.
Oleh : Cahyadi Takariawan
.
Saya berharap teman-teman segera menyelesaikan bahan tulisan untuk menjadi buku mandiri. Terutama pada penerima tantangan SHSB (Seratus Hari Satu Buku). Dalam waktu seratus hari, teruslah menulis hingga semua bahan selesai dituliskan.
Setelah selesai proses menulis, Anda memasuki langkah kedua, yaitu mengedit tulisan sendiri. Sudah saya tulis dalam postingan sebelumnya, bahwa editing ada dua jenis. Pertama editing substansi, yaitu mengedit isi tulisan. Kedua editing substansi, yaitu mengedit secara teknis kepenulisan.
Mengedit dalam Bentuk Lembaran Fisik
Kali ini saya akan sharing tentang proses mengedit buku yang biasa saya lakukan. Ketika bahan buku sudah selesai saya tulis, saya segera lakukan print out semua bahan tersebut. Saya orang yang lebih cepat mengedit dalam kertas, ketimbang mengedit dalam laptop atau gadget.
Jika buku itu tebal, misalnya sampai 300 halaman atau lebih, saya biasa membendel print out bahan buku tersebut per bab atau per bagian. Misalnya, buku saya setebal 300 halaman terdiri dari lima bab. Maka print out dibagi lima bendel. Tiap bab menjadi satu bendel sendiri.
Mencoret-coret di Kertas
Saya menggunakan bulpen warna warni. Biasanya merah, biru dan hitam. Proses editing pertama saya gunakan bulpen berwarna hitam. Jika ada bagian salah, saya tandai dengan bulpen warna hitam. Sampai semua bagian selesai editing pertama, dengan warna hitam.
Setelah selesai editing tahap satu, saya kembali lagi melakukan editing dimulai dari bagian pertama lagi. Kali ini saya menggunakan bulpen warna biru. Setaip ada bagian yang salah, atau perlu perubahan, saya corat coret dengan bulpen warna biru. Sampai semua bagian selesai saya edit. Ini namanya editing kedua.
Setelah itu saya ulangi lagi mengedit, dimulai dari bagian pertama. Kali ini saya menggunakan bulpen warna merah. Setiap kali menemukan hal yang salah atau perlu diubah, saya corat coret dengan bulpen berwarna merah. Sampai semua bagian selesai saya edit. Ini namanya editing ketiga.
Setelah tiga kali saya edit seluruh bagian naskah, maka saya segera kembali ke laptop atau komputer. Semua coretan, catatan, perubahan yang sudah saya lakukan dengan bulpen warna hitam, biru dan merah itu, saya terapkan pada naskah asli di laptop. Proses ini memerlukan ketelitian tingkat tinggi.
Perlu Orang Lain untuk Mengedit
Nah, meskipun sudah diedit tiga kali oleh penulisnya sendiri, bukan berarti sudah tidak ada kesalahan. Tetap saja akan ditemukan kesalahan. Hal ini disebabkan karena kita membaca naskah tulisan sendiri, yang kita mengerti maksudnya, sehingga ketika ada kalimat atau kata yang tidak tepat, kita tetap mengerti maksudnya.
Inilah subyektivitas penulis. Maka kita memerlukan orang lain untuk mengedit naskah kita. Jika Anda tidak ingin menggunakan jasa editor profesional, Anda bisa melibatkan orang-orang terdekat untuk membantu melakukan editing tulisan Anda.
Anda bisa minta tolong kepada suami / istri, anak-anak, atau teman-teman dekat, untuk membantu melakukan editing. Misalnya, ada dua anak Anda yang bisa membantu. Naskah yang sudah Anda edit tiga kali itu, Anda print out lagi dan Anda berikan kepada dua anak tersebut.
Kedua anak tersebut melakukan editing sampai tiga kali, memeriksa seluruh bagian naskah Anda. Setelah mereka selesai melakukan editing, maka hasil corat coret yan mereka lakukan di kertas, Anda bawa ke laptop. Anda lakukan proses perbaikan sesuai catatan kedua anak tersebut.
Cara Manual vs Cara Profesional
Yang saya ceritakan di atas adalah editing dengan cara manual dan tradisional. Bukan cara profesional. Para profesional menggunakan berbagai sarana termasuk aplikasi teknologi untuk membantu proses editing.
Nah, cara sederhana yang saya lakukan di atas, meskipun manual dan tradisional, namun sudah berhasil melahirkan banyak buku. Begitulah saya bekerja melakukan editing, untuk buku yang akan saya terbitkan secara indie.
Untuk buku yang saya terbitkan dengan penerbit mayor, cukup kirim naskah ke penerbit. Semua dikerjakan oleh tim penerbit mayor.
Catatan
Tulisan saya ini, belum diedit.