Kembali
Pranikah

Studi Menunjukkan, Menikah Membuat Hidup Anda Lebih Bahagia

.

Oleh: Cahyadi Takariawan

Sepekan yang lalu, sekitar pekan kedua bulan Januari 2025, saya berdiskusi dengan sepuluh lelaki lajang. Umumnya mereka baru lulus kuliah, dan merintis kegiatan ekonomi mandiri. Kami berbincang tentang kehidupan laki-laki.

Beberapa pertanyaan mereka dengan jelas menunjukkan adanya kekhawatiran –atau bahkan ketakutan, menjalani pernikahan. Bahwa setelah menikah laki-laki dituntut untuk menafkasi keluarga. Bahwa laki-laki adalah tulang punggung ekonomi keluarga –pada zaman di mana tak mudah mencari cuan.

Takut tidak mampu membahagiakan istri, takut kehilangan harga diri di hadapan istri –karena tak mampu memenuhi kebutuhan ekonomi, menjadi hantu tersendiri bagi sebagian laki-laki. Ini menjadi alasan mengapa mereka tak segera ingin menikah. Mereka sedang mengukur, apakah mampu menghasilkan produktivitas ekonomi yang memadai.

Sebuah kekhawatiran yang tentu saja wajar dan manusiawi. Namun, sebagai orangtua kita harus mampu mengedukasi anak-anak yang sudah beranjak dewasa tentang sikap hidup dan etos kerja mereka. Orangtua harus mendidik jiwa kepemimpinan dan sikap never give up pada anak-anak remaja yang berproses menuju dewasa sepenuhnya.

Perubahan Karena Pernikahan

Sebenarnya, pernikahan tidak perlu menjadi sesuatu yang menakutkan bagi anak-anakmuda. Banyak riset dan studi akademik menunjukkan bahwa pernikahan justru membawa perubahan positif pada laki-laki maupun perempuan. Pernikahan tebukti membuat manusia menjadi lebih bahagia dan lebih produktif secara ekonomi.

Sosiolog Steve Nock menyatakan, pernikahan mengubah laki-laki secara mendasar. Dalam bukunya  Marriage in Men’s Lives  (1998), Nock membahas bagaimana sistem kepercayaan laki-laki tentang diri sendiri dan pasangan mereka berubah. Setelah menikah laki-laki mulai melihat diri mereka sebagai ayah, pemberi nafkah, dan pelindung bagi keluarga.

Perubahan identitas ini dikaitkan dengan perubahan perilaku. Misalnya, laki-laki mendapatkan lebih banyak pendapatan ketika mereka menikah, bekerja lebih banyak, menghabiskan lebih sedikit waktu dengan teman-teman selain dari keluarga, dan menghabiskan lebih banyak waktu dengan keluarga dan di masyarakat tempat keluarga itu berada.

Dalam tesis Nock, pernikahan membawa perubahan besar dalam identitas bagi laki-laki, dan semua perubahan itu mengarah pada harapan akan peningkatan tanggung jawab untuk merawat orang lain.

Agar laki-laki bersedia berkorban tanpa merasa kesal, mereka harus memutuskan bahwa perempuan tertentu adalah seseorang yang akan mereka ajak hidup bersama di masa depan. Laki-laki harus memutuskan bahwa “perempuan ini adalah masa depanku,” dan begitu mereka memutuskan, transformasi internal pun terjadi. Ternyata, transformasi serupa juga terjadi pada perempuan.

Transformasi Itu Adalah Kebahagiaan

Sebuah survei dari General Social Survey (GSS) tahun 2022 di Amerika Serikat mengungkapkan bahwa pernikahan dan keluarga sangat terkait dengan kebahagiaan. GSS menunjukkan bahwa kombinasi pernikahan dan peran sebagai orang tua dikaitkan dengan manfaat kebahagiaan terbesar bagi perempuan.

Di antara perempuan yang sudah menikah dengan anak-anak berusia antara 18 dan 55 tahun, 40% melaporkan bahwa mereka “sangat bahagia,” dibandingkan dengan 25% perempuan sudah menikah dan tidak memiliki anak, dan hanya 22% perempuan belum menikah dan tidak memiliki anak. Sedangkan ibu yang tidak menikah (misalnya mengasuh anak adopsi) hanya 17% dari mereka yang menyatakan sangat bahagia.

Hasil ini sejalan dengan temuan GSS dari tahun 2020 dan 2021 yang menemukan bahwa perempuan yang menikah dan memiliki anak pada umumnya adalah yang paling bahagia dan paling tidak  kesepian. Inilah transformasi itu, bahwa menikah membuat mereka menjadi lebih bahagia.

Bagaimana dengan laki-laki? General Social Survey (GSS) 2022 menunjukkan bahwa pernikahan juga dikaitkan dengan kebahagiaan yang lebih besar bagi laki-laki berusia 18-55 tahun. Bahkan, ayah yang menikah adalah yang paling bahagia. 

Secara spesifik, 35% laki-laki menikah berusia 18-55 tahun yang memiliki anak melaporkan bahwa mereka “sangat bahagia,” diikuti oleh 30% laki-laki menikah yang tidak memiliki anak. Sebaliknya, laki-laki yang belum menikah dan tidak memiliki anak, dan terutama ayah yang belum menikah, adalah yang paling tidak bahagia—kurang dari 15% laki-laki kategori ini mengatakan bahwa mereka “sangat bahagia.”

Dengan kata lain, laki-laki yang sudah menikah (berusia 18-55 tahun) di Amerika sekitar dua kali lebih mungkin untuk merasa sangat bahagia, dibandingkan dengan rekan-rekan mereka yang belum menikah. Menikah membuat kaum laki-laki meningkat kebahagiaannya.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Sam Peltzman dari Universitas Chichago (2023) menunjukkan bahwa bagi laki-laki dan perempuan, pernikahan adalah “pembeda terpenting” yang menentukan kebahagiaan. Sementara itu, tingkat pernikahan yang menurun adalah alasan utama mengapa kebahagiaan menurun secara nasional. Penelitian tersebut juga menemukan kesenjangan kebahagiaan sebesar 30 % antara orang yang menikah dan yang tidak menikah.

Faktor-faktor tentu turut berperan, misalnya pendapatan, prestasi pendidikan, ras, dan geografi, tetapi perkawinan adalah yang paling berpengaruh dalam memprediksi kebahagiaan dalam penelitian tersebut. Penelitian lain menunjukkan bahwa masyarakat Amerika Serikat menyaksikan kesenjangan kebahagiaan yang semakin besar antara warga yang paling terdidik dan yang paling tidak terdidik. Perkawinan dianggap menjadi faktor terbesar dari penurunan tersebut.

Berbeda Dengan Pandangan Media Sosial

Psikolog Jean Twenge menghubungkan kesenjangan kebahagiaan yang semakin besar dengan penurunan angka pernikahan di kalangan mereka yang berpendidikan dan berpenghasilan lebih rendah. Menurut pandangan Twenge, kesenjangan ekonomi yang semakin besar memengaruhi kebahagiaan. Namun, hubungan pernikahan menjadi faktor terpenting untuk membangun kebahagiaan.

Berbagai studi akademik terkait kehidupan keluarga Amerika, banyak bertentangan dengan pandangan yang berkembang di media, baik media sosial maupun media mainstream. Bahwa menikah dan menjadi orang tua tidak menjadi hambatan untuk menjalani kehidupan yang bahagia.

Menikah dan menjadi orangtua –yang menjadi penanda “kedewasaan” secara tradisional, ternyata berkaitan kuat dengan kehidupan yang lebih bahagia. Meskipun menjalani kehidupan pernikahan dan menjadi orang tua bukan hal mudah, namun secara umum telah terbukti bahwa laki-laki dan perempuan yang memiliki pasangan dan anak-anak adalah yang paling mungkin melaporkan bahwa mereka “sangat bahagia” dengan kehidupan mereka, menurut survei GSS.

Banyak postingan di media sosial yang membuat anak-anak muda ragu bahkan takut untuk menikah. Informasi sampah dan hoax semakin memperburuk situasi ini. Anak-anak muda yang ‘keracunan’ informasi hoax menjadi memiliki persepsi negatif tentang pernikahan. Marriage is scarry akhirnya menjadi pernyataan yang latah, karena salah memahami informasi.

Survei yang dilakukan Dian Kinayung, dosen Fakultas Psikologi Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, memberikan informasi yang menarik. Survei tersebut melibatkan 196 mahasiswa, dengan rentang usia 17-25 tahun. Ditemukan, sebanyak 84 % responden mengaku memiliki ketakutan untuk menikah.

Alasan yang disampaikan oleh responden sangat beragam. Alasan terbanyak adalah derasnya informasi di media sosial atau media online mengenai sisi negatif pernikahan. Banjirnya konten media sosial yang viral dan memberikan informasi mengenai permasalahan pernikahan membuat mereka menyimpan kekhawatiran tentang pernikahan.

Bahan Bacaan

Brad Wilcox & Wendy Wang, Who Is Happiest? Married Mothers and Fathers, Per the Latest General Social Survey, https://ifstudies.org, 12 September  2023

Nicole Sheehey, What Is The Biggest Fear In Marriage? https://helloprenup.com, 4 Desember 2022

Sam Peltzman, The Socio Political Demography of Happiness, https://papers.ssrn.com, 12 Juli 2023

Scott M. Stanley, What is it with Men and Commitment, Anyway? Working Paper, University of Denver, Juli 2002, https://app.box.com/s/1zketqdii1ccnqb5vlf9

Steve Nock, Marriage in Men’s Lives, Oxford University Press, 1998

Ditulis oleh Cahyadi Takariawan

Dipublikasikan di RUANG KELUARGA. Media edukasi keluarga, parenting, dan keharmonisan rumah tangga.