.
Oleh : Cahyadi Takariawan
“Michael Crichton believed that the digital filters, information sources, and media was clouding our view of the real world and experiences we could have in nature” –Chad Grills, 2017.
.
Apakah Anda masih duduk melamun menunggu inspirasi menulis? Apakah Anda berdiam berlama-lama di pinggir pantai sambil berharap akan hadir mood menulis? Sepertinya Anda kurang percaya dengan pengalaman hidup yang sudah Anda jalani selama puluhan tahun.
Berikut saya ajak Anda menyimak penuturan Chad Grills (2017), yang berusaha mengambil spirit menulis dari para tokoh dunia, agar bisa memotivasi untuk terus menerus menghasilkan karya.
Penulis Terbaik adalah Mereka yang Mendapatkan Pengalaman Langsung di Dunia Nyata
“Seek out new adventures and experiences. Get direct experience without the digital filter of your smartphone, friends, or anyone else. Get lost in nature, and you’ll be forced to come face to face with new ideas” –Chad Grills, 2017.
Penulis sukses dan produktif bukanlah orang yang mengasingkan diri dari keramaian. Bukan orang ‘aneh’ yang hidup terasing dari realitas masyarakat. Hidup menyendiri, menyepi, mencari inspirasi dalam pengasingan. Bukan seperti itu.
Penulis produktif justru karena mereka hidup dalam denyut masyarakat. Mengerti, melihat dan mendengar berbagai persoalan kehidupan yang aktual. Mereka bahkan bisa menyuarakan kepedihan serta harapan masyarakat melalui berbagai bentuk tulisan. Tulisannya menjadi lebih hidup dan bertenaga, justru karena mengerti secara langsung kondisi masyarakat di sekitarnya.
Di dunia cyber saat ini, salah satu tantangan kehidupan kita adalah tergantikannya ruang sosial nyata dengan ruang sosial yang serba maya. Sebagaimana dinyatakan oleh Katherine Diggory (2018), “Nothing compares to living in real communities and spending actual physical time with the people we love”. Interaksi langsung tak akan tergantikan oleh apapun, karena di situlah letak kemanusiaan kita yang sesungguhnya.
Inilah yang dilakukan oleh Michael Crichton (1942 – 2008). Ia adalah salah seorang penulis buku terlaris sepanjang masa, dan sekaligus sutradara film. Di antara karyanya yang terkenal adalah Jurassic Park, Sphere, The Lost World, dan masih banyak lainnya.
Tulisan fiksi maupun nonfiksi karya Crichton dianggap mampu melampaui zamannya. Bagaimanakah ia bisa mendapatkan ide untuk penulisan fiksinya? Ternyata Crichton terinspirasi oleh hal-hal nyata yang dilihatnya. Ia adalah pendukung “pengalaman langsung” di dunia nyata, yang mendapatkan banyak ide dari kehidupan keseharian.
Ia percaya bahwa filter digital, sumber informasi di internet, dan berbagai media justru mengaburkan pandangan kita tentang dunia nyata dan pengalaman yang bisa kita dapatkan di alam kehidupan. Hampir semua buku fiksi Crichton –yang telah terjual lebih dari 250 juta eksemplar, terinspirasi oleh “pengalaman langsung” yang ia dapatkan di dunia nyata.
“I eventually realized that direct experience is the most valuable experience I can have” –Chad Grills, 2017.
“Saya akhirnya menyadari bahwa pengalaman langsung adalah pengalaman paling berharga yang bisa saya miliki”, ujar Grills. Orang modern dikelilingi oleh ide-ide, dibombardir dengan opini, konsep, dan struktur informasi dari segala jenis. Hal ini membuat mereka sulit untuk melepaskan diri dari intervensi dunia maya.
Banyaklah Bergaul dalam Kehidupan Nyata
Oleh karena itu, hendaknya memperluas titik pergaulan langsung di dunia nyata, dan berbincang dengan banyak kalangan. Saat hidup bermasyarakat, rajin menyapa tetangga. Mendengar suara mereka, mengerti kondisi mereka. Ini adalah bahan tulisan yang nyata, dan tidak mengada-ada.
Saat berada di tempat kerja, sempatkan menyapa teman-teman, berbincang dan mendengar suara mereka. Saat beribadah di masjid, gereja, atau tempat-tempat ibadah lainnya, dengarkan kisah dari jemaat untuk mengetahui kehidupan yang senyatanya. Saat berbelanja ke pasar, berbicaralah, bertanyalah, bukan hanya soal tawar menawar harga.
Jika Anda rajin menyapa, bertanya, dan mendengarkan, maka akan semakin luas cakrawala pemahaman Anda. Jika ditulis dalam bentuk fiksi, maka menjadi fiksi yang hidup bernyawa. Karena lahir dari proses dialog dan pergulatan dengan persoalan nyata.
Dialog-dialog yang Anda bangun dalam novel atau cerpen, memiliki jiwa yang kokoh lantaran tidak sekedar berkhayal dan berimajinasi. Untaian diksi jika dibentuk puisi, akan lebih menggugah nurani, karena benar-benar berisi.
Jika ditulis dalam bentuk nonfiksi, akan melahirkan kekuatan data dan argumen. Berita yang ditulis berdasar fakta yang nyata. Artikel yang ditulis menjadi bernas dan mengena. Esai yang dimunculkan menjadi lebih berkesan. Feature yang dihadirkan menjadi penuh nilai kemanusiaan. Ini karena dilahirkan dari proses interaksi langsung dengan kehidupan masyarakat.
Berbeda dengan penulis yang terasing dari realitas kehidupan masyarakat. Mereka adalah penulis yang tidak mengerti hakikat dan realitas. Terisolir dari denyut nadi persoalan kehidupan, sehingga ketika muncul dalam bentuk tulisan, akan tampat aneh dan asing. Teori dan analisa yang tidak membumi serta sulit dimengerti.
Bahan Bacaan
Cahyadi Takariawan, Banyaklah Bergaul untuk Memanusiawikan Tulisan Anda, www.ruangkeluarga.id, 9 Agustus 2020
Chad Grills, The 7 Secrets of Writing From the Best Writers in the World, https://medium.com, 2 November 2017
Katherine Diggory, The Importance of Human Interaction and Relationships, Explore Life Web, www.explore-life.com, Desember 2018