Ditulis oleh Cahyadi Takariawan

Dipublikasikan di Ruang Menulis. Kanal kreasi naskah, literasi, dan karya tulis terpilih.