Kembali
Motivasi Menulis

“Tiga Laku” Sufi Mengatasi Gangguan Konsentrasi

.

RM 0012-20

Oleh : Cahyadi Takariawan

Dalam tulisan sebelumnya, simak kembali di sini, telah saya sampaikan berbagai gangguan konsentrasi dalam menulis. Dampak dari banyaknya gangguan konsentrasi, membuat seseorang tidak pernah menghasilkan karya tulis, padahal sudah mengalokasikan waktu rutin untuk menulis setiap hari. Dampak lainnya, bisa menghasilkan tulisan, namun dengan kualitas yang acak-acakan, karena terganggu saat proses kreatif menuangkan ide ke dalam tulisan.

Mari kita pakai konsep tasawuf dalam menyelesaikan persoalan ini. Dalam dunia tasawuf, dikenal ada tiga laku pendekatan diri kepada Allah, yakni takhalli, tahalli dan tajalli. Ketiga ‘laku’ ini biasa ditempuh oleh para santri tasawuf dalam mencapai derajat kemuliaan diri di hadapan Allah. Namun sesunggunya tiga laku ini bisa kita pinjam untukberbagai sisi aktivitas kebaikan dalam kehidupan —termasuk dalam belajar menulis. Karena tiga laku tersebut pada hakikatnya adalah ‘menghadirkan konsentrasi penuh’, jadi sesuai dengan konteks pembelajaran kita saat ini.

Mari kita bahas satu per satu dari ketiga laku tersebut.

  • Takhalli

Yang dimaksud dengan takhalli (tulisan Arab, menggunakan huruf kha’), adalah pengosongan atau pembersihan diri. Dalam dunia tasawuf, ini bermakna membersihkan diri dari sifat-sifat tercela. Dalam konteks belajar menulis, takhalli berarti membuang semua gangguan menulis, dan mengosongkan diri dari berbagai aktivitas yang dapat merusak konsentrasi menulis. Secara teknis, hal ini bisa dilakukan dengan menerapkan ‘protokol pengosongan’ sebagai berikut:

  1. Matikan dan jauhkan gadget dari tempat menulis
  2. Tidak makan besar selama masa menulis
  3. Menjauhkan aktivitas medsos selama menulis
  4. Tidak melakukan komunikasi, baik melalui telpon, chatting ataupun mengobrol secara langsung
  5. Tidak menerima tamu selama masa menulis

Anda harus disiplin melakukan laku takhalli ini. Ingat, waktu yang Anda alokasikan untuk menulis sangat sedikit dan terbatas, jangan Anda habiskan untuk melayani berbagai gangguan yang melenakan. Maka, jauhkan gadget dan smartphone anda dari tempat menulis, agar tidak menimbulkan gangguan. Jika anda menulis menggunakan smartphone, pastikan dalam kondisi offline. Matikan akses internet, agar tidak menimbulkan gangguan.

  • Tahalli

Laku kedua adalah tahalli. Yang dimaksud dengan tahalli (tulisan Arab, menggunakan huruf ha’) adalah mengisi atau menghiasi diri. Dalam dunia tasawuf, ini bermakna menghiasi diri dengan sifat-sifat terpuji. Dalam konteks belajar menulis, tahalli berarti mengisi waktu yang telah ditentukan untuk sepenuhnya menulis. Tidak diisi dengan aktivitas lain. Tidak bercampur dengan kegiatan lain. Waktu yang telah dikosongkan tersebut, hanya digunakan untuk menghasilkan karya tulis.

Secara teknis, hal ini bisa dilakukan dengan menerapkan ‘protokol pengisian’ sebagai berikut:

  1. Mengkondisikan diri dalam kondisi yang baik untuk menulis, misalnya berwudhu; berpakaian bersih, sopan dan rapi; menetapkan niat untuk ibadah kepada Allah
  2. Disiplin dengan waktu yang telah dialokasikan untuk menulis
  3. Memulai menulis sejak awal hingga akhir waktu
  4. Tidak melakukan aktivitas lain yang bisa merusak konsentrasi menulis maupun menghabiskan jatah waktu menulis
  5. Berkonsentrasi menghadirkan karya tulis yang berkualitas

Waktu yang Anda alokasikan untuk menulis akan benar-benar efektif, apabila Anda sukses menjalankan dua laku ini. Setelah laku takhalli, disambung dengan laku tahalli. Setelah menerapkan ‘protokol pengosongan’, diteruskan dengan ‘protokol pengisian’.

  • Tajalli

Laku ketiga adalah tajalli. Yang dimaksud dengan tajalli (tulisan Arab, menggunakan huruf jim) adalah transendensi. Dalam dunia tasawuf, ini bermakna menghubungkan diri dengan keagungan Allah, takhallaqu bi akhlaqillah. Dalam konteks belajar menulis, tajalli berarti memastikan bahwa semua konten yang Anda tulis benar-benar mencerminkan keagungan Allah Ta’ala —mudahnya: konten positif. Anda hanya menuliskan hal-hal yang benar, yang positif, yang memberikan kemanfaatan bagi diri maupun masyarakat luas.

Secara teknis, hal ini bisa dilakukan dengan menerapkan ‘protokol pengagungan Tuhan melalui tulisan’ sebagai berikut:

  1. Memurnikan orientasi dan tujuan menulis untuk ibadah
  2. Hanya menuliskan konten yang benar dan positif
  3. Tidak menulis konten yang melanggar kebenaran, syariat agama, hukum, Undang-undang, norma dan kepatutan
  4. Berjuang untuk melahirkan sebanyak mungkin karya tulis yang positif

Dengan menerapkan laku tajalli, Anda akan menjadi seorang penulis produktif yang menjadi ‘misionaris’ dalam menebarkan kebenaran, kebajikan dan kebermanfaatan di muka bumi —melalui tulisan. Di saat yang sama, Anda telah memenuhi ruang media —offline maupun onlie— dengan konten-konten positif. Maka berlakulah kaidah, idza ja-al haq zahaqal bathil. Keburukan akan lenyap apabila kebaikan disuarakan dengan massif.

Demikianlah tiga laku menghadirkan konsentrasi penuh dalam menulis, sebagai upaya untuk menghasilkan karya tulis berkualitas. Waktu yang telah Anda alokasikan untuk menulis bisa teroptimalkan sepenuhnya, dan mampu melahirkan produktivitas kebaikan —terlebih selama bulan Ramadhan.

Yogyakarta 1 Ramadhan 1441 H

Ditulis oleh Cahyadi Takariawan

Dipublikasikan di RUANG KELUARGA. Media edukasi keluarga, parenting, dan keharmonisan rumah tangga.