.
Oleh : Cahyadi Takariawan
.
Pada saat Buya Hamka (1908 – 1981) menulis buku Si Sabariah pada tahun 1928, saya yakin beliau tidak bermaksud untuk memahat diri sebagai legenda. Beliau hanya berkarya. Tak terasa, perjalanan waktu dan tempaan kehidupan membuat beliau semakin produktif berkarya.
Tahun 1929 beliau menulis Adat Minangkabau dan Agama Islam. Tahun 1932 beliau menulis novel Laila Majnun. Tahun 1936 beliau menulis Di Bawah Lindungan Ka’bah. Tahun 1937 beliau menulis Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Tahun 1939 beliau menulis Di Dalam Lembah Kehidupan, tahun dimana beliau menerbitkan sekitar lima buku.
Tahun 1940 beliau menulis Merantau ke Deli. Tahun 1946 beliau menulis Di Dalam Lembah Cita-cita. Ini tahun dimana beliau menulis sekitar tujuh buku dan menerbitkan satu majalah. Tahun 1950 beliau menulis Ayahku, tahun dimana beliau menulis lebih dari empat belas buku. Dan tinggalan paling legendaris adalah Tafsir Al-Azhar Juz 1 sampai 30, yang ditulis pada masa dipenjara di era Soekarno.
Sekarang, hampir 40 tahun semenjak wafatnya, karya-karya gemilang beliau terus dicetak ulang. Buku-buku beliau telah menjadi legenda. Bagi umat Islam di Indonesia, kitab Tafsir Al-Azhar adalah salah satu rujukan memahami Al-Qur’an yang ditulis oleh ulama asli ‘dalam negeri’. Ini sangat jarang. Rata-rata kitab tafsir adalah hasil terjemahan.

Yang Penting Terus Berkarya
Tak perlu berpikir menjadi legenda. Sebab Buya Hamka juga tak berharap menjadi legenda. Yang bisa kita lakukan adalah terus berkarya. Biarlah waktu yang membuktikannya.
Kita hanya butuh disiplin diri. Setiap hari. Menyusun huruf menjadi kata. Menyusun kata menjadi kalimat. Menyusun kalimat menjadi paragraf. Menyusun paragraf menjadi bab. Menyusun bab menjadi buku. Menyusun buku menjadi ladang amal dan kemanfaatan.
Seperti yang dinyatakan oleh David Safford (2017), “Pride says you must be a master writer now. The truth is, you just need to practice”. Anda tidak mungkin menjadi legenda sekarang, namun Anda bisa menjadi penulis sekarang.
Yang Anda perlukan untuk menjadi seorang master dalam bidang kepenulisan adalah disiplin terus menulis. Tak mungkin Anda mahir dan lancar, tanpa disiplin menulis setiap hari. “The mark of a successful writer isn’t their talent, but their discipline to write” (David Safford, 2017).
Lihat yang dilakukan oleh mereka yang disiplin, pasti akan tampak hasilnya. Syaikh Dr. Yusuf Qardhawi tetap konsisten menulis setiap hari di usia yang sudah 94 tahun saat ini. Beliau meluangkan waktu dari pagi hingga malam hari untuk menulis. Lebih dari 200 buku telah beliau lahirkan, dan kini tengah menyusun seratus jilid ensiklopedia.
Peraih Nobel 2003 bidang sastra kelahiran Afrika Selatan, J.M. Coetzee biasa mengalokasikan setidaknya satu jam di meja tulisnya setiap pagi. Ia konsisten melakukan rutinitas menulis setiap pagi, di sela kesibukan dan kegiatan yang ia jalani sehari-hari. Konsistensi diri menghasilkan prestasi. Wajar saja penghargaan Nobel berhasil diraihnya.
Stephen King memiliki rutinitas menulis yang ajeg setiap hari. Dia memiliki waktu yang ajeg untuk menulis. Duduk di kursi yang sama, dengan peralatan yang selalu diletakkan di tempat yang sama, menyediakan hal-hal yang sama di meja kerjanya.
“Ada hal-hal tertentu yang saya lakukan jika saya duduk untuk menulis”, ujar King. “Saya sediakan segelas air atau secangkir teh hangat. Saya duduk dari pukul 8.00 sampai 8.30 di suatu tempat setiap pagi”. Ia menulis setiap pagi dengan disiplin. Wajar jika ia bisa menghasilkan karya-karya kelas dunia.
Inilah yang dinyatakan oleh Jim Collins, bahwa kedisiplinan akan membentuk tanggung jawab. “In a culture of discipline, people do not have jobs; they have responsibilities,” ujar Collins. Anda akan menjadi menulis sebagai salah satu tanggung jawab pribadi, maka Anda akan selalu melakukannya setiap hari.
Memang memerlukan kesabaran. “Developing this discipline takes time and sacrifice over many months and years”, ungkap Safford. Disiplin harus diperjuangkan berbulan bulan bahkan mungkin bertahun tahun. Sampai Anda sudah menikmati proses menulis, dan menulis telah menjadi jati diri.
Mari ciptakan disiplin dalam diri. Harus menulis setiap hari. Ketekunan Anda, kebetahan Anda, ketelatenan Anda, akan membuahkan hasil yang membuat Anda bahagia.
Bahan Bacaan
David Safford, Writing Discipline: Why Talent Isn’t Enough (And What You Need Instead), https://thewritepractice.com/
Jim Collins, A Culture of Discipline, www.jimcollins.com
Now Novel, Writing Discipline: 7 Strategies to Keep Writing Your Novel, www.nownovel.com
Anonim, Daftar Karya Buya Hamka, www.hajibuyahamka.blogspot.com, Juli 2009