Kembali
Motivasi Menulis

Spirit Menulis dari Tokoh Dunia – 16

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

Buku Bukan Ditulis Sekali Jadi

“Books aren’t written –they’re rewritten. Including your own” –Michael Crichton.

.

Setelah selesai menulis naskah, kadang kita menemukan hasil akhir yang belum sesuai harapan. Apa yang kita lakukan saat menemukan kondisi seperti itu? Paling tidak ada duaopsi yang saya sarankan.

Opsi pertama adalah, publikasikan apa adanya. Ini berlaku untuk Anda yang tengah belajar menulis. Jangan berorientasi kesempurnaan hasil. Yang paling penting Anda mampu menyelesaikan karya dan berani memublikasikannya. Jika Anda berharap kesempurnaan, sebagai pemula, Anda tidak akan pernah mendapatkannya.

Opsi kedua adalah, lakukan revisi atau tulis ulang hingga sesuai harapan Anda. Ini berlaku bagi para penulis yang sudah memiliki banyak karya. Proses latihan yang dilakukan tidak lagi dalam level mampu menghasilkan karya dan berani publikasi. Mereka harus sudah meningkat, menjadi berlatih menghasilkan karya berkualitas.

Brian Rowe (2019) mengajak kita mendapatkan inspirasi menulis dari Michael Crichton (1942–2008). Sebagaimana sudah sangat dikenal, Crichton adalah penulis buku-buku fiksi melegenda, seperti Jurassic Park, Sphere, dan The Lost World. Ia juga sekaligus sutradara film.

Kalau Perlu, Revisi Sembilanbelas Kali

“You have to revise your work, and revise it often. Sometimes it only takes a few more drafts to get it to the place it needs to be. Sometimes it takes ten drafts, or fifteen, or even twenty” —Brian Rowe, 2019.

Crichton menyatakan, “Buku tidak ditulis, tetapi ditulis ulang. Termasuk karyamu”. Ungkapan ini menunjukkan, jangan sungkan untuk menulis ulang draf pertama yang sudah Anda hasilkan. Menulis bukanlah peristiwa sekali jadi. Ada kalanya Anda merasa tidak puas dengan hasil tulisan yang telah Anda selesaikan.

“Ini adalah salah satu hal yang sangat sulit untuk diterima, terutama setelah menuliskan ulang hingga tujuh kali dan belum puas melakukannya”, ujar Crichton. Sebuah ambisi dan semangat berkarya yang luar biasa. Bukan hanya menulis ulang sekali dan dua kali, jika perlu sampai tujuh kali.

Sebagai penulis yang telah mendunia, Crichton tidak membiarkan karya tulisnya terpublikasi ‘apa adanya’. Ia harus memastikan bahwa karya tulisnya telah sesuai dengan selera dan standarnya. Maka ia tidak sungkan menulis ulang –lagi dan lagi, sampai hasil akhirnya benar-benar memuaskan seleranya.

Tentu tidak demikian untuk para penulis pemula. Brian Rowe berkomentar, “Saya tidak yakin ada calon penulis yang memulai novel pertama dengan memikirkan jalan panjang yang akan ditempuh sampai novel itu siap untuk prime-time”. Bagi para penulis pemula yang tengah belajar membuat karya, mampu menyelesaikan karya dan bisa melakukan publikasi adalah sebuah prestasi.

“Saat Anda baru memulai, yang Anda pedulikan hanyalah menyelesaikan buku”, ujar Brian Rowe. “Anda tidak akan pernah bisa mencapai apa pun dalam kehidupan menulis novel Anda jika Anda tidak pernah menyelesaikan draf pertama”, sambung Rowe.

“The book I have on submission right now to editors has gone through nineteen drafts total between December of 2015 and April of 2019” —Brian Rowe, 2019.

Dalam proses penulisan kreatif, seperti menulis cerpen, puisi dan novel, Rowe berpendapat, “tidak ada yang pernah lolos dengan draf pertama yang luar biasa, karena tidak ada yang benar-benar tepat dalam kesempatan pertama”. Biasanya, setelah selesai menulis naskah kreatif, dianggap sebagai draf pertama.

“Anda harus merevisi pekerjaan Anda, dan bersedia sering merevisinya”, ujar Rowe. Draf pertama yang sudah Anda hasilkan, harus Anda baca ulang dan Anda lakukan revisi pada bagian-bagian yang belum sesuai harapan. Tidak masalah bahwa pekerjaan ini jauh lebih lama dibandingkan dengan proses penulisan draf pertama.

“Terkadang hanya perlu beberapa draf lagi untuk membawanya ke kualitas yang diharapkan”, sambung Rowe. “Namun terkadang dibutuhkan sepuluh draf, atau lima belas, atau bahkan dua puluh. Buku yang saya serahkan sekarang kepada editor telah melalui sembilan belas draf, antara Desember 2015 dan April 2019”, lanjut Rowe.

Luar biasa pengalaman Brian Rowe. Ia melakukan revisi sembilan belas kali, sebelum menyerahkan naskahnya kepada penerbit.

Pengalaman Khaled Hosseini : Selalu Menulis Ulang

“Bagi saya, sebagian besar peristiwa menulis adalah soal menulis ulang. Selama proses menulis ulang ini saya menemukan makna, hubungan, dan hal-hal tersembunyi yang mungkin terlewat dalam penulisan pertama” –Khaled Hosseini.

Khaled Hosseini adalah novelis dan dokter berkebangsaan Amerika. Lelaki kelahiran Afganistan 4 Maret 1965 ini sempat bekerja sebagai dokter di California. Namun semenjak sukses menjadi novelis, ia memutuskan berhenti praktik dokter, dan memilih menjadi penulis penuh waktu.

Ia selalu menjadikan Afganistan  sebagai latar cerita, dan menjadikan warga Afganistan sebagai tokoh-tokoh protagonis. Semua novel karyanya menjadi best seller. The Kite Runner adalah novel paling laris, disusul dengan A Thousand Splendid Suns (2007) dan And The Mountains Echoed  (2013).

Ketika Hosseini selesai menulis, ia menemukan hasil tulisannya tidak seperti yang diharapkan. Maka ia menulis ulang apa yang telah ditulis tersebut. Jadi, kerja dua kali. Selesai menulis, lalu ditulis lagi. Ini menjadi aktivitas rutin yang dilakukan setiap membuat buku.

“Saya suka menulis ulang. Tulisan pertama benar-benar hanya sketsa”, ujar Hosseini. Ia tidak keberatan harus menulis ulang. Karena ada banyak hal yang bisa ia dapatkan dengan cara menulis ulang ini. Ia bisa mengoreksi kesalahan, ia juga bisa menambahkan hal-hal yang menuratnya kurang.

“Bagi saya, sebagian besar peristiwa menulis adalah soal menulis ulang. Selama proses menulis ulang ini saya menemukan makna, hubungan, dan hal-hal tersembunyi yang mungkin terlewat dalam penulisan pertama”, ujarnya.

Rupa-rupanya Hosseini menemukan keasyikan tersendiri dengan cara unik ini. Ia menulis naskah secara spontan, lalu setelah selesai menulis ia cermati lagi. Hingga ia menemukan bagian-bagian yang kurang sesuai harapan, dan akhirnya menulis ulang. Ini sungguh kerja sangat keras.

“Dengan penulisan ulang ini, saya berharap kualitas ceritanya semakin dekat dengan harapan awal saya”, ujar Hosseini.

Bagaimana dengan Anda? Untuk para pemula dan pembelajar, tidak perlu berorientasi kesempurnaan. Yang paling penting, selesaikan karya Anda, dan segera mulai menulis karya baru lagi.

Bahan Bacaan

Brian Rowe, 3 Quotes by Michael Crichton to Make You a Better Writer, https://medium.com, 19 Juni 2019

James Clear, The Daily Routines of 12 Famous Writers, www.jamesclear.com

Richard Pallardy, Khaled Hosseini, American Author, www.britannica.com

Ditulis oleh Cahyadi Takariawan

Dipublikasikan di Ruang Menulis. Kanal kreasi naskah, literasi, dan karya tulis terpilih.