Kembali
Kutipan Inspirasi

20 ++ Pesan Kebaikan Hari Kesembilan Ramadan

(1)

Berhati-hatilah dengan kesedihan atau kesombongan diri. Mata hati tak kan mampu melihat kelebihan orang lain, yang tertampak hanya kelemahannya semata. Hanya orang-orang yang disibukkan dengan dirinya sendiri yang tak punya kemampuan berempati, bersimpati apalagi peduli.

–Syasha Lusiana

 (2)

Ketika manusia lahir, ia dalam keadaan tidak mengetahui apa-apa. Dengan kemurahan-Nya, kemudian ia tumbuh dan berkembang sehingga memiliki ilmu pengetahuan. Buku adalah salah satu jendela ilmu pengetahuan yang menarik untuk diwariskan. Tentang apa saja yang kau tuliskan, semoga menjadi amal jariyah yang senantiasa mengalirkan pahala kebaikan dan menginspirasi banyak orang.

–Yulia K Rohima

(3)

Janganlah menjadi orang munafik. Allah Swt. berfirman, “Orang munafik ditempatkan di neraka paling bawah (Qs. 4 : 145). Di antara ciri-ciri orang munafik adalah jika berbicara ia berbohong, jika berjanji ia mengingkari dan jika diberi amanah ia berkhianat.

–Meivany Azarini

(4)

Tugas kita adalah berbuat sesuai porsi yang telah Allah tetapkan. Kita hanya berhak mengurusi apa yang ada di dalam kendali kita. Sedang yang di luar itu, bukan urusan kita. Lakukan yang terbaik semampunya. Abaikan kritik yang melemahkan dan tidak membangun. Jangan terpengaruh anggapan orang lain tentang kita.

Kitalah pemegang kendali atas kebahagiaan hidup. Jangan biarkan prasangka orang lain mengendalikan pikiran kita.

–Junayda

(5)

Hidup itu seperti roda yang berputar. Kadang di atas, kadang di bawah. Terkadang kita mendapat kebahagian, terkadang mendapat kesedihan. Itulah nano-nano kehidupan. Hidup terus berjalan pantang menyerah kalah. Sabar ketika di timpa kesulitan dan ikhlas menerima kenyataan. Walau hidup tak sesuai dengan keinginan. Bersyukur ketika di beri nikmat walau sedikit.

Belajar untuk tidak membandingkan diri dengan kepandaian dan rezeki orang lain. Semua sudah Allah tentukan porsinya. Maka jalani saja  dan terus belajar dari orang-orang pilihan Allah Swt..

–Dede Nurjanah

(6)

Rezeki itu adalah ujian. Dimewahkan bukan berarti dimuliakan, disempitkan bukan berarti dihina. Dua kunci yang meluluskan kita adalah sabar dan bersyukur.

–Yohana Iyut

(7)

Burung yang sama akan berada di dahan yang sama. Demikian juga manusia, akan mencari teman yang memiliki minat dan impian yang sama. Jika impian terbesar kita adalah Jannah-Nya, tentu majlis ilmu yang menunjukkan jalannya paling pantas dimasuki.

Takkan berkumpul orang yang tujuan hidupnya hanya berhenti pada kesenangan dunia dengan orang yang menghendaki kehidupan akhirat dengan kesenangan abadi di Jannah-Nya. Maka carilah sahabat yang mengajak pada jalan kebenaran. Menegurmu saat melakukan kesalahan dan senantiasa mengajak berlomba dalam kebaikan.

–Leni Cahya

 (8)

Ramadan itu semacam festival yang dihadiahkan Allah bagi hamba-hamba-Nya. Bulan yang dari awal hingga akhir, setiap hari do’anya mustajab. Berperan aktiflah dalam meraih pahala sebanyak-banyaknya. Memohon ampunan dan ridha-Nya.

Memperbanyak baca Al-Qur’an juga tentunya sangat baik. Tetapi perlu diingat, bahwa membacanya saja tidaklah cukup. Berhentilah sejenak untuk merenung, lalu implementasikan sesuai disiplin ilmu masing-masing. Menggembleng diri selama Ramadan, jika dilakukan ikhlas, Lillahita’ala dan konsisten menjalankannya, tentu akan berdampak posif bagi kehidupan selanjutnya.

–Dewi Indrayati

 (9)

Marilah di bulan Ramadan ini kita memperbanyak  sedekah. Secara khusus Ibnu  Qudamah dalam kitab Minhajul Qashidin menyebutkan beberapa kriteria yang menerima sedekah, di antaranya :

  • Mereka yang bertaqwa dan bukan ahli maksiat
  • Mereka yang berilmu
  • Tahu harga diri atau tahu hakikat rezeki
  • Utamakan kerabat dan tetangga dekat.

Semoga kita dimudahkan oleh Allah untuk bersedekah di bulan Ramadan ini.

–Nur Pujiasih

(10)

Keterbatasan tak selamanya kelemahan karena kadang keterbatasan menyimpan kekuatan untuk mencapai kesuksesan kalau disertai keyakinan dan keuletan dalam mencapainya. Keyakinan dan kekuatan bersumber dari keimanan kita kepada Allah Swt..

–Wydiesti

(11)

Gapailah angan dan imipian setinggi langit, hingga kau raih gemerlapnya bintang-bintang. Tapi ingat, jangan lupakan bumi tempat kaki berpijak. Sebab saat kau kehilangan pegangan dan terjatuh bumilah yang akan selalu siap menyambut dan mendekap.

–Ifah Latifah

(12)

Hidup tak mengenal siaran tunda, maka bergegaslah menuju Rabb di waktu pagi dan petang dengan mengharap ridha-Nya. Optimalkan usia yang masih tersisa. Terus menerus melakukan amal salih hingga ajal menjemput kita. Menata diri, menata hati, beramal sedikit demi sedikit ibarat menanam benih pohon hingga tumbuh  segar tak layu dan berbuah ranum.

Saum itu menguatkan hati dan kecerdasan. Menambah kepintaran dan akhlak yang baik. Ketika seseorang saum, ia akan terbiasa sedikit makan dan minum, terendam syahwatnya, tercabut semua bahan maksiat dari akarnya. Ia akan masuk dalam kebaikan dari semua sisinya dan diliputi oleh kebajikan dari semua arah.

–Nunun Nurlaila

(13)

Menjadi kreatif merupakan sebuah keharusan sebab masing-masing orang tidak sama. Entah itu berbeda minat, kemampuan, bakat, atau slot waktu yg dimiliki dalam kesehariannya. Kreatif mengatur waktu, bukan saja membuat kita mempunyai lebih banyak waktu kosong tetapi juga memberi tubuh kita keteraturan sesuai dengan kondisinya. Demi waktu. Marilah semakin mahir mengelola waktu, terlebih di bulan suci saat ini.

–Sri Wahyuningsih

(14)

Terkadang manusia dalam perjalan hidupnya mengalami kesedihan yang mendalam karena kenangan masa lalu, kondisi yang jauh dari harapan. Bahkan tidak mampu melepaskan diri dari kesedihan, hingga terpuruk. Tahukah Anda, bahwa kesedihan akan membuat khawatir dengan segala kemungkinan di masa mendatang serta menyia-nyiakan kesempatan pada hari ini. Kesedihan tidak akan pernah mengembalikan sesuatu yang hilang, semua yang telah pergi. Sedih hanya membuat musuh gembira dan menyenangkan para pendengki. Dengan bersedih akan membuat hati menjadi kecut dan harapan kian menghilang.

–Warlinah

(15)

Keluarga adalah muara kehidupan. Keluargalah tempat kita berlabuh. Tempat kita berteduh dari ketakutan, kekecewaan, kepedihan, kekeringan fisik maupun hati. Keluarga mampu memaklumi daripada menghujat. Lebih banyak menerima daripada menuntut. Lebih mudah memperhatikan daripada menghakimi. Pulang, pulanglah ke keluargamu.

–Tatiek R. Anwar

(16)

Jangan pernah berharap orang lain akan memperjuangkanmu. Hanya dirimu sendirilah yang akan memperjuangkan dirimu. Kamu hanya perlu tahu betapa berharganya dirimu.

–Wince Jaminan

(17)

Hiduplah sebagai pribadi yang genuine, bermartabat, dan berharga. Jangan hidup di bawah bayang-bayang ekspektasi orang lain. Sepuhlah jiwamu dengan sepuhan fitrah Illahiah. Serap energi positif dan sekuat mungkin berusaha menetralisir pantulan energi negatif disekelilingmu.

–Atifah Saleha

(18)

Menanamkan pada diri untuk memiliki pencapaian-pencapaian menunjukkan kita pada tataran kesungguhan. Menjaga ambisi supaya tetap konsisten tidak melupakan nilai-nilai kebaikan dalam perjuangan. Memupuk kesabaran supaya kuat menghadapi ujian dan tantangan karena indahnya  perjuangan tidak seperti dugaan. Jika ingin berdiri pada anak tangga teratas hendaknya melewati yang paling bawah agar keberhasilan terasa mewah. Sertakan syukur, supaya bertambah berkah.

-Puspa Mafazan

(19)

Kita mengenal dosa kecil dan besar, tetapi sekali-kali kita tidak boleh menganggap remeh dosa kecil. Jika itu dilakukan terus-menerus, ia akan menjadi besar. Terlebih jika saat  melakukannya tidak terbersit rasa penyesalan sedikit pun. Sekecil apapun dosa, tetaplah menandakan keingkaran kita kepada Allah Swt. dan sekecil apapun penyesalan adalah tanda pertaubatan kita pada-Nya.

–Eli Halimah

(20)

Jika semua cara sudah kita lakukan untuk kebaikan, tetapi masih juga dusta dan khianat yang di terima. Lepaskanlah, kembalikan pada-Nya

–Hellen Patraliza

(++)

Saya tertarik dengan kalimat “ketidakpastian” karena dengan kalimat itu kita akan berusaha maksimal. Jika kita tahu besuk lulus ujian, maka kita tidak akan pernah belajar. Jika kita tahu besuk kaya, maka kita tak pernah mau bekerja. Jika kita tahu besok ada bencana saat ini kita berikhtiar mencari selamat. Dengan ketidakpastian akan ada sebuah kemungkinan, mari kita optimis  dan semangat memburu kemungkinan.

–Khuriyatul Ainiyah

(++)

Jika masih menyimpan luka dan perih, omong kosong bahwa engkau telah ‘selesai’. Memaafkan secara sempurna itu ketika mengingat atau membicarakannya, engkau tak bisa kembali memanggil semua rasa sakit yang pernah ada.

–Ida Nurlaila

(++)

Kamu berdoa meminta rezeki, sayangnya kamu hanya membayangkan harta. Padahal harta adalah rezeki yang paling rendah. Mintalah rezeki yang paling tinggi, rezeki yang paling utama, dan rezeki yang paling sempurna. Syaikh Mutawalli Asy-Sya’rawi menyatakan:

المَالُ هُوَ أَدْنَى دَرَجَاتِ الرِّزْقِ

و العَافِيَةُ أَعْلَى دَرَجَاتِ الرِّزْقِ

و صَلَاحُ الأَبْنَاءِ أَفْضَلُ أنْوَاعِ الرِّزْقِ

و رِضَا رَبِّ العَالَمِينَ فَهُوَ تَمَامُ الرِّزْقِ

“Harta adalah rezeki yang paling rendah. Afiyah adalah rezeki yang paling tinggi. Anak yang shalih adalah rezeki yang paling utama. Sedangkan ridha Allah adalah rezeki yang sempurna”. Semoga kita mendapatkan keseluruhan rezeki tersebut.

–Cahyadi Takariawan

Ditulis oleh ruangkeluarga

Dipublikasikan di RUANG KELUARGA. Media edukasi keluarga, parenting, dan keharmonisan rumah tangga.