–Bagian 2 dari 5 Tulisan
Oleh : Cahyadi Takariawan
“66 percent of cheating men report feeling guilt during the affair” –Gary Neuman, 2008.
Selingkuh tidak terjadi secara tiba-tiba. Proses interaksi dan komunikasi yang rutin dan intens bisa menyebabkan kecocokan hati serta perasaan di antara dua makhluk yang berlainan jenis. Ketika kecocokan itu sudah mulai dirasakan kedua belah pihak, akan membawa perubahan perilaku pada keduanya.
Perubahan perilaku itu sesungguhnya bisa menjadi sarana deteksi dini yang harus dikenali oleh pasangan, agar hubungan tidak menjadi semakin jauh dan semakin menjurus kepada selingkuh yang “membabi buta”. Selingkuh tipe ini sudah tidak bisa diingatkan lagi dan sudah tidak mempan dengan nasihat, bahkan rela meninggalkan keluarga demi si dia yang menjadi pasangan selingkuhannya.
Selingkuh adalah dosa dan kesalahan. Apapun alasannya, selingkuh tak bisa dibenarkan. Jika kita mencoba memahami alasan-alasan perselingkuhan, adalah agar bisa mencegah dan menghindarinya. Bukan untuk membenarkan dan memakluminya.
Mari coba kita pahami, sejumlah alasan mengapa terjadi perselingkuhan. Selingkuh bukan dimensi tunggal, maka harus dilihat dari sangat banyak sisi.
Alasan-alasan Spiritual dalam Perselingkuhan
Perselingkuhan bisa mudah terjadi, pada mereka yang tidak memiliki basis spiritualitas dalam dirinya. Tak ada kendali spiritualitas menyebabkan seseorang hanya memiliki pandangan material. Selingkuh dianggap kenormalan dalam mencari kesenangan. Pelepas kepenatan dalam kerja dan berumah tangga.
- Lemah Iman dan Takwa
Selingkuh adalah tindakan menyimpang. Hanya dilakukan oleh mereka yang lemah iman dan takwanya atau tengah menurun kadar keimanan dan ketakwaannya. Orang beriman dan bertakwa selalu takut kepada Allah dan mampu mengendalikan hawa nafsu.
وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى ﴿٤٠﴾
“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya” (QS. An-Nazi’at : 40).
Maka jangan pernah menyepelekan aktivitas ibadah dan pendekatan diri kepada Allah untuk menjaga dan meningkatkan keimanan. Iman dan takwa adalah benteng paling utama untuk keharmonisan dan kebahagiaan keluarga.
- Meremehkan Ajaran Syariat
Syariat Islam telah memberi aturan dan batas-batas dalam interaksi antara laki-laki dan perempuan nonmahram. Misalnya, aturan tentang ghadhul bashar, larangan khalwat, larangan bersentuhan kulit yang menimbulkan syahwat, dan lain sebagainya.
Allah berfirman,
قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ
”Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, ’Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.’” (QS. An-Nur : 30).
Ibnu Katsir menjelaskan makna ayat di atas,
هذا أمر من الله تعالى لعباده المؤمنين أن يغضوا من أبصارهم عما حرم عليهم، فلا ينظروا إلا إلى ما أباح لهم النظر إليه ، وأن يغضوا أبصارهم عن المحارم
“Ini adalah perintah dari Allah Ta’ala kepada hamba-hambaNya yang beriman untuk menjaga (menahan) pandangan mereka dari hal-hal yang diharamkan atas mereka. Maka janganlah memandang kecuali memandang kepada hal-hal yang diperbolehkan untuk dipandang. Dan tahanlah pandanganmu dari hal-hal yang diharamkan”.
Jika ajaran mulia tersebut diremehkan dan tidak dilaksanakan, maka akan memudahkan terjadinya penyimpangan dan pelenggaran yang lebih jauh.
‘Antarah bin Syaddad, seorang penyair di zaman jahiliyah menyatakan:
وَأَغُضُّ طَرْفِي مَا بَادَتْ لِي جَارَتِي
حَتَّى يُوَارِيَ جَارَتِي مَأْوَاهَا
“Dan akupun terus menundukkan pandanganku tatkala tampak istri tetanggaku sampai masuklah dia ke rumahnya”.
Syaikh Abdurrazzaq bin Abdilmuhsin Al-‘Abbad menyatakan, ”Inilah salah satu perbuatan mulia yang dipraktekkan oleh orang pada zaman jahiliyah, namun yang sangat memprihatinkan justru kaum muslimin di zaman sekarang meninggalkannya.”
- Tidak Menjalankan Arahan Nabi saw
Nabi saw memberikan arahan kepada kaum laki-laki saat mendapatkan ketergodaan. Pesannya jelas : kembali kepada keluarga. Jika arahan ini tidak dijalankan, yang muncul adalah penyelewengan.
إِذَا رَأَى أَحَدُكُمُ امْرَأَةً فَأَعْجَبَتْهُ فَلْيَأْتِ أَهْلَهُ فَإِنَّ مَعَهَا مِثْلَ الَّذِي مَعَهَا
“Bila engkau melihat seorang perempuan, lalu ia memikat hatimu, maka segeralah datangi istrimu. Sesungguhnya, istrimu memiliki seluruh hal yang dimiliki oleh perempuan yang engkau lihat itu.” (HR. At-Tirmidzi).
- Terpedaya Godaan Setan
Salah satu bentuk godaan setan adalah “tazyin” yaitu memperindah. Membuat sesuatu yang tidak halal menjadi tampak indah menawan dan menggairahkan.
Allah berfirman:
وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Dan setan pun menampakkan kepada mereka keindahan apa yang selalu mereka kerjakan” (QS. Al-An’am: 43)
Ibnu Katsir menjelaskan makna (QS. Al-Hijr: 39), “Aku jadikan mereka suka dan gemar kepada maksiat, menguatkan dan membantu mereka dengan sungguh-sungguh.”
زُيِّنَ لَهُمْ سُوٓءُ أَعْمَٰلِهِمْ
“(Setan) menjadikan mereka memandang baik perbuatan mereka yang buruk itu.” (QS. Al-Taubah: 37)
Imam Ibnu Jauzi dalam kitab Shaidul Khatir menjelaskan, “Terkadang seorang laki-laki melihat seorang perempuan yang tampak lebih cantik dari istrinya. Dalam benaknya, yang muncul hanya hal-hal yang indah dan menarik dari perempuan itu. Pikirannya hanya berisi sisi-sisi baik perempuan itu. Lalu ia pun berusaha menikahinya”.
“Jika keinginannya itu tercapai, perempuan itu telah menjadi istrinya, ia pun mulai melihat kekurangan yang selama ini tidak tampak dan tak pernah terpikirkan. Ia pun kemudian merasa bosan. Ada penyesalan dalam dirinya”.
“Ternyata istri kedua ini kurang bagus agamanya, atau cintanya jauh dari sempurna, atau kurang bisa mengurus rumah tangga. Sehingga keindahan yang tadinya dibayangkan tenggelam oleh kekurangan yang kini tampak nyata”.
“Karena itu, seyogyanya laki-laki berakal selalu berkonsentrasi pada istrinya saja. Ia mengajak dan memfasilitasi istri untuk mempercantik diri. Setelah itu pejamkan mata dari mencari-cari kekurangannya. Insya Allah hatinya tenteram,” demikian ungkapan Imam Ibnul Jauzi.
BERSAMBUNG.
Bahan Bacaan
Abu Al Hamd Rabi’, Baitul Muslim Al Qudwah, Era Adicitra Intermedia, 2015
Abdul Wahhab Hamudah, Manajemen Rumah Tangga Nabi Saw, Pustaka Hidayah, 2002
Cahyadi Takariawan, Wonderful Love, Era Adicitra Intermedia, 2018
Gary Neuman, The Truth About Cheating, Wiley, 2009
Jasim Badr Al-Muthawwi, Menggapai Cinta Suami Isteri, Citra Islami Press, 1997
Nicole Yorio & Lindsey Palmer, The Truth About Why Men Cheat, https://www.today.com, 17 Oktober 2008