Kembali
Motivasi Menulis

Tanpa Komitmen Menulis, Anda Hanya Pembeli Asesoris

Oleh : Cahyadi Takariawan

“Without commitment, we just wander the school supplies aisle at Target, or stare at the new notebooks in Staples. We blame the pen or keyboard for the empty page” (Chuck Warren, 2017).

****************

Kembali saya ajak Anda membangun sesuatu yang berharga untuk modal menulis. Membangun itu kata kerja aktif, melakukan sesuatu untuk mewujudkannya. Saya mengajak Anda membangun lima modal dasar untuk menjadi penulis, yaitu HTDKW —hasrat, tekad, disiplin, komitmen dan waktu untuk menulis.

Pada postingan sebelumnya, telah saya sampaikan modal dasar pertama berupa hasrat, modal kedua berupa tekad, dan modal ketiga berupa disiplin. Pada postingan kali ini, akan saya sampaikan modal dasar keempat, yaitu komitmen dalam menulis. Untuk menulis dan menjadi penulis, yang harus Anda miliki bukanlah bakat, bukan pula mood. Abaikan itu —jika Anda merasa tidak memilikinya. Anda hanya perlu membangun disiplin yang kuat dalam diri Anda untuk menulis dan terus menulis.

Memahami Arti Komitmen

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), komitmen artinya  perjanjian (keterikatan) untuk melakukan sesuatu; kontrak. Ketika seorang lelaki jatuh hati kepada gadis cantik idamannya, ia selalu terobsesi dengannya. Ia membayangkan akan bisa menikah dengannya, dan hidup berbahagia dengan si gadis dambaan hati. Ia sering menyebut namanya dengan sepenuh pengharapan, disertai doa semoga si gadis menerima pinangannya. Diam-diam ia telah tertawan, berjuta kata cinta diucapkan di setiap kesempatan, di dalam hati.

Namun ia hanya mencinta dalam diam. Bahkan untuk menulis status pun dia tak punya nyali. Sungguh ia sangat mencintai, tapi malu untuk memulai. Wajah dan penampilan gadis itu, senyum dan kata-katanya, tatapan mata dan tingkah lakunya, semua memesona. Namun ia tak pernah punya nyali untuk menyatakan cinta kepada gadis idaman hati, apalagi datang ke rumah dan meminangnya kepada orangtua. Maksud hati datang melamar, namun kaki sangat berat untuk beranjak menuju rumahnya.

Ia mematut diri, membeli baju dan pakaian rapi, memberi arloji dan aneka asesori, agar makin patut jika dilihat kekasih hati. Tapi ia hanya bercermin seorang diri, memakai semua perhiasan yang telah dibeli. Tampak rapi, tapi indah berseri. “Rasanya aku sudah mematut diri”. Namun sangat berat langkah kaki untuk pergi meminang gadis dambaan hati. Lalu bagaimana ia bisa menikah dan menjalani akad nikah yang sakral, jika meminang pun tak dilakukan?

Ia tak pernah meminang gadis pujaan hati, dan tak pernah menikah dengan gadis itu seumur hidupnya. Kelak di masa tua, ia bisa bercerita kepada anak cucunya, pernah mencintai gadis yang tak pernah dilamarnya. Hanya untuk itu saja? Kasihani dirimu.

Ini contoh seseorang yang hanya memiliki cita-cita, harapan dan keinginan, namun ia tak memiliki komitmen. Dalam kehidupan berumah tangga, komitmen itu diwujudkan dengan langkah nyata, meminang dan menjalani akad nikah atau ijab kabul. Jangan pernah mengatakan Anda mencintai seorang gadis jika tidak pernah meminang dan melakukan ijab kabul dengannya. Ijab kabul inilah yang menyebabkan Anda terikat hak dan kewajiban dalam kehidupan berumah tangga. Akad nikah adalah komitmen, yaitu perjanjian sakral, yang diawali dengan peristiwa meminang.

Membuat Kontrak Menulis Dengan Diri Anda Sendiri

Dalam konteks menulis, komitmen itu artinya Anda membuat kontrak dan janji dengan diri Anda sendiri untuk konsisten menulis. Membuat akad dalam jiwa. Menuliskannya dengan cinta dalam jiwa. Komitmen itu bukan hanya “ingin” menulis, bukan hanya bercita-cita menjadi penulis, bukan hanya bermimpi menjadi penulis. Komitmen itu artinya Anda benar-benar terikat kontrak untuk menulis —kontrak dengan diri Anda sendiri.

Saya tertarik pernyataan Chuck Warren, untuk menjadi penulis, Anda tidak perlu mengoleksi asesoris yang membuat Anda merasa lebih pantas untuk menyebut diri sebagai penulis. Anda juga tidak harus terus menerus menulis pesan kepada ibu Anda untuk meminta doa restu agar bisa menjadi penulis. “Stop buying notebooks and pens, and apps for your phone, and all of the little items you believe you need before you can begin writing your article or novel. Or letter to your Mom, whatever,” ujar Warren.

Itu seperti lelaki yang serius membeli berbagai perlengkapan dan asesori untuk mematut diri, namun tak punya nyali untuk meminang kekasih hati. Sudahlah, Anda sudah patut menjadi penulis, tak perlu membeli berbagai perlengkapan lagi. Yang harus Anda lakukan untuk menunjukkan komitmen Anda adalah menulis. “Stop screwing around, telling yourself, yeah, you’re gonna do it, right after this show is over. Stop knowing and start acting. Just do it. Write the article”, ujar Warren.

Komitmen itu artinya Anda menulis, dan berusaha untuk memperbaiki hasil tulisan Anda. Namun harus diawali dengan menulis, tidak bisa tidak. Karena Anda sudah membuat kontrak dengan diri Anda sendiri, dan secara gentle Anda harus memenuhi perjanjian tersebut. “Write. Then fix. You can’t fix what you haven’t written”, ujar Warren. Apa yang akan Anda perbaiki, jika Anda tidak pernah menulis sesuatu.

Sudahlah, sudah cukup Anda bermimpi, bercita-cita dan memiliki harapan. Sekarang saatnya Anda membuat komitmen, perjanjian dan kontrak terhadap diri Anda sendiri, bahwa Anda akan mempublikasikan tulisan setiap hari. “All of it came from one simple thing. I made a commitment to getting published. I stopped talking and started doing”, ungkap Warren. “Commit. Stop shopping for the perfect legal pad or binder. Stop searching for the perfect writing app. Sit down, put your hands on the keyboard, and get to work. Commit”.

Komitmen Membuat Anda Tak Pernah Putus Asa

Menulis artikel dan tidak selesai? Mengirim tulisan ke media massa dan tidak diterima? Itu biasa saja. Itu bagian dari proses. Orang yang sukses bukan berarti tidak boleh gagal atau tidak pernah gagal. Orang sukses, sangat kuat memegangi komitmen, sehingga semua resiko bisa ia terima tanpa putus asa. “Successful people are unrelenting toward the pursuit of their goal. Sure they experience setbacks and failures like everyone else”, ujar Tony Fahkry.

Yang membedakan pribadi sukses dengan yang lain adalah pada sikap positif mereka yang tak pernah putus ada menggapai cita-cita. Ini karena mereka telah mengikat kontrak dengan diri mereka sendiri —komitmen, itu yang mereka miliki. “What sets them apart is the ability to get back on track and learn from their mistakes immediately. It’s the ability to do this time and time again until they gain the prize that sets them apart” ujar Fahkry.

Orang-orang yang telah membuat kontrak dalam dirinya untuk menulis, selalu mampu menuntaskan dialog batin yang mengajaknya keluar dari komitmen. “You see, successful people believe in themselves. They’ve developed an inner resolve — an inner dialogue that continually feeds them with successful images, thoughts and beliefs. These inner dialogues have the power to cancel out any external misgivings that arise in the pursuit of their goal”, lanjut Fahkry.

Kini Anda Penulis, Bukan Lagi Pemimpi

Dulunya Anda bermimpi, bercita-cita, berharap. Kini Anda penulis, karena telah membuat kontrak dengan diri Anda sendiri, dan Anda telah benar- benar menulis. Komitmen, membuat Anda selalu terikat perjanjian dan kontrak untuk terus menulis. Seperti akad nikah yang membuat Anda terikat perjanjian dan kontrak untuk membangun rumah tangga yang harmonis dan bahagia.

Bangun komitmen yang kuat, sebab, “Without commitment, writing becomes less important than other things around us. Without commitment we will never make time for the craft, or give it the attention it deserves. Without commitment we will never create something truly memorable that could become our legacy”, ujar Warren. Tidak akan mungkin Anda menulis, jika Anda tidak memiliki komitmen. Tanpa komitmen, di mata Anda semua hal jauh lebih penting dibandingkan menulis, sehingga Anda tidak pernah menulis.

Anda tahu orang-orang yang bercita-cita mendaki gunung Puncak Jaya alias Cartenz Pyramid yang merupakan pendakian tertinggi di Indonesia, kemudian mereka datang ke gerai Jack Wolfskin atau Deuter untuk membeli berbagai asesoris pendakian bermerk, dan membawa pulang ke rumah dengan penuh kebanggaan. Ia memotret semua perlengkapan yang telah dibeli, membuatnya bisa bergaya di depan kamera bak pendaki profesional. Ia mengunggah berbagai foto perlengkapan pendakian itu di media sosial, dan menulis di dalam kamarnya “Aku ingin mendaki Cartenz Pyramid”.

Namun ia tak pernah mendaki. Tak pernah. Ia selalu merasa malas untuk melakukan pendakian, namun ingin. Hingga suatu hari ia merasa harus memaksa diri —dengan jalan membeli tambahan perlengkapan yang tambah meyakinkan. Ia datang ke gerai Osprey dan Mammut, membeli berbagai perlengkapan pendakian. Kini ia merasa lebih patut, karena peralatannya semakin komplit. Namun, lagi-lagi, ia memilih tidur di kasur empuk dibandingkan harus melakukan pendakian.

Demikian pula dalam dunia menulis. Tanpa komitmen, Anda hanya sibuk mematut diri dengan mencari asesoris para penulis. “Without commitment, we just wander the school supplies aisle at Target, or stare at the new notebooks in Staples. We blame the pen or keyboard for the empty page. Commit. Then watch what happens next”, ungkap Warren.

Ingat, Anda adalah penulis, bukan pembeli asesoris.

Bahan Bacaan

Chuck Warren, Learning to Write — Commitment, https://medium.com. 12 Desember 2017

Tony Fahkry , 4 Steps To Help You Stay Committed And Inspired To Achieve Your Goals, https://medium.com, 7 November 2017

Ditulis oleh Cahyadi Takariawan

Dipublikasikan di RUANG KELUARGA. Media edukasi keluarga, parenting, dan keharmonisan rumah tangga.