Oleh : Cahyadi Takariawan
Semua perempuan sangat senang mendengar tiga kata yang diucapkan oleh kekasih hatinya, “I love you”. Namun ada tiga kata yang lebih menyenangkan hati kaum perempuan, yaitu “Saya terima nikahnya”. Ya, itulah kalimat sakral yang dalam pernikahan, yang menandakan pihak pengantin laki-laki sudah menjawab kalimat ijab yang diucapkan oleh ayah dari pengantin perempuan. Dengan tiga kata inilah mereka sah dan halal sebagai suami dan istri.
“Saya terima”, adalah inti dari kalimat qabul yang diucapkan setiap lelaki di saat akad nikah, kepada ayah kandung atau wali dari pihak pengantin perempuan. Tanpa kalimat qabul, maka tidak ada pernikahan, walaupun ada kalimat ijab dari ayah kandung penganting perempuan. Maka kalimat “saya terima” menjadi pernyataan sakral yang berkonsekuensi hukum —baik hukum agama maupun hukum negara— dan berdampak panjang, bukan hanya urusan dunia, namun sampai akhirat.
Nah, bagi kalian pengantin laki-laki, saat mengucapkan kalimat “Saya terima nikahnya”, sadarkah kalian, sebenarnya, apa yang sudah kalian terima dari pernyataan tersebut? Ingatlah bahwa kalimat dalam akad nikah tersebut berupa janji yang harus kalian tepati. Kalimat qabul adalah janji laki-laki yang harus dibawa sampai mati. Kalimat qabul adalah janji yang akan dimintai pertanggungjawaban. Maka sadari sepenuhnya konsekuensi dari kalimat “saya terima” ini.
Coba renungkan baik-baik. Konsekuensi dari penerimaan (qabul) yang kalian ucapkan tersebut, sangatlah dahsyat. Saya akan detailkan konsekuensi “saya terima” yang kalian ucapkan saat akad nikah.
(1)
“Saya terima”. Saya terima pernikahan ini. Putri bapak benar-benar saya jadikan istri. Saya akan menjadi suami yang bertanggung jawab.
(2)
“Saya terima”. Saya terima amanah ini. Putri bapak akan saya nafkahi. Putri bapak akan saya jaga dan saya lindungi.
(3)
“Saya terima”. Saya terima dirinya apa adanya. Putri bapak, akan saya cintai dan saya sayangi sepenuh hati.
(4)
“Saya terima”. Saya terima dia dengan berbagai kelebihan dan kekurangannya. Putri bapak, tidak akan saya sakiti.
(5)
“Saya terima”. Saya terima konsekuensi dari akad nikah ini. Putri bapak, akan selalu saya perlakukan sebagai belahan jiwa dan kekasih hati.
(6)
“Saya terima”. Saya terima pertanggungjawaban ini. Putri bapak, akan aman di samping saya, tak akan ada yang bisa mencederai dan melukai.
(7)
“Saya terima”. Saya terima perjanjian ini. Putri bapak akan saya bimbing dan saya pimpin dengan kelembutan dan kasih sayang. Putri bapak akan saya ajak meraih ridha Ilahi.
(8)
“Saya terima”. Saya terima dirinya, dan saya tidak akan menyesali. Putri bapak, akan saya bahagiakan sejak di dunia hingga di surga nanti.
Masyaallah, berat ya? Nikmati saja.
Sudah siap dengan semua konsekuensi ini? Harus siap, dan harus bisa dinikmati. Jadikan penerimaan ini sebagai kemuliaan. Jadikan penerimaan ini sebagai kehormatan kalian sebagai laki-laki yang dipercaya. Jadikan penerimaan ini sebagai kebanggaan sebagai laki-laki yang diterima. Jadikan penerimaan ini sebagai kebahagiaan yang sempurna dalam kehidupan kalian.