Kembali
Kapita Selekta

Sikap Hidup Jauh Lebih Penting Daripada Fasilitas Hidup

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

“Apakah ia kakak kamu, atau perawat kamu?” pertanyaan ini sering dilontarkan orang kepada Shane Burcaw saat ia tengah bersama kekasihnya, Hannah Aylward. Dan seperti biasanya, Shane hanya menanggapi pertanyaan itu dengan senyum ceria. Ia tidak marah dengan pertanyaan yang serupa.

Blogger asal Amerika Serikat ini telah menggunakan kursi roda sejak berusia tiga tahun. Ia mengalami Spinal Muscular Atrophy, sejenis kondisi genetik yang mengganggu otot tubuhnya, sehingga harus memakai kursi roda. Namun ia memilih memandang kehidupan ini dengan positif. Keterbatasan fisiknya tidak menghalangi untuk meraih mimpi.

Selain aktif menulis di blog, Shane telah menerbitkan tiga buku, yaitu Laughing at My Nightmare (2014), Not So Different: What You Want to Ask About Having a Disability (2017), dan Strangers Assume My Girlfrind is My Nurse (2019). Dalam buku-buku itu, Shane menceritakan kondisi dirinya dan suka duka menjalani kehidupan, dengan gaya kocak.

Dengan keterbatasan kondisi fisik itu, ia sempat pesimis bahwa dirinya bisa memiliki hubungan romantis dengan seorang kekasih. Shane berpikir bahwa jika seorang gadis kencan dengan dirinya maka gadis tersebut melakukan hanya karena kasihan. Ternyata pikiran Shane salah.

“Ketika kuliah, otak saya membuka kebenaran yang sesungguhnya. Saya bertemu dengan beberapa orang hebat yang memberi pandangan bahwa cinta bukan hanya milik orang normal saja,” tulis Shane dalam buku Laughing at My Nightmare.

Tahun 2019 lalu, Shane Burcaw yang berusia 26 tahun dan Hannah Aylward yang berusia 25 tahun, mendokumentasikan hubungan romantis mereka dalam serangkaian video YouTube. Shane ingin melawan stigma yang selama ini dialamatkan kepada para penyandang disabilitas.

Shane bercerita ketika ia dan Hannah jalan bersama, banyak orang bertanya mereka apakah Hannah saudara, pengasuh, atau bahkan ibu dari Shane. ”Ada berbagai stigma negatif seputar kecacatan, tetapi salah satu yang paling buruk bahwa penyandang cacat tidak mampu atau tidak layak menjalin hubungan romantis,” ujar Shane.

Keterbatasan fisik bukanlah penghalang bagi Shane untuk mendapatkan kekasih yang cantik. “Jari jemari kami saling bertautan seperti kecelakaan kereta api begitu bertemu dalam posisi yang tepat. Saya memang tidak bisa membukakan pintu mobil untuknya, tidak masalah. Lagi pula dia suka menyetir dan kami menikmatinya,” ujar Shane.

Shane yakin kaum difabel tidak hanya bisa memiliki perasaan saling memiliki yang kuat tapi juga hubungan cinta yang lebih baik daripada orang normal. “Saat ini, saya punya keyakinan bahwa hubungan seperti ini malah lebih menyenangkan daripada hubungan cinta pada umumnya,” ujarnya.

Meskipun hubungan Shane dan Hannah tampak ‘aneh’ di mata orang lain, namun Shane merasa baik-baik saja. “Itulah sebabnya saya bingung ketika orang-orang menganggap dia bukan kekasih saya. Karena bagi kami, itu tampak begitu normal. Ada rasa suka, konyol dan indah. Tidak terlintas dalam pikiran kami bahwa hubungan ini abnormal. Kami hanya menjalaninya,” ia menyimpulkan.

Luar biasa sikap positif Shane dalam menjalani kehidupan. Hidupnya menjadi positif, karena pilihan sikap yang positif. Hidupnya menjadi bahagia, karena ia memilih untuk bahagia.

Sikap Hidup Jauh Lebih Penting Daripada Fasilitas Hidup

Terus terang, kalimat ini sangat menginspirasi saya, “Sikap Hidup Jauh Lebih Penting Daripada Fasilitas Hidup”. Teramat banyak orang normal, memiliki kelengkapan anggota tubuh, memiliki kekayaan, namun tidak menemukan kebahagiaan. Mereka berada dalam suasana yang penuh penderitaan dan merasakan kesedihan berkepanjangan, karena menyesali banyak hal yang tidak dimilikinya.

Sementara ada sangat banyak pula orang-orang yang memiliki keterbatasan anggota tubuh, memiliki keterbatasan materi, namun menemukan banyak kebahagiaan dalam kehidupan. Mereka mampu mensyukuri apa yang mereka miliki, dan bersabar atas segala hal yang tidak mereka miliki. Mereka mampu berpikir positif dan berjiwa besar, sehingga mampu mengalahkan segala rintangan kehidupan.

Banyak penyandang disabilitas yang awalnya memiliki sikap pesimistis dan menyerah, namun setelah mereka mampu bersikap positif dalam kehidupan, ternyata membuat mereka menjadi orang-orang sukses yang memberi motivasi dan inspirasi dunia. Memang benar mereka memiliki keterbatasan sarana hidup, seperti tidak memiliki kaki atau tangan, tidak memiliki pendengaran dan penglihatan, namun sikap hidup yang positif membuat mereka memiliki dunia yang tidak terbatas.

Bagi manusia beriman, apapun yang terjadi dalam dirinya, selalu bermakna positif. Kita simak penjelasan Nabi saw, betapa beliau takjub dengan sikap hidup orang beriman. Dari Shuhaib, ia berkata, Nabi saw bersabda,

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim, no. 2999)

Imam Al-Munawi berkata dalam Faidhul Qadir menjelaskan, “Keadaan seorang mukmin semuanya itu baik. Hal seperti ini hanya terjadi pada orang mukmin, tidak akan ditemukan pada orang kafir maupun munafik. Keajaibannya adalah ketika ia diberi kesenangan berupa sehat, keselamatan, harta dan kedudukan, maka ia bersyukur pada Allah atas karunia tersebut. Ia akan dicatat termasuk orang yang bersyukur. Ketika ia ditimpa musibah, ia bersabar. Ia akan dicatat termasuk orang yang bersabar”.

Sikap Positif Menghantarkan Mereka Menggapai Sukses

Ada banyak keterbatasan pada seorang Helen Keller yang lahir sebagai anak normal dan sehat di Tuscumbia, Alabama, Amerika serikat pada 27 Juni 1880. Penyakit menimpa Helen Keller pada saat berumur 19 bulan, membuat ia menderita tuli dan buta sebelum ia mengetahui cara membaca dan menulis.

Dengan bantuan guru Sullivan, ia tumbuh menjadi orang yang mampu membaca huruf latin timbul, menulis, bahkan berbicara. Menyelesaikan pendidikan hingga Akademi, dan mendapatkan gelar Doktor HC dari berbagai Perguruan Tinggi ternama dunia. Buta dan tuli tidak menghalanginya berprestasi mendunia.

Kita juga mengenal komposer dunia, Ludwig Von Beethoven (1770 – 1827). Sebagian besar karya Beethoven justru muncul ketika ia menjadi tuli. Beethoven muda begitu bersemangat menggubah karya-karyannya yang mulai terkenal. Akan tetapi karena sebab yang tidak jelas, di usia dua puluh tahunan pendengarannya berangsur angsur menghilang, sampai akhirnya di usinya ke-40  tahun ia mengalami tuli total.

Ia sempat putus asa bahkan berpikir untuk bunuh diri. Tetapi akhirnya ia memutuskan untuk tetap berkarya betapapun sulitnya. Terkadang ia menempelkan telinganya ke piano agar tetap terasa getarannya. Dalam keadaan tuli, ia menghasilkan berbagai karya besar. Sulit dibayangkan, orang tuli bisa menciptakan lagu.

Hee Ah Lee lahir di Korea Selatan pada 9 Juli 1985, dengan kedua tangan menderita lobster claw syndrom di mana masing-masing tangannya hanya memiliki dua jari yang bentuknya mirip capit udang. Selain itu, kedua kakinya hanya sampai batas lutut. Yang lebih menyedihkan, Hee Ah Lee juga mengalami keterbelakangan mental.

Melalui perjuangan amat berat dan penuh air mata, Hee Ah Lee berlatih piano setiap hari. Kadang-kadang untuk memainkan sebuah lagu, dia memerlukan waktu satu tahun. Malah untuk memainkan salah satu karya Chopin, dia berlatih sekitar lima sampai sepuluh jam setiap hari selama lima tahun. Hanya untuk satu buah lagu ! Kini ia keliling dunia memainkan piano, hanya dengan dua jari di setiap tangan dan kaki sebatas lutut. Cacat tidak menghalanginya keliling dunia.

Nick Vujicic

Nicholas James Vujicic lahir tanpa dua tangan dan dua kaki karena gangguan tetra-amelia langka, pada 4 Desember 1982. Nick Vujicic belajar di Universitas dan lulus dengan baik. Ia mulai perjalanan sebagai seorang pembicara motivasi. Ia telah berbicara kepada lebih dari tiga juta orang, di lebih dari 24 negara di lima benua.

Buku pertamanya berjudul “Life Without Limits: Inspiration for a Ridiculously Good Life” hadir pada tahun 2010. Ia muncul dalam film pendek “The Circus Butterfly” yang memenangkan Doorpost Film Project’s tahun 2009, dan penghargaan Film Pendek Terbaik dan Aktor terbaik di Method Fest Film Festival; juga memenangkan Film Pendek Terbaik di Feel Good Film Festival di Hollywood pada tahun 2010.

Nick juga membuat video motivasi berjudul “Life’s Greater Purpose” dan “No Arms, No Legs, No Worries!” Ini sebuah kalimat yang luar biasa. Ia tidak punya tangan dan tidak punya kaki, namun kata-kata Nick jauh lebih kuat daripada tangan dan kaki kebanyakan manusia. “No Arms, No Legs, No Worries”, kata Nick.

Jessica Cox adalah seorang perempuan keturunan Filipina – Amerika, yang terlahir tanpa kedua lengan. Namun ia bisa berkegiatan normal seperti orang pada umumnya, bahkan memiliki berbagai kelebihan. Dinobatkan sebagai orang pertama tanpa lengan yang mendapatkan sabuk hitam dari American Tae Kwon-Do Association, ia bahkan dapat menerbangkan pesawat dengan kaki.

“Aku yakin bahwa bagaimana kita bereaksi memiliki dampak yang besar di hidup kita dibandingkan batasan fisik kita,” kata Jessica. “Kecacatan tidak seharusnya berdiri di jalan menuju sukses. Tidak ada halangan (bagi orang cacat) untuk menjadi sukses,” ungkap Jessica.

Hirotada Ototake

Hirotada Ototake dilahirkan Jepang pada 6 April 1976 dalam kondisi menderita tetra-melia, suatu kelainan bawaan yang membuatnya hampir tidak memiliki tangan dan kaki. Oto rajin menulis dengan pangkal lengannya, mengikuti lomba maraton di sekolah, bahkan menjadi anggota tim basket sejak sekolah SMP.

Sikap hidup Oto yang positif membuatnya meraih sukses dan merasakan kebahagiaan. Oto telah menjadi motivator dunia yang sering menghadiri undangan dari berbagai negara. Buku yang ditulis Oto, berjudul “No One’s Perfect”, berhasil menjadi buku best seller. Ia bahkan diangkat menjadi guru SD di Jepang untuk mengampu mata pelajaran olahraga.

Xu Yuehua adalah seorang gadis kecil yang normal seperti teman-temannya. Sampai pada suatu kecelakaan, ia kehilangan kedua kakinya pada usia 13 tahun. Dengan keterbatasan fisiknya, ia menikmati pekerjaan di Xiangtan Social Welfare House sebagai pengasuh anak-anak yatim piatu.

Ia telah menghabiskan waktu lebih dari 40 tahun untuk merawat anak-anak yatim piatu di lembaga kemanusiaan ini, dan ada ratusan anak yang diasuh dengan penuh kasih sayang oleh Xu. Dengan fisik yang terbatas, ia memberikan kemanfaatan bagi orang lain.

Hidup Adalah Tentang “Menjadi”, Bukan Tentang “Memiliki”

Masih banyak penyandang disabilitas yang mampu menghasilkan karya tingkat dunia. Dengan berbagai keterbatasan yang mereka miliki, sangat banyak hal bisa mereka lakukan untuk memberikan kemanfaatan bagi orang lain.

Benarlah kata Hirotada Ototake, “Beberapa orang dilahirkan dalam keadaan utuh tetapi kemudian menyesali kehidupannya. Beberapa orang, yang sekalipun dilahirkan tanpa tangan dan kaki, menjalani hidupnya di dunia ini tanpa memedulikannya sama sekali. Kondisi cacat tidak ada hubungannya sama sekali dengan kebahagian”. Hirotada mendapatkan kebahagiaan, karena sikap hidup yang positif.

Demikian pula yang diyakini oleh Nick Vujicic. Dalam buku Life Without Limits, ia tuliskan dengan sepenuh keyakinan, “Orang sering bertanya bagaimana aku bisa bahagia walaupun tidak punya lengan dan tungkai. Jawaban cepatku adalah, karena aku punya pilihan. Aku bisa merasa marah karena tidak punya tungkai, atau aku bisa bersyukur karena punya tujuan. Aku memilih sikap bersyukur. Kau juga bisa melakukannya,” tegas Nick.

Ia memiliki tujuan, maka semua kembali kepada tujuan yang telah ditetapkan. “Akan bermanfaat jika kau senantiasa melihat di mana kau berada dari waktu ke waktu dan merenungkan apakah tindakan serta prioritasmu sesuai dengan tujuan terbesarmu”. 

Nick selalu berpikir positif tentang kondisi dirinya. “Pengalaman membantuku menyadari bahwa menjadi ‘berbeda’ mungkin bisa membuatku menyumbangkan sesuatu yang spesial kepada dunia”, ujarnya. Sebab, menurut Nick, kehidupan bukanlah tentang “memiliki”, melainkan tentang “menjadi”.

Salah satu nasihat Nick kepada masyarakat luas adalah, agar tidak mengejar kepuasan sesaat. “Kenalilah kepuasan diri sebagaimana adanya. Jauhilah godaan untuk mengejar objek-objek material seperti rumah mentereng, pakaian yang mewah, atau mobil terkeren. Kalau mencari kebahagiaan dengan melalui barang-barang yang remeh, kau tidak akan pernah merasa cukup’. 

Luar biasa Nick. Tidak punya tangan, tidak punya kaki, namun kata-kata Nick jauh lebih kuat daripada tangan dan kaki kebanyakan manusia. “No Arms, No Legs, No Worries”, kata Nick.

Agus Yusuf

Jangan Pernah Kehilangan Harapan

Kita juga sangat terinspirasi oleh kisah kehidupan Agus Yusuf, seorang seniman difabel. Tertulis dalam buku “Kalau Berbeda, Lau Kenapa?” karya Sri Rohmatiah, istri tercinta. Buku yang sangat memberi motivasi bagi siapapun yang membaca.

Saat masih kecil, Agus Yusuf sering bertanya kepada orang tuanya, “Mengapa aku berbeda dengan adik laki-lakiku atau teman-temanku?” Sebuah pertanyaan yang sangat sulit dijawab oleh kedua orang tuanya.

Terlahir hanya dengan kaki kiri, tanpa kedua tangan dan kaki kanan sebatas lutut membuat orang tuanya terpukul. Meskipun hidup dalam keterbatasan ekonomi, bersyukur orangtua Agus Yusuf mampu bersikap bijaksana. Mereka menanamkan sikap positif sehingga Agus tumbuh menjadi manusia dewasa yang positif.

Orangtua Agus sering berpesan, “Bermainlah dengan anak-anak normal lainnya, karena kamu juga normal.” Ya benar, normal. Karena sepenuhnya fisik Agus adalah pemberian dan karunia Allah Ta’ala. Tidak ada yang dikurangi, tidak ada yang ditambah oleh orangtua Agus.

Yang dilakukan Agus adalah terus memupuk harapan. Sebab, kehilangan harapan jauh lebih buruk daripada kehilangan kedua tangan dan kaki kanannya. Kini Agus menjadi pelukis profesional, semenjak berkenalan dengan organisasi VDMK (Vereinugung der mund-und fussmalenden kunstler) atau AMFPA (Association Of Mouth And Foot Painting Artist).

Buku yang ditulis oleh mbak Sri Rohmatiah ini sungguh sangat kuat pesan motivasinya. Semua orang pasti punya masalah. Semua manusia pasti punya keterbatasan.

Namun yang membedakan adalah, apakah keterbatasan membuat seseorang berkeluh kesah dan berputus asa, atau justru menjadikannya sebagai kekuatan yang menghantarkannya menuju kesuksesan. Agus Yusuf, suami tercinta penulis buku ini, telah menunjukkan bagaimana mengubah keterbatasan menjadi kekuatan.

“Di balik keindahan sebuah lukisan, ada sebuah perjalanan. Di saat lukisan itu pada awalnya hanya  sehelai kanvas, tidak indah, kosong, tanpa warna, dan tanpa rupa. Sama halnya dengan perjalanan kehidupan. Hidup selalu penuh coretan, goresan dan warna-warni kejadian. Kita yang harus memberikan makna” – Sri R. Djalil, 2020.

Buku ini sungguh menggugah motivasi. Satu deretan dengan “No One’s Perfect” karya Hirotada Ototake, dan “Life Without Limits” karya Nick Vujicic.

Ditulis oleh Cahyadi Takariawan

Dipublikasikan di RUANG KELUARGA. Media edukasi keluarga, parenting, dan keharmonisan rumah tangga.