.
Oleh: Cahyadi Takariawan
Lakukan amal kebaikan, meski kita tak akan menikmati hasilnya di dunia. Ada amal kebaikan yang hasilnya dinikmati oleh generasi penerus kita.
Jika kita menenam pohon jati dari kecil hari ini, mungkin baru 30 tahun kemudian akan panen. Saat panen nanti, belum tentu kita masih hidup. Namun anak cucu kita bisa menikmati hasilnya.
Jika kita mendaftar haji sekarang, mungkin baru 30 tahun kemudian akan berangkat. Saat jadwal keberangkatan tiba, belum tentu kita masih ada. Namun anak cucu bisa ‘mewarisi’ jatah haji kita.
Nabi saw bersabda,
اِنَّ قَامَتِ لسَّاعَةُ وَفِى يد اَحَدكُمْ فسيلةٌ . فَاِن اسْتَطَاع انْ لاَتَقُؤمُ حَتّى يَغْرُسُهَا .
”Kendatipun hari kiamat akan terjadi, sementara di tangan salah seorang di antara kamu masih ada bibit pohon kurma, jika ia mampu untuk menanamnya, maka hendaklah ia menanamnya“ (HR. Imam Ahmad no. 3/83, Imam Bukhari dalam Al Adab Al Mufrad no 479)
Dalam Al-Jami’ Al-Kabir karya Imam As-Suyuthi, disebutkan Umar bin Khathab berpesan kepada seseorang tua renta,
عن عمارة بن خزيمة بن ثابت قال : سمعت عمر بن الخطاب يقول لأبي : ما يمنعك أن تغرس أرضك ؟ فقال له أبي : أنا شيخ كبير أموت غدا ، فقال له عمر : أعزم عليك لتغرسنها. فلقد رأيت عمر بن الخطاب يغرسها بيده مع أبي
Dari Amarah bin Khuzaimah berkata, “Aku mendengar Umar bin Khathab berkata kepada bapakku, “Apa yang menghalangimu untuk menanam lahanmu?”
Bapakku menjawab, “Aku tua renta yang (mungkin) akan mati besok.” Umar berkata, “Aku yakinkan, engkau harus menanamnya.”
Tetaplah berbuat kebaikan, meski bukan Anda yang memetik hasilnya di dunia. Anda akan memetik buahnya kelak di surga.