.
Rumesha / Rutin Menulis Setiap Hari – 11
Oleh : Cahyadi Takariawan
.
Kegelisahan adalah kondisi tidak tenteram, rasa selalu khawatir, tidak tenang, cemas, dan sebagainya. Semua manusia pasti pemah merasakan kegelisahan dalam kehidupannya.
Alasan paling mendasar dari terjadinya kegelisahan adalah karena manusia memiliki hati dan perasaan. Bentuk kegelisahannya bisa berupa keterasingan, kesepian, dan ketidakpastian hidup (Sujarwa, 2010).
Kadang kegelisahan tidak didasari oleh sebab-sebab yang jelas. Sigmund Freud (dalam : Sujarwa, 2010) membagi perasaan gelisah dan cemas menjadi tiga macam yaitu:
- Kecemasan kenyataan (objektif)
Kecemasan yang muncul karena ada bahaya dari luar yang mengancam dan benar-benar dihadapi secara nyata. Misalnya seorang ibu yang gelisah karena anaknya diculik; seorang istri gelisah karena suaminya selingkuh; seorang penulis yang gelisah karena tulisan belum selesai padahal sudah mencapai deadline; dan sebagainya.
- Kecemasan neurotik (syaraf)
Kecemasan yang muncul karena pengamatan tentang bahaya dari instink atau nalurinya. Misalnya takut berada di suatu tempat yang terasa asing dan harus menyesuaikan diri dengan lingkungannya; rasa takut yang irasional semacam fobia, gugup/gagap atau gemetaran.
- Kecemasan moral
Kecemasan yang hadir dari emosi diri sendiri, seperti sifat iri, dengki, dendam, hasut, tamak, pemarah, rendah diri, dan sebagainya. Karena sifat seperti ini, manusia cenderung mengalami rasa khawatir, takut, cemas, atau bahkan putus asa setelah melihat keberhasilan orang lain.
Sebagian besar kegelisahan tersebut disebabkan oleh rasa takut akan kehilangan hak, kehilangan nama baik, kehilangan cinta dan kasih sayang, maupun karena ancaman dari luar dan dari dalam.
Mengatasi Kegelisahan dengan Tulisan
Ada sangat banyak cara untuk mengatasi kegelisahan jiwa. Salah satunya adalah dengan mengekspresikan kegelisahan tersebut. Jika kegelisahan dipendam terus menerus, akan menjadi penyakit yang membahayakan kesehatan mental manusia.
Ekspresikan kegelisahan Anda dengan berbagai macam cara dan sarana, yang produktif. Jangan mengekspresikan kegelisahan dengan cara yang justru akan semakin menambah banyak masalah. Apalagi jika dengan cara destruktif, yang akan membawa kepada kerusakan dan kehancuran.
Ada sangat banyak cara mengekspresikan kegelisahan, di antaranya adalah dengan:
- Berbicara kepada orang lain yang tepat
Di dunia konseling, di antara tugas konselor adalah mendengarkan secara aktif dan merespon secara empati atas kegelisahan klien. Di ruang konseling, klien diminta berbicara, menyampaikan semua hal yang menjadi kegelisahannya. Setelah bercerita, semua hal dikeluarkan, hati menjadi lega, pikiran menjadi tenang.
- Menuliskan kegelisahan
Sangat banyak karya sastra maupun buku-buku akademik yang lahir dari kegelisahan penulisnya. Misalnya buku “Good Corporate Governance, Tinjauan Etik dalam Bisnis” karya Hamdani (2016). Menurut sang penulis, buku ini lahir dari kegelisahan akan penerapan etika dalam praktik bisnis. Pelanggaran etika banyak dilakukan oleh manajemen di lingkungan perusahaan. Hal ini tidak boleh dibiarkan.
- Mengekspresikan kegelisahan dalam karya seni
Banyak pelukis membuat karya yang berangkat dari kegelisahan. Banyak komposer lagu menciptakan syair dan melodi dari kegelisahan. Banyak seniman dan budayawan yang mengekspresikan kegelisahan melalui berbagai sarana dan media. Film, sinetron, drama, teater, opera, puisi, pertunjukan tari, dan komedi, bisa lahir dipicu kegelisahan atas kondisi zaman. Dari gelisah, muncul karya-karya indah nan menggugah.
- Menyalurkan kegelisahan dalam bentuk tindakan nyata
Banyak orang gelisah karena melihat masyarakat yang kesulitan ekonomi di masa pandemi. Untuk bertahan hidup saja kesulitan. Orang-orang yang gelisah ini menyalurkan keseglisahan mereka dengan jalan memberikan bantuan secara nyata, atau melakukan advokasi, atau melakukan perjuangan melalui jalur pemerintahan.
Menuliskan Kegelisahan Secara Sederhana
Anda bisa menuliskan kegelisahan secara sederhana. Dalam seratus kata saja, yang Anda tulis dalam 15 menit. Ini sudah membuat Anda menjaga rutinitas menulis setiap hari.
Saya benar-benar gelisah dengan anak-anak sekolah saat ini. Sejak mendaftar masuk sekolah, hingga naik kelas, tidak pernah ke sekolah. Tidak pernah bertemu guru. Tidak pernah bertemu teman-teman sekelas. Tak punya teman sebangku.
Mereka hanya di rumah, memegang gadget. Sesekali waktu menengok jadwal dan ada pelajaran. Pertemuan zoom meeting, setor nama, mengisi presensi. Namun layar gadget berpindah ke youtube, sinema atau game online.
Tanpa pengawasan orangtua atau siapapun. Ayah bekerja, ibu bekerja, tak ada yang bisa mengawasi dan menjaga. Banyak anak berpesta pora dalam keasyikan game online dan hiburan lainnya. Tak sedikit yang kecanduan pornografi.
Saya tidak bisa membayangkan, bagaimana guru bisa mengajar dan menilai tingkat pencapaian murid-muridnya. Semoga kondisi ini segera berakhir. Pembelajaran berlangsung seperti biasanya. Anak-anak kembali ceria.
*******
Tulisan kegelisahan di atas, berjumlah 119 kata. Saya tulis dalam tiga menit saja. Tidak perlu lama-lama, karena bahan tulisan sudah ada berupa kegelisahan.
Selamat berkarya. Rutinlah menulis kebaikan setiap hari, walau hanya seratus kata.
Bahan Bacaan
Sujarwa, Ilmu Sosial Budaya Dasar, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2010