.
Oleh : Kantin Emak Produktif (KEPO)
.
(1)
Jika suatu hari Allah memilihmu sebagai wasilah kemudahan atas urusan orang lain, maka permudahlah. Jangan membuat masalah orang lain semakin rumit dengan ego kita yang ingin mendapat sedikit pengakuan dari manusia. Urusan dibalas atau tidak, serahkan pada ahlinya, yaitu Allah. Kita tidak tahu kebaikan kecil kita yang mana, yang menuntun kita hingga ke surga Allah.
–Eli Halimah
(2)
Seberapa penting kau ingin dianggap ‘lebih’ dari orang lain; jika hatimu masih dipenuhi kesombongan dan dusta? Maafkanlah dia untuk kesalahannya. Allah akan ganti semua dengan yang lebih indah.
–Hellen Patraliza
(3)
Jika mendapat masalah jangan bersedih. Jika menderita sakit jangan meratap. Jika mendapat kesulitan jangan jangan menangis. Yakinlah, setiap masalah pasti ada solusinya. Setiap penyakit pasti ada obatnya. Setiap kesulitan pasti ada kemudahannya.
–Ifah Latifah
(4)
Apa susahnya mananamkan husnudhan? Sesuatu tanpa modal namun berpahala, ada di dalam hati. Lembut, ikhlas, damai dan nyaman. Memang perlu dilatih, sulit menerapkan dan menyikapinya. Apa susahnya berhusnudhan, dengannya hidup akan bahagia, indah dan tanpa beban.
–Ruri Ainiyah
(5)
Luka hati karena kata-kata lebih dalam dari luka akibat tamparan. Benarkah? Segeralah istighfar manakala kita pernah berkata tidak baik kepada orang lain dan menorehkan luka karenanya.
Apa yang tersembunyi di dalam hati, Allah Maha Teliti. Mungkin niat kita baik, namun perlu upaya untuk meyakinkan agar niat baik ditempuh “hanya” dengan cara yang baik. Tetaplah semangat dalam berdakwah meski ada saja salah, salah, dan salah. Bersabarlah, karena sesungguhnya dakwah itu jalan yang indah.
–Yulia K. Rohima
(6)
Bicara adalah jendela apa yang ada di dada. Bicara adalah cermin rasa dalam jiwa. Bicara adalah termometer kemampuan kita. Maka berhati-hatilah dalam berbicara. Gunakan rasa, pikiran, dan nilai didalamnya. Sehingga bicara kita bernakna. Jadikan bicara sebagai ladang pahala.
–Wydiesti
(7)
Seringkali kali kita bekerja membanting tulang demi mendapatkan rezeki lebih. Terkadang apa yang di harapan tidak sesuai dengan kenyataan, menyalahkan diri, merasa salah dalam bertindak. Yakinlah bahwasanya setiap upaya yang dilakukan, setiap hasil yang didapatkan di dalamnya ada campur tangan Allah.
Manusia fitrahnya bekerja, rezeki adalah urusan Allah, lakukan tugas sesuai kemampuan. Libatkan Allah dalam setiap kegiatan positif engkau akan temukan keberkahan di dalamnya. Mulai pekerjaan dengan Bismillah dan akhiri dengan Alhamdulillah, hal kecil yang terkadang dilupakan namun memiliki peranan besar dalam hidup.
–Warlinah
(8)
Siapa manusia di muka bumi ini yang belum pernah berdoa? Yang terpenting adalah saat berdoa itu, hatinya lalai atau tidak? Lalai artinya berdoa hanya di mulut saja, tetapi hatinya tidak yakin. Padahal Allah sudah berjanji akan mengabulkan doa semua hamba-Nya, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Ku-kabulkan bagimu” (QS. Ghafir:60).
Rasulullah saw pun pernah bersabda, “Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.” (HR. Tirmidzi).
Maka, bersungguh-sungguhlah dalam berdoa. Penuh keyakinan (yakin dikabulkan), dan selalu berprasangka baik kepada Allah.
–Dewindra
(9)
Jangan sia-siakan waktu, karena ia sangatlah berharga. Bahkan Allah sampai bersumpah di dalam Al-Qur’an untuk menegaskan betapa pentingnya waktu, “Demi masa”. Salah satu ciri-ciri waktu adalah : Ia tidak akan pernah kembali. Maka, gunakanlah waktumu sebaik mungkin.
–Meivany Azarini
(10)
Jika kau belum bisa melakukan semua amalan di Bulan Ramadan, milikilah amalan andalan. Lalu tambah dosisnya sesering smutis hijau yang kau minum itu. Sesungguhnya Alloh menyukai amalan yang sering dikerjakan walau sedikit. Karena Alloh tidak meminta 100%. Dia hanya meminta semampumu melakukan kebaikan-kebaikan.
–Sri Wahyuningsih
(11)
Ketika segenap usaha telah dilakukan. Seluruh kemampuan telah dikerahkan, saatnya berserah kepada Sang Maha penentu. Sebab kita, hanyalah makhluk yang dibatasi kelemahan dan kekurangan. Allahlah yang menggenggam takdir. Di tangan-Nyalah segala keputusan terbaik.
–Junayda Abinaya
(12)
Bagaimanapun, setiap orang pasti berusaha berbuat baik, bahkan yang terbaik dengan apa yang dimiliki. Orang-orang yang tidak peduli akan pujian atau rasa sakit disepelekan, di antara mereka tidak mengungkit dan menghitung berapa banyak kebaikan yang dilakukan. Karena dia yakin sudah ada Dzat Yang Maha Melihat dan Maha Jeli penghitungannya.
Merekalah yang menjaga keikhlasannya, dalam diam selalu berbuat. Berjuang melawan rasa diperhitungkan oleh manusia. Menempa ikhlas meski tak berbalas. “Tetap berjalan meski tertatih. Mencoba lebih cepat ataupun berlari-lari kecil. Kadang terjatuh, bangkit, dan tegak, meski dengan luka. Beri senyum pada hati, karena bukan sebuah ambisi. Tetapi ingin lebih banyak bekal dan lebih cepat sampai kepada-Nya”.
–Puspa Mafazan

(13)
Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah mengingatkan kita, “Perbanyaklah ibadah dan ketaatan di bulan Ramadan, sebagaimana Rasulullah dan para Sahabat telah mencontohkannya. Janganlah kesibukan dunia melalaikan kita dari keberkahan dan keberlimpahan pahala yang ada di bulan Ramadan.”
Bukankah sesungguhnya Allah telah memanggil kita dengan penuh kecintaan dengan panggilan “wahai orang-orang yang beriman”. Tidakkah panggilan itu menyentuh hati kita?
Bila dengan panggilan sebaik itu hati kita masih lalai dan lengah dari pengisi hari-hari Ramadan dengan kebaikan dan amal salih, maka dengan penggilan mana lagi hati kita akan tergerak? Ya Rabb jadikan kami hamba-hambaMu yang mendengar panggilanMu, dengan bersegera mendekat dan menaatiMu.
–Suesilowaty Sukirman
(14)
Jangan terpedaya oleh amalan yang dilakukan, dan jangan tertipu oleh pujian sebab merasa diri lebih baik dari yang lain adalah perkara yang menjerumuskan ke jurang kehinaan.
–Atifah Saleha
(15)
Pohon yang besar menjulang tinggi, tentu berasal dari akar yang kuat. Mampu menopang dalam berbagai cuaca dan suasana. Begitupun hidup di lalui dengan sabar, dan tawakal, maka akan berbuah kebaikan dan ketenang. Pada akhirnya akan merasakan dampak baik dari perubahan itu.
–Dede Nurjanah
(16)
Allah Swt berkehendak memberikan petunjuk dan melapangkan dada seseorang. Dan Allah pula yang dapat menjadikan seseorang sesak dadanya serta sempit. Sang Nabi adalah sosok yang telah dipenuhi dengan iman,diterangi cahaya kebajikan serta kebenaran dan kesucian dari dosa.
Dalam dada yang lapang dan hati yang bersih, bersemayan iman dan taqwa. Sehingga orang yang istimewa, dialah orang yang berlapang dada dan bersih hatinya. Semoga kita menjadi orang orang yang selalu berlapang dada.
–Nunun Nurlaila
(17)
Orang-orang yang berbahagia memiliki pandangan yang melampaui batas-batas kehidupan di dunia dan kehidupan setelah kematian. Mereka melihat kehidupan dunia hanya seperti setetes air dibandingkan kehidupan akhirat yang seperti samudera, atau seperti sebutir pasir di padang pasir yang luas.
Bisa jadi seseorang dari mereka adalah orang fakir yang tidak memiliki makanan untuk hari ini, tetapi berbahagia dengan kebahagiaan hakiki dan bergembira dengan kegembiraan sebenarnya, seolah-olah dia adalah raja dunia yang memiliki segalanya.
–Tatiek Rahayu Anwar (dikutip dari Kunci-kunci Kebahagiaan dan Keselamatan karya Prof. Dr. Ahmad Al-Mazyad & Prof. Dr. Adil Asy-Syady)
(18)
Kita tidak akan pernah merasakan kebahagiaan kalau kita tidak pernah merasakan kesedihan. Maka wajiblah kita bersyukur atas hadirnya kesedihan…sehingga kita bisa merasakan indahnya kebahagiaan.
–Wince
(19)
Pembiasan amal yang baik selama bulan Ramadan sebaiknya bisa berlanjut pasca Ramadan. Yuk kita jadikan kebiasaan baik selama Ramadan menjadi rutinitas yang terus berlanjut pasca Ramadan.
Orang-orang salih zaman dulu mempersiapkan Ramadan enam bulan sebelumnya dan atsar (dampak) Ramadan berbekas 6 bulan sesudahnya. Jadikan setiap bulan terasa Ramadan.
–Nur Pujiasih
(20)
Lakukan segala sesuatu dengan didasari cinta, maka yang muncul adalah rasa bahagia. Termasuk dalam menjalani ibadah, khususnya di bulan Ramadan. Lakukan karena mencintai Allah, pencipta kita. Semakin besar rasa cinta kepada-Nya, maka semakin semangat dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya.
–Dwi Handayanti
(++)
Apa kunci sukses menghadapi kehidupan? Sebagai hamba yang beriman pada qada dan qadar, kita harus selalu berdoa dan ikhtiar, serta bertawakal kepada Allah Swt. Di situlah letak keberhasilan.
–Sri Rohmatiah
(++)
Jangan bersedih jika cobaan dan ujian datang bertubi-tubi menghantammu. Boleh jadi itu cara Allah menghapus dosa-dosamu yang telah lalu atau mengangkat derajatmu dihadapan-Nya.
Namun bersedihlah jika engkau diberi kenikmatan, sedangkan dirimu bergelimang maksiat. Jangan-jangan itu adalah istidraj. Allah cabut semua kenikmatan saat kau terlena, dan pintu tobat pun telah tertutup.
–Leni Cahya
(++)
Jangan memunguti sampah emosi. Jika ada yang marah-marah tak perlu ikut marah. Dia sedang membuang sampah emosi. Rugilah Anda jika memungut dan menyimpannya ke dalam hati. Senyumin, maafkan dan tetaplah bahagia menikmati harimu.
–Ida Nurlaila
(++)
Maafkan orang-orang yang berbuat salah kepadamu, karena mungkin saja mereka tidak tahu. Maafkan orang-orang yang menyakiti hatimu, karena permaafan itu menambah kemuliaanmu. Maafkan orang-orang yang melukai perasaanmu, karena luka itu akan mendewasakanmu. Maafkan orang-orang yang mencelamu, karena kamu tidak akan tercela karena itu.
“Maafkanlah mereka semua, dan berlapang dadalah” (QS. An-Nur: 22). “Maafkanlah mereka semua, agar engkau mendapat ampunan Allah” (QS. At-Taghabun : 14). “Dan tidaklah Allah menambah kepada seorang hamba karena memaafkan, kecuali kemuliaan” (HR. Muslim).
–Cahyadi Takariawan