Kembali
Kepustakaan

Waspada Dampak Kesepian, Jangan Meremehkan

.

Oleh: Cahyadi Takariawan

“The World Health Organization (WHO) has declared loneliness to be a pressing global health threat, with the US surgeon general saying that its mortality effects are equivalent to smoking 15 cigarettes a day” (Sarah Johnson, 2023).

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada bulan November 2023 telah menyatakan kesepian sebagai ancaman kesehatan global yang mendesak. Hal ini diumumkan setelah ahli bedah umum Amerika Serikat, mengatakan bahwa dampak kematian akibat kesepian setara dengan merokok 15 batang sehari.

WHO membentuk Komisi untuk Hubungan Sosial guna mengatasi masalah kesepian dan isolasi sosial. Komisi beranggotakan 11 orang dipimpin oleh ahli bedah umum AS, Vivek Murthy, dan utusan pemuda Uni Afrika, Chido Mpemba.

WHO menilai, pandemi Covid-19 telah menghentikan sangat banyak aktivitas ekonomi dan sosial, sehingga meningkatkan tingkat kesepian. “Isolasi sosial tidak mengenal usia dan batasan,” ungkap Chido Mpemba.

“(Kesepian) melampaui batas negara dan menjadi masalah kesehatan masyarakat global yang mempengaruhi setiap aspek kesehatan, kesejahteraan, dan pembangunan,” lanjut Mpemba.

Sebanyak 80% individu berusia di bawah 18 tahun dan 40% individu berusia di atas 65 tahun melaporkan kesepian (Pinquart & Sorensen, 2001). Dengan jumlah yang begitu besar, tentu harus dicari solusi yang tepat. Untuk memecahkan suatu masalah, cara terbaik adalah dengan memahami dengan baik masalah tersebut.

Risiko Kesepian

Menurut WHO, risiko kesehatan akibat kesepian sama buruknya dengan merokok hingga 15 batang sehari. Bahkan lebih besar dibandingkan risiko yang terkait dengan obesitas dan kurangnya aktivitas fisik. Vivek Murthy mengatakan satu dari empat lansia mengalami isolasi sosial di seluruh wilayah dunia.

Pada orang dewasa yang lebih tua, kesepian dikaitkan dengan peningkatan risiko demensia, serta arteri koroner atau stroke. Risiko demensia meningkat sebesar 50%, peningkatan risiko penyakit arteri koroner atau stroke sebesar 30%.

Kesepian juga merusak kehidupan generasi muda. Antara 5% dan 15% remaja di seluruh diunia mengalami kesepian, sebuah angka yang tidak mungkin untuk diremehkan. Di Afrika, 12,7% remaja mengalami kesepian dibandingkan dengan 5,3% di Eropa.

Remaja yang mengalami kesepian di sekolah/kampus lebih besar kemungkinannya untuk putus sekolah/kuliah. Hal ini juga dapat menyebabkan dampak yang lebih buruk yakni merasa terputus dan tidak didukung dalam pekerjaan, yang menyebabkan kepuasan kerja dan kinerja yang lebih buruk.

Orang yang kesepian sering terbangun di malam hari dan rata-rata memiliki kualitas tidur yang jelek. Mereka menyimpan perasaan gelisah yang membuat sulit tidur, sehingga memiliki waktu istirahat yang kurang. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa kesepian dapat membuat kesehatan memburuk dan bahkan menuju pada kesepian yang lebih jauh lagi.

Penelitian dilakukan oleh psikolog sosial dari Universitas Chicago, John Cacioppo, telah mempelajari efek biologis dari kesepian. Cacioppo menemukan hubungan kesepian dengan sejumlah penyakit.

Di antaranya, kesepian berdampak pengerasan pembuluh darah yang menyebabkan tekanan darah tinggi, peradangan dalam tubuh, dan bahkan masalah pada proses belajar dan memori. Cacioppo dan tim meneliti bagaimana sistem kekebalan tubuh berubah dari waktu ke waktu pada orang yang terisolasi secara sosial.

Pada orang kesepian yang melihat dunia sebagai tempat yang mengancam, sistem kekebalan tubuh memilih untuk fokus pada ancaman bakteri daripada virus. Tanpa perlindungan antivirus dan antibodi tubuh terhadap berbagai penyakit, seseorang lebih rentan untuk menderita semua penyebab kematian, seperti kanker, infeksi dan penyakit jantung.

Jangan meremehkan kesepian. Bukan hanya merokok, ternyata kesepian bisa membunuhmu.

Bahan Bacaan

Aliah B. Purwakania Hasan & Abas Mansur Tamam, The Implementation of Mental Health Concept by Imam Al-Ghazali in Islamic Counseling Guidance, Journal of Strategic and Global Studies Vol 1 No 1, Januari 2018, https://scholarhub.ui.ac.id/

Elizabeth Scott, How to Cope With Loneliness, https://www.verywellmind.com, 8 November 2022

Frankie Samah, The Qur’an and Mental Health, https://www.bps.org.uk, 14 May 2018

Institute for Muslim Mental Health, Islam & Mental Health, https://muslimmentalhealth.com/

Islam Online, Islam and Depression, https://fiqh.islamonline.net,

Kendra Cherry, Loneliness: Causes and Health Consequences, https://www.verywellmind.com, 3 Mei 2023

Leonard Holmes, What Is Mental Health? https://www.verywellmind.com, 13 April 2023

Melissa Madeson, How to Overcome Loneliness According to Psychology, https://positivepsychology.com, 28 Maret 2023 

Nancy Schimelpfening, Causes and Risk Factors of Depression, https://www.verywellmind.com, 16 Juni 2023

Osman Umarji & Farah Islam, Faith in Mind: Islam’s Role in Mental Health, https://yaqeeninstitute.org, 13 Mei 2022 

Rachael Green, The Connection Between Mental Health and Physical Health, https://www.verywellmind.com, 19 Mei 2023

Sarah Johnson, WHO Declares Loneliness a ‘Global Public Health Concern’, https://www.theguardian.com, 16 November 2023

Sara Lindberg, How Does Your Environment Affect Your Mental Health? https://www.verywellmind.com, 23 Maret 2023

WHO International, WHO Launches Commission to Foster Social Connection, https://www.who.int, 15 November 2023 

WHO International, Social Isolation and Loneliness, https://www.who.int, diakses 29 November 2023 

Ditulis oleh Cahyadi Takariawan

Dipublikasikan di RUANG KELUARGA. Media edukasi keluarga, parenting, dan keharmonisan rumah tangga.