Kembali
Edukasi

Saat di Dunia Dianggap Menderita, Kelak di Akhirat Membuat Iri Semua Manusia

.

Oleh: Cahyadi Takariawan

Apa yang Anda pikirkan pertama kali, setiap menyaksikan orang-orang yang mengalami musibah berat?  “Kasihan, tidak tega, betapa berat penderitaannya…” Begitu umumnya orang memandang musibah yang menimpa beberapa kalangan manusia.

Ini tentu respon yang wajar dan manusiawi. Karena tak seorangpun ingin mendapat musibah, dan kita tidak dibolehkan untuk meminta atau berharap agar mendapat musibah. Semua manusia menghendaki kehidupan yang damai, aman, nyaman, sentosa dan bahagia.

Contoh musibah yang tak pernah diinginkan terjadi pada manusia adalah kemiskinan, kegagalan, sakit parah, penyakit berat, kecelakaan, kekalahan, dan yang semacamnya. Kita merasa kasihan melihat orang miskin, dan tak ingin “menderita” seperti mereka. Kita kasihan melihat orang yang terkena penyakit ganas, dan berharap tak mengalami seperti dia.

Kita iba melihat bangkrutnya sebuah usaha. Kita tidak tega menyaksikan teman kita mengalami kegagalan dan kekalahan. Begitulah kita selalu merasa kasihan, tidak tega, dan iba menyaksikan berbagai musibah yang dialami orang-orang di sekitar kita.

Namun rupanya, kondisinya sangat berubah setelah kita berpindah ke alam akhirat. Semua musibah yang saat di dunia kita tak ingin mendapatkannya, justru akhirnya diirikan oleh banyak manusia.

Saat di dunia kita berharap hidup baik-baik saja tanpa mengalami musibah berat dan berbagai penderitaaan atau kesengsaraan lainnya. Namun di akhirat, banyak manusia iri dengan mereka yang ditimpa banyak penderitaan saat hidup di dunia.

Kondisi ini diberitakan oleh Nabi saw dalam sabda beliau,

ﻳَﻮَﺩُّ ﺃَﻫْﻞُ ﺍﻟْﻌَﺎﻓِﻴَﺔِ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ ﺃَﻥَّ ﺟُﻠُﻮﺩَﻫُﻢْ ﻗُﺮِﺿَﺖْ ﺑِﺎﻟْﻤَﻘَﺎﺭِﻳﺾِ ﻣِﻤَّﺎ ﻳَﺮَﻭْﻥَ ﻣِﻦْ ﺛَﻮَﺍﺏِ ﺃَﻫْﻞِ ﺍﻟْﺒَﻼَﺀِ.

”Manusia pada hari kiamat menginginkan kulitnya dipotong-potong dengan gunting ketika di dunia, karena mereka melihat betapa besarnya pahala orang-orang yang tertimpa cobaan di dunia” (HR. Baihaqi).

Ternyata musibah adalah rahmat Allah. Musibah adalah kasih sayang Allah. Melalui musibah yang diberikan kepada manusia, Allah menghendaki pengampunan dosa. Allah berkehendak memberikan kedudukan mulia bagi hamba yang ridha dan sabar atas musibah yang dialaminya.

Nabi saw bersabda,

مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ وَصَبٍ وَلاَ نَصَبٍ وَلاَ سَقَمٍ وَلاَ حَزَنٍ حَتَّى الْهَمِّ يُهَمُّهُ إِلاَّ كُفِّرَ بِهِ مِنْ سَيِّئَاتِهِ

“Tidaklah seorang mukmin tertimpa suatu musibah berupa rasa sakit (yang tidak kunjung sembuh), rasa capek/kelelahan, rasa sakit, rasa sedih, dan kekhawatiran yang menerpa melainkan dosa-dosanya akan diampuni” (HR. Muslim no. 2573).

Beliau saw juga bersabda,

مَا مِنْ شَىْءٍ يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ فِى جَسَدِهِ يُؤْذِيهِ إِلاَّ كَفَّرَ اللَّهُ عَنْهُ بِهِ مِنْ سَيِّئَاتِه

“Tidaklah suatu musibah menimpa jasad seorang mukmin dan itu menyakitinya melainkan Allah akan menghapuskan dosa-dosanya” (HR. Ahmad 4: 98. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth berkata bahwa sanadnya sahih sesuai syarat Muslim).

Inilah di antara rahmat Allah yang turun melalui musibah. Allah berkehendak mengampuni dosa-dosa hamba melalui musibah yang ditimpakan kepada mereka. Jika hamba bersabar dan ridha terhadap musibah yang dialaminya, serta selalu berpikiran atau berprasangka baik kepada Allah.

Kelak di akhirat, semua hamba yang mendapat pengampunan Allah melalui lantaran musibah dunia, akan sangat berbahagia. Meskipun di dunia tampak menderita dan dikasihani banyak manusia. Namun di akhirat membuat iri semua manusia.

Ditulis oleh ruangkeluarga

Dipublikasikan di RUANG KELUARGA. Media edukasi keluarga, parenting, dan keharmonisan rumah tangga.