Kembali
Kutipan Inspirasi

20 ++ Pesan Kebaikan Hari Ketujuh Ramadan

Oleh : Kantin Emak Produktif

(1)

Sering kali kita membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Ketika mendapati orang lain lebih baik, kita termotivasi untuk melampauinya. Sepanjang pada koridor berlomba-lomba dalam kebaikan, hal itu sah-sah saja, bahkan dianjurkan.

Lalu, bagaimana kita mengetahui kekurangan diri agar bisa mengubahnya menjadi lebih baik? Jawabannya adalah hendaknya kita berteman dengan orang baik agar ia menilaimu dan mengenali musuh karena mereka tidak akan memuji, juga tidak akan berbasa-basi.

–Tatiek Rahayu Anwar

(2)

Nature gives to every time and season some beauties of its own (Charles Dickens). Alam tempat kita tinggal menorehkan keindahan dan berjuta kenangan. Pernahkah ketika melewati suatu daerah atau jalan, tiba-tiba bermunculan slide demi slide rekaman suasana dan peristiwa yang pernah terjadi di sana.

Setiap waktu menyimpan “drama”, setiap “drama” ada goalnya. Daun yang berjatuhan, tak akan luput dari pengetahuan Tuhan. Apa lagi perbuatan manusia? Semua ada catatannya.

–Yulia K Rohima

(3)

Semua manusia yang mengaku beriman, tidak akan pernah lepas dari rentetan ujian sepanjang hidupnya. Dalam Al-Quran, surat Al Ankabut ayat 2, Allah Swt. berfirman yang artinya, “Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan (saja) mengatakan, “Kami telah beriman,” sementara mereka tidak diuji lagi?” Nikmat yang paling indah adalah ketika kita sedang diuji sangat berat, tapi hati kita mampu mengucap, “Alhamdulillah.”

–Dewi Indrayati

(4)

Sabar dan ikhlas adalah obat dari segala kegundahan, kegelisahan, kekecewaan, rasa tertekan, dan kesedihan. Intinya adalah obat dari semua suasana hati yang buruk. Jika selama ini hati kita masih sering dipenuhi dengan rupa-rupa rasa itu, bisa jadi kita harus menambah dosis sabar dan ikhlas yang kita miliki, agar keduanya bisa menandingi semua kegelisahan hati dan hati kembali menjadi tenang dan terang.

–Eli Halimah

(5)

Tiada satu pun yang tahu apakah orang yang berada di dekat kita benar-benar tulus mencintai kita, tulus menjadi sahabat kita, tulus menjadi partner kerja kita. Tak usah risau. Cukup jaga hati untuk berprasangka baik kepada orang-orang di sekitar kita. Karena kebaikan akan kembali dengan kebaikan. Begitu juga sebaliknya, keburukan juga akan kembali dengan keburukannya.

–Ifah Latifah

(6)

Memang sulit untuk menggapai ikhlas dan sabar. Dinamika kehidupan kadang menempatkan seorang muslim dalam kondisi pelik karena itu ia dituntut untuk selalu ikhlas dan sabar. Sahabat ingkar? Tak perlu mungkar, apalagi bertengkar. Jadikan sabar karena ada Allah tempat kita bersandar.

–Hellen Patraliza

(7)

Setiap orang pasti ingin berhasil dalam hidupnya, seperti apapun kondisinya saat ini. Pemikirannya sudah merancang kehidupan yang akan dijalani, berhasil atau tidak tergantung usaha dan pemberi rezeki.

Semua tidak terjadi secara kebetulan. Setiap keberhasilan, kesuksesan dalam hidup sudah ada masanya dan waktunya telah ditetapkan oleh Allah. Jangan mengeluh, tugas Anda hanya berusaha, selebihnya adalah hak progratif Allah.

Jika hari ini Anda memaksimalkan diri untuk menggapai impian dan diberi kesempatan untuk mendapatkan. Terlepas dari semuanya ada doa orang-orang yang hebat yang juga selalu mendukung Anda, maka berterima kasihlah padanya.

–Warlinah

(8)

Hijab yang dikenakan oleh seorang Muslimah itu merupakan identitas diri bahwa dia adalah seorang muslim. Oleh karena itu, hendaklah ia menjaga akidah dan akhlaknya, agar apa yang ia tampilkan mencerminkan akidah dan akhlak seorang Muslim sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw.

–Meivany Azarini

(9)

Godaan terberat dalam menjalankan ibadah puasa bukanlah bagaimana mencegah masuknya makanan ke dalam mulut, tetapi bagaimana mencegah lisan tidak mengeluarkan kata-kata buruk dari mulut.

–Leni Cahya

 (10)

Berbagai persoalan pasti akan mendera setiap pasangan dalam bahtera rumah tangganya. Jadikan pasangan hidup kita menjadi teman sejati dan kembalikan persoalan tersebut pada Allah Swt. dalam menghadapinya maka Insya Allah solusi akan datang menghampirimu.

–Wydiesti

(11)

Mudah memaafkan adalah salah satu sifat penghuni surga. Saat kita memaafkan, hakikatnya bukan sekedar melapangkan hati orang lain, tetapi justru melapangkan hati dan menentramkan jiwa kita sendiri.

–Atifah Saleha

(12)

Hati mudah terkotori, jiwa mudah tercemari.   Basuhlah dengan dzikir, cucilah dengan tilawah. Bila engkau punya kebutuhan terhadap-Nya, ketuklah Dia melalui kalam-Nya. Lalu bedoalah agar dipermudah.

“Ya Allah bukakanlah untukku hikmah-Mu, dan bentangkanlah untukku rahmat-Mu, dan ingatkanlah apa yang aku lupa. Wahai Dzat Maha Agung dan Maha Mulia.”

–Syasha Lusiana

(13)

Jangan biarkan pahala puasa kita berkurang karena ucapan lisan yang kurang baik. Sesungguhnya setiap perbuatan yang dilakukan akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah. Berhati-hati dengan apa yang kita tulis dan share di media sosial. Berpikir dahulu sebelum berkata- kata, agar tidak timbul penyesalan di kemudian hari.

Itulah hikmah Allah memberikan kita akal pikiran, panca indera satu mulut dan dua telinga, agar lebih banyak mendengar dari pada berbicara. Dalam sebuah hadits Rasulullah mengingatkan kita “barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka berkatalah yang baik atau diam. (HR Bukhari dan Muslim)

–Nur Pujiasih

(14)

Terus terang saja, kenapa juga jaga gengsi, adalah satu sikap manusia yang berkenaan dengan harga diri, salah satunya adalah jaga gengsi. Gak usah ngoyo, gak pakai neko-neko, apa adanya saja, jangan karena gengsi kita berpenampilan layaknya banyak harta. ujung-ujungnya kita yang akan menanggung akibatnya. Jadilah diri sendiri, tanpa harus menutupi kelemahan dan kekurangan kita, karena orang lain pasti akan tahu. Sesungguhnya seorang pemuda itu yang mengatakan siapa saya, dan bukan siapa Bapak saya.

–Khuriyatul Ainiyah

(15)

Di satu titik kehidupan, kita akan menyadari, betapa pentingnya tujuan hidup. Mencari jawab arti kehidupan ini serta ke mana akhirnya pelabuhan yang kita tuju. Melalui keresahan hati akan pencapaian diri tak kan pernah usai, jika dunia menjadi ukuran prestasi. Marilah kembali kepada Tuhan, mengikuti firman-Nya:

“Tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan kalau mereka mengetahui.” (QS Al-Ankabut : 64).

“Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku” (QS. Al-Fajr : 27-30).

–Puspa Mafazan

(16)

Ramadan Syahrul Quran, Bulan Al Qur’an. Al Qur’an diturunkan saat Ramadan. Rasulullah saw. dan para sahabat meluangkan banyak waktunya untuk berinteraksi dengan Al-Qur’an. Mereka bisa mengkhatamkan Al-Qur’an sampai berkali-kali. Hal ini bisa dilakukan karena membaca Al-Qur’an menjadi prioritas amal yang harus dikerjakan.

Untuk menyelesaikan bacaan Al Qur’an sebanyak 1 juz rata-rata sekitar 40-60 menit. Ini hanya 1/24 dari waktu kita yang sehari penuh. Bila kita prioritaskan maka tak akan terlupakan untuk membaca Al-Qur’an setiap hari. “Jangan menunggu waktu luang untuk membaca Al Qur’an. Namun luangkan waktu untuk membaca Al Qur’an.”

–Dwi Handayanti

(17)

Bulan purnama menerangi kita, dua cahaya bersanding menyertainya. Jika Allah sudah suka dan sayang pada hamba-Nya, dunia akan mengikutinya. Bulan Ramadan telah tiba kita sambut dengan gembira. Jika umur  masih ada, InsyaAllah kita  berkumpul bersama. Tetap semangat meraihnya, walau raga tak lagi muda, meski muda  tiada semangat tak berdaya. Mari  jalani saja kesempatan yang  ada di depan mata. Berbuat baik tak mengenal masa. Ciptakan karya meski tak sempurna, selalu tersenyum bahagia walau ujian menerpa berjuntai rasa

–Dede Nurjanah.

(18)

Sahabat yang beriman ibarat mentari yang bersinar. Genggam eratlah ia, sebab yang menjadi kecintaannya tertuju  hanya karena Allah. Ia akan menegur jika kita salah dan menguatkan saat kita lemah, semua menentramkan. Ia akan senantiasa membimbing kita ke jalan Allah.

–Yuli Pinasti

(19)

Tiga masa yang pasti hadir di hidup kita. Kemarin, hari ini, dan esok. Semua tentang kemarin, telah tertinggal di belakang. Tak perlu sering-sering menengoknya karena bisa menghambat perjalanan. Hal-hal menyenangkan, cukup disimpan sebagai kenangan. Penyemangat langkah di kala lelah. Sedang segala kepahitan, biar ia jadi pelajaran, agar langkah tak kembali salah.

Pun tidak perlu mencemaskan apa yang akan terjadi hari esok, itu bukan urusan kita. Semua masih rahasia, di tangan Sang Mahakuasa. Tak perlu memikirkan apa-apa yang di luar jangkauan pengetahuan kita. Milik kita adalah hari ini. Bersungguh-sungguhlah untuk menyelesaikan tugas kehidupan pada hari ini dengan bahagia.

–Junayda

(20)

“Bila ingin mendapatkan sesuatu, belajarlah dengan memberi sesuatu.” Orang bahagia jjka dapat memberi, dapat melayani, dapat membantu sesama umat manusia. Seorang muslim bagai pohon kurma yang tidak berguguran daunnya, maka kebaikan yang dilakukan oleh seorang muslim tidak boleh terputus baik ketika dia hidup ataupun saat dia sudah wafat. Allah takkan melupakan kebaikan yang kau beri, kesusahan orang lain yang kau atasi, dan mata berduka yang telah kau buat bahagia.

–Nunun_Nurlaila

(++)

Sering kali dalam perjalanan mencapai tujuan banyak duka, tidak perlu berderai air mata karena tidak ada masalah yang berat. Berbesar hatilah untuk menerima dan berdoa pada-Nya, sejatinya doa adalah penyembuh duka.

–Sri Rohmatiah

(++)

Masalah adalah kemestian kehidupan. Saat ia datang, seakan membawa gulita kegelapan tanpa jalan keluar. Terasa berat seperti benang kusut. Ingatlah, serumit apapun masalah, akan menjadi mudah jika Anda menginginkan kebaikan.

–Ida Nur Laila

(++)

Betapa lemah diri kita. Hanya akan kuat jika dibantu dan dikuatkan oleh Allah yang Maha Perkasa. Untuk berdzikir, bersyukur, beribadah dengan baik, kita  tak mampu. Terlalu lemah untuk istiqamah. Maka lantunkan selalu munajat, minta bantuan dan kekuatan, “Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik”.

Ya Allah, bantulah aku untuk selalu berdzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan memperbaiki ibadahku kepada-Mu.”

–Cahyadi Takariawan

Ditulis oleh ruangkeluarga

Dipublikasikan di RUANG KELUARGA. Media edukasi keluarga, parenting, dan keharmonisan rumah tangga.