Kembali
Kutipan Inspirasi

20 Pesan Kebaikan Hari Kesembilanbelas Ramadan

Oleh : Kantin Emak Produktif

(1)

“Dan lambung mereka jauh dari tempat tidur …” Semoga kita termasuk hamba Allah yang diberikan kekuatan untuk “menahan kantuk”. Mengoptimalkan ibadah pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadan, meraih cinta-Nya dengan perbanyak doa, istighfar, dzikir, sedekah, dan amal shalih lainnya. Ramadan is like the rain, it nourishes the seeds of good deeds.

–Yulia K Rohima

(2)

Ada beberapa etika berkomunikasi saat sedang silaturahmi. Diusahakan tidak mengajukan pertanyaan yang sifatnya pribadi dan sensitif. Contohnya :

  • Sudah menikah belum?
  • Sudah punya anak belum?
  • Kerja di mana?
  • Kok sekarang kurus/gemuk?
  • Wah, ponakan Bude sudah gede, sudah punya pacar belum? (Ma’af Bude, pacaran itu haram, ya).
  • Intinya dipilah-pilah dahulu, kalimat yang akan diucapkan, baik ketika bertanya maupun sharing.

Pertanyaan yang  ringan menurut kita, boleh jadi sangat berat bagi mereka. Meski di depan kita mereka bermuka manis, siapa tahu hatinya teriris.

–Dewi Indrayati

(3)

Ramadan kan berlalu, hanya sebulan dalam setahun kita bertemu dan selama sebelas bulan setelahnya kita kan merindu. Jangan biarkan diri menjadi golongan orang-orang yang mengabaikannya. ” Dan celakalah seseorang, Bulan Ramadan menemuinya kemudian keluar sebelum ia mendapatkan ampunan” (HR.Tirmidzi)

–Syasha Lusiana

(4)

Boleh jadi, kemampuan kita sebagai manusia terbatas, tetapi kekuasaan Allah tidak ada batasnya. Tidak seorang pun yang dapat menolak, jika Allah sudah berkehendak. Ketika Allah berkenan memampukan kita, tak satu pun yang bisa menghalangi. Kita hanya perlu bersiap diri. Maka, teguhkan mimpimu, tetaplah belajar, dan terus bergerak. “Sesungguhnya urusan-Nya, apabila Dia menghendaki sesuatu, cukup berkata kepadanya, “jadilah!” Maka terjadilah ia.” (Q.S. Yasin : 82)

–Junayda

 (5)

Dua pertiga Ramadan telah terlewati. Masyaa Allah, waktu begitu cepat berlalu. Mari sejenak kita mengevaluasi diri, sudah kita isi dengan apa saja waktu yang telah terlewati. Mungkin, saat ini mulai muncul lelah, bosan, dan malas. Tarik nafas, keluarkan, dan katakan, “Ayo semangat!”

Semakin mendekati akhir Ramadan akan semakin banyak keberkahan dari Allah Swt. Lailatul qodar, malam kemuliaan yang lebih baik daripada seribu bulan ada di 10 hari terakhir Ramadan. Rasulullah saw. mengisi 10 hari terakhir bulan Ramadan dengan melaksanakan i’tikaf di masjid. Mari kita hidupkan sunnah-sunnah Rasulullah di akhir Ramadan. “Pemenang sejati adalah yang tetap bertahan dan memberikan upaya terbaik hingga akhir pertandingan.”

–Dwi Handayanti

(6)

“Berprasangka buruk pada orang lain akan menimbulkan kedengkian dan prahara. Sebelum berprasangka buruk kepada orang lain coba pikirkan seribu alasan positif kenapa dia melakukan hal itu, semoga bisa membuat kita terhindar dari prasangka buruk.“

–Meivany Azarini

(7)

“Orang yang ikhlas kepada Rabbnya seperti orang yang berjalan di atas pasir, tidak terdengar langkah-langkahnya, tetapi terlihat bekas-bekasnya.” Abdullah bin Mas’ud

–Yuli Pinasti

(8)

“Berilah (kabar) pada mereka mengenai perumpamaan kehidupan dunia itu seperti air hujan yang Kami turunkan dari langit, kemudian tumbuhan di muka bumi menjadi subur sebab air tersebut, dan pada akhirnya tumbuhan itu menjadi kering yang mudah terbang karena hembusan angin. Allah itu Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS: Al-Kahfi : 45) 

Pelajaran penting dalam ayat itu adalah bahwa air dalam jumlah yang cukup akan manfaat, tetapi jika berlebih maka akan membahayakan. Seorang muslim tidak diminta untuk anti dunia, tetapi yang tidak boleh adalah jika dikendalikan oleh dunia atau diperbudak dunia.

–Dede Nurjanah

(9)

Insan yang hebat, tidak dihasilkan dari kemudahan, kesenangan dan kenyamanan. Mereka dibentuk melalui kesulitan, tantangan dan air mata. Seperti pesan RA. Kartini, “Terkadang, kesulitan harus kamu rasakan terlebih dahulu sebelum kebahagiaan yang sempurna datang kepadamu”.  

Allah Swt. pun berfirman, “Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (Q.S. Al Insyirah : 6). Untuk itu, berusahalah mempermudah urusan orang lain, sepanjang kemudahan itu menjadi kebaikan baginya karena siapa pun suka akan kemudahan dalam segala urusan.

–Nunun_Nurlaila

(10)

Tidak harus menunggu jadi hebat agar bisa mengikuti jejak Kartini. Mulailah dari hal paling sederhana yang mampu kita lakukan sebagai perempuan. Jadilah ibu yang baik, anak yang baik, pelajar yang baik. menjadi kakak atau adik yang baik, menjadi tetangga yang baik, atau paling minimal menjadi pribadi yang baik.

–Eli Halimah

(11)

Bersedekahlah jangan menunggu kaya! Harta yang sedikit jika di sedekahkan  akan menjadi berkah, Jangan pelit apalagi kikir, sebab  pelit dan kikir hanya akan membawa keburukan. “Dan jangan sekali-kali orang-orang yang kikir dengan apa yang diberikan Allah kepada mereka dari karunia-Nya mengira bahwa (kikir) itu baik bagi mereka, padahal (kikir) itu buruk bagi mereka. Apa (harta) yang mereka kikirkan itu akan dikalungkan (di lehernya) pada hari Kiamat. Milik Allah-lah warisan (apa yang ada) di langit dan di bumi. Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan” (Q.S. Ali-Imran : 180)

–Ifah Latifah

(12)

Ramadan segera memasuki sepertiga terakhir. Malam yang kita nantikan akan segera tiba. Setiap kita diberi waktu dan kesempatan yang sama untuk meraih keberkahannya. Pembedanya adalah bagaimana kita mampu mengisi malam yang setara seribu bulan itu dengan khusyuk beribadah kepada Allah. Bermunajat, merendahkan diri di hadapan-Nya, serta memohon belas kasih dan rahmat-Nya. Hasan Al-Bashri berkata, “Perbaikilah hari-hari yang tersisa ini semoga Allah mengampuni dosa-dosamu yang lalu.”

–Leni Cahya

(13)

RA. Kartini, dalam kisahnya ketika beliau berkunjung ke rumah pamannya di Demak, ia mengikuti pengajian bulanan di Pendopo Bupati Demak yang dibimbing oleh KH. Saleh Darat, ia mengajukan pertanyaan kepada sang Kyai, “Bagaimana mungkin beramal tanpa ilmu?” Hal ini menginspirasi sang Kyai untuk menerjemahkan Al-Quran ke dalam bahasa jawa aksara Pegon, hingga lahirlah Kitab Tafsir Al-Quran Faidhur Rahman. Dari gelap terbitlah terang merupakan pemahaman RA. Kartini akan Al-Quran Surat Al Baqarah ayat 257 yang artinya, “Orang-orang beriman dibimbing Allah dari kegelapan menuju cahaya”.

–Ayu Mulyati

(14)

Merugi lo menggelisahkan sesuatu yang belum tentu terjadi. Jangan-jangan nanti begini, begitu. Terus kalau begini, begitu, bagaimana saya nanti? Membuang tenaga jika berpikir sesuatu yang belum terjadi. Bismillah, optimis adalah kebaikan.

–Khuriyatul Ainiyah

(15)

“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (Q.S. Al-A’raf : 31). Berpijak kepada pesan Allah Swt. tersebut hendaklah dalam menyiapkan makanan berbuka dan sahur tidak berlebihan yang menjurus kepada pemborosan. Allah Swt. pun menjelaskan dalan surat Al-Isra, “Dan janganlah kamu menghambur hamburkan hartamu dengan boros, sesungguhnya pemboros pemboros adalah saudara saudara syaitan dan syaitan adalah sangat ingkar kepada Tuhan (Q.S. Al-Isra : 26-27).

–Nur Pujiasih

(16)

Keunikan pemikiran seseorang lahir dari pengalaman dan perenungannya yang mendalam. Penjajahan atau keterpurukan membuat seseorang bangkit, bukan hanya tindakan amarah tetapi disertai akal dan budi. Sebuah pemikiran dari seorang tokoh pejuang R.A. Kartini, “Dan terhadap pendidikan itu janganlah hanya akal yang dipertajam, tetapi budi pun harus dipertinggi.” Selaras misi Nabi Muhammad saw., “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (H.R. BUkhari)

–Puspa Mafazan

(17)

Mengidolakan sesuatu sah-sah saja, untuk hal yang positif yang cocok dengan pribadi kita. Namun untuk meniru seutuhnya pasti akan merugikan diri sendiri. Jangan memaksakan diri menjadi orang lain, belajarlah menjadi dirimu sendiri gali potensi yang ada pada diri, up grade selalu kemampuanmu, setiap insan memiliki potensi yang luar biasa dalam dirinya, insha allah semua akan tercipta sesuai apa yg telah ditentukan untukmu.

–Warlinah

(18)

Ketika kita meminta bahagia, Tuhan memberikan resah. Ketika kita meminta menjadi kuat, Tuhan memberikan air mata. Ketika kita meminta sabar, Tuhan memberikan rasa sakit. Ketika kita meminta ikhlas, Tuhan menghadirkan kehilangan. Semua yang terjadi dalam hidup sejatinya adalah ujian yang harus disyukuri.

–Hellen Patraliza

(19)

“(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.” (Q.S. Ali ‘Imran : 191)

Allah telah bentangkan alam sebagai ruang belajar. Allah kirimkan guru-guru kehidupan melalui perjumpaan : sebentar atau lama. Sesungguhnya ada ‘pesan cinta’ tersirat pada bening hati yang selalu mencari jalan pendakian taqwa. Mampukan kita memaknai peristiwa alam dan fenomena sosial sebagai sarana dzikir dan meluaskan kapasitas?

–Ida Nur Laila

(20)

Tiga hal yang jika kita mendapatkannya tiap hari, akan membuat hidup kita makin bermakna. Tiga hal yang selalu disebut dalam doa Nabi saw. usai shalat Subuh,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا

“Allahumma inni as-aluka ‘ilman nafi’a, wa rizqan thayyiba, wa ‘amalan mutaqabbala. Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amal yang diterima (di sisi-Mu).”—Cahyadi Takariawan

(++)

Seorang istri tidak dilarang  memoles dirinya dengan pendidikan yang tinggi. Hal itu memang dapat menjadi ladang amalnya tetapi istri juga punya ladang amal kepada suaminya. Dua ladang amal yang butuh kepandaian manajemen dan keikhlasan seorang istri sehingga tercipta keharmonisan keluarganya.

–Wydiesti

Ditulis oleh ruangkeluarga

Dipublikasikan di RUANG KELUARGA. Media edukasi keluarga, parenting, dan keharmonisan rumah tangga.