Saat Belajar itu Sukanya Dia

Saat Belajar itu Sukanya Dia

Oleh: Ida Kusdiati

Pandemi covid 19, dunia pendidikan salah satu yang terimbas dimana seluruh kurikulum pendidikan langsung menyesuaikan dengan kondisi yang ada, SFH dengan belajar daring jadi pilihan.

Hal ini mau tidak mau atau siap tidak siap harus diterima, maka menjelmalah orang tua menjadi guru bagi ananda di rumah.

Tantangan yang paling dirasakan sulit adalah pada jenjang pendidikan PAUD. Karena di usia ini pola bermain sambil belajar dengan kesabaran sebagai ujung tombak keberhasilan mutlak dituntut.

Sementara orang tua yang WFH maupun yang harus ngantor tentu saja belum memiliki model pembelajaran terpola layaknya sekolah formil kecuali orang tua yang sudah terbiasa dengan home schooling.

Salah satu orang tua itu adalah saya. Azka si bungsu usia 5 tahun seharusnya sudah masuk TK.A tahun ini, namun dari awal tahun pembelajaran sudah SFH daring. Bersyukur dari sekolah memiliki metode pembelajaran daring dan bahan serta materi pembelajaran yang sudah disiapkan dan itu sangat membantu.

Kesulitannya adalah anak merasakan aura “rumah” berbeda dengan “sekolah”. Aroma individualitas kental saat SFH berlangsung. Azka butuh kesabaran lebih jika ingin dia duduk manis dan belajar dan itu hanya bisa bertahan paling lama 10 menit.

Sehingga kami harus pintar melihat saat dimana mood untuk belajarnya hadir maka saat itulah melesatkan seluruh energi memberi yang terbaik padanya sehingga hasil pembelajarannya bisa optimal.

Contoh pagi ini saat sibuk dengan cuci piring di dapur, Azka datang dengan buku bacaannya.

“Mama, dengerin Azka membaca. Mama jangan lihat Azka dengerin aja,” ocehnya dengan sangat pede.

“Siap, Azka mama dengerin silahkan dimulai,” jawabku tanpa menoleh karena sudah permintaannya terus aja kerja.

Kulirik dari sudut mataku dia mulai membuka buku membaca untuk TK.A dan mulai mengeja, “a b c d e f g (sampai huruf q ejaan bahasa Indonesia) lanjut r dan seterusnya dalam ejaan bahasa Inggris sampai z.”

“Lancar kan, Ma ?” ucapnya dengan nada bangga.
“Lancar sih, Az … tapi kok pakai 2 ejaan ya r dan seterusnya tadi mama dengar Azka pakai bahasa Inggris,” ujarku dengan nada sedikit protes.

“Duh Mama, sukanya Azka aja deh. Lagian itu karena gigi Azka ompong,” jawabnya sambil nyengir mempertontonkan giginya yang semakin menghilang bagian atasnya bak gerbang terowongan.

“Hah … apa hubungannya, Az?” ujarku lagi sambil ngakak habis.
“Ya hubung-hubungkan aja, Ma,” jawabnya tegas dan ngeloyor pergi jengkel dengan komentarku.

“Udah ah Azka mau belajar sendiri saja,” ocehnya sambil terus saja membaca buku itu dengan gayanya sendiri.

Aku masih tak henti tertawa kecil sambil geleng kepala dan melanjutkan cucian piringku. Azka memang luar biasa, meski ada buku khusus membaca huruf hijaiyyah dari sekolah dia lebih memilih buku “Iqro” namun cara bacanya sama persis dengan lagu yang diajarkan Ustazah di G- Meet.

So, saya memilih ikuti saja cara Azka yang penting tujuan pembelajaran membuatnya dari tidak tahu menjadi tahu dan Azka memahami pembelajarannya serta yang paling penting Azkanya bahagia.

Wallahu’alam

ruangkeluarga

Tinggalkan Balasan