.
Oleh : Kantin Emak Produktif Oye (KEPO)
.
(1)
Hal apakah yang bisa membahagiakan manusia? Jika hanya berorientasi pada dunia, maka sungguh tak ada yang akan bisa memuaskan kesenangan manusia.
Namun jika memiliki jiwa yang qana’ah terhadap dunia, di situlah pintu kebahagiaan selalu terbuka.
–Cahyadi Takariawan
(2)
Setiap amalan bermula dari niat. Niatlah yang menentukan proses beramal kita dan bagaimana reaksi kita terhadap penerimaan orang lain pada amalan kita.
Jika niat kita adalah amal kebaikan untuk Allah semata, kita akan abaikan penilaian manusia. Ketika amalan kita membuahkan kesuksesan, hal itu tak membuat jemawa. Begitupun ketika amalan kita tak melahirkan puji, hal itu tidaklah membuat kita kecewa.
–Tatiek Rahayu Anwar
(3)
Allah SWT Maha Berkehendak. Sebesar apapun kuasa manusia, apabila Allah telah berkehendak, maka ia tidak akan mampu melawannya.
–Meivany Azarini
(4)
Masih ingat dengan doa kita satu tahun yang lalu? Ya, kita bermunajat dengan khusyuk, berharap agar kita dipertemukan kembali dengan Ramadhan tahun ini. Karena kita sadar, rasanya masih belum cukup bahkan masih jauh dari kata ‘sempurna’ memanfaatkan waktu saat Ramadhan.
Alhamdulillah, Allah telah mengabulkan doa kita dipertemukan kembali dengan Ramadhan tahun ini. Semoga waktu yang sangat berharga ini, dapat kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya.
–Hellen Patraliza
(5)
Dunia akan selalu berubah. Standar hidup termasuk kebahagiaan dengan sendirinya akan mengikuti.
Jika kita menyandarkan kebahagiaan hidup pada dunia, bersiaplah untuk berubah terus-menerus. Lalu sampai kapan? Tidak akan ada ujungnya dan tidak akan ada habisnya.
Namun, jika kita menyandarkan kebahagiaan hidup pada keistiqomahan hati, insyaallah perubahan dunia tidak akan memengaruhi hidup kita. Maka, pintalah keistiqomahan hati pada Sang pemilik hati, Allah Rabbul Izzati.
— Elhalima
(6)
Pernahkah anda merasa, waktu berlari terlalu cepat? Lebih cepat dari ritme hidup anda, sehingga untuk sekedar tumakninah pun tak sempat.
Kewajiban terkesan hanya digugurkan. Dan kenikmatan telah lenyap dari hidup. Yang ada adalah rasa digesa. Kemrungsung, kata orang Jawa. Ketenangan seakan mimpi yang hilang.
Maka, saatnya mengambil jeda. Menata ulang dan berani mengambil keputusan: Hidupmu, adalah pena yang kautuliskan, dengan izin Allah. Bukan dalam sekenario orang lain.
Biarlah mengalir dalam alunan yang menentramkan. Biarlah yang berhak nyaman mengambil dan mendapat haknya. Biarlah syukur adalah nafas harian dalam bahagia.
–Ida Nurlaila
(7)
Dahsyatnya Ramadhan membuat masyarakat menjadi konsumtif. Dimulainya awal Ramadhan banyak masyarakat berjubel di depan lapak penjual gorengan, aneka minuman, juga penjual toko baju.
Alhamdulillah berkah Ramadhan juga Allah memberikan jalan pintu rezeki bagi hambanya yang dikehendaki. Bersyukur hari ini masih menikmati suasana Ramadhan nan agung.
“Jika seseorang mempunyai cita-cita, maka ucapkan, yakinkan dalam usahamu bahwa suatu saat Allah akan mewujudkan dengan tanpa dinyana”
–Ruri Ainiyah
(8)
Menjadi seorang mukhlisin sungguh bukan perkara mudah, karena manusia diliputi hawa nafsu. Namun bukan berarti kita tak bisa menggapainya.
Mari jadikan Ramadhan sebagai pembuka jalan, dengan membuka pintu-pintu kebaikan dan bersabar menutup sebanyak mungkin pintu kemaksiatan.
–Leni Cahya
(9)
Berpuasa di bulan ramadhan wajib bagi setiap muslim, berpuasa adalah ritual pembersihan diri dari dosa.
Puasa merupakan satu-satunya ibadah yang istimewa, diverifikasi langsung oleh Allah dan orang yang menjalankan. Orang lain di sekitar kita tidak pernah tahu, dan tidak pernah mampu menilai, apakah sehari penuh kita berpuasa atau tidak. Sahur berbarengan namun bisa saja buka puasa tanpa sepengetahuan orang-orang disekitar, kecuali hanya Allah dan diri sendiri Yang Mengetahui.
Puasa adalah ibadah yang terang-terangan mampu menantang setan. Berpuasa tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tapi kita juga mampu menahan nafsu syahwat, dan amarah.
–Warlinah
(10)
Hati bagai cermin. Apabila bersih maka akan terlihat apa yang ada pada diri kita. Ramadhan adalah momentum yang tepat untuk membersihkan hati.
–Widi Esti

(11)
Jangan berfokus pada hasil. Karena semua hitungan amal tergantung niat awal kita memulainya.
Allah tak menilai baik buruknya hasil yang kita capai, melainkan tentang benar tidaknya proses ikhtiyar yang kita lalui untuk mencapai sesuatu. Bukan pula tentang suka atau tidak sukanya kita, melainkan ridho atau tidaknya Allah atas pencapaian kita.
–Dian Anggraini
(12)
Kata “maafkan saya”, terkadang menjadi sesuatu yang mahal. Tidak semua orang merasa perlu mengatakan hal tersebut. Terlepas dari merasa tidak bersalah, malu mengakui, menjaga harga diri, atau alasan lain.
Ramadan tiba seolah membuka tirai-tirai salah kita. Tidak ada celaan bagi siapa pun yang lebih dulu meminta maaf. Dimaafkan atau tidak, bukan urusan si peminta maaf. Dia hanya ingin pengakuan dari Rabbnya, bahwa sungguh hatinya bertaubat.
Ramadan hari pertama, jiwaku terasa penuh harapan.
–Yulia K Rohima
(13)
Tak ada yang kebetulan dalam kehidupan. Begitupun pertemuan kita dengan Ramadhan tahun ini. Ada sesuatu yang sangat layak kita syukuri, masih diberi kesempatan beramal saleh tak terhingga di bulan yang mulia. Relakah kita melewatkannya?
–Atifah Saleha
(14)
Kenapa takut mencoba? Hidup ini hanya ada dua resiko. Resiko karena kita mencoba dan resiko tanpa mencoba.
–Sri Rohmatiah
(15)
Hidup adalah perjalanan takdir. Dalam setiap detik yang kita lalui, terjadi perpindahan dari satu takdir kepada takdir yang lain. Tiada seorang pun yang melarikan diri dari sebuah takdir, melainkan ia mendekati takdir yang lain.
Allah pergilirkan antara takdir yang baik dan yang buruk dalam kehidupan manusia. Lapangkan hati untuk menerima yang mana saja. Sebab pada kenyataannya, tiada satu pun ketetapan yang datang dari Allah itu berupa keburukan. Semuanya pasti yang terbaik.
–Junayda
(16)
Ramadan sering dijadikan banyak orang sebagai momentum menuai pahala sebanyak-banyaknya. Ada juga yang menjadikannya sebagai ajang memperbaiki diri.
Muhasabah diri atau bahkan healing terhadap segala rasa yang tidak nyaman dalam dirinya. Apa pun itu, tentu akan sangat berdampak positif bagi yang melakukannya, jika niatnya karena Allah semata.
Imam al-Nawawi dalam al-Majmu’ Syarah al-Muhadzdzab mensunnahkan membaca doa di awal Ramadhan: Allâhumma ahillahu ‘alainâ bil yumni wal îmani was salâmati wal islâm. Rabbî wa rabbukallâh.
Ya Allah jadikanlah hilal (bulan) ini bagi kami dengan membawa keberkahan, keimanan, keselamatan, dan keislaman. Tuhanku dan Tuhanmu (wahai bulan) adalah Allah.
–Dewi Indrayati
(17)
Menahan diri hakikat dari ibadah puasa. Mengucapkannya mudah tetapi tidak semudah kita melaksanakan.
Yang tersulit adalah menahan keinginan sendiri. Di saat kita mampu melakukan sesuatu yang tidak bermanfaat tetapi tidak kita lakukan. Itulah sebenarnya menahan diri
Di saat kita punya kekuasaan terhadap sesuatu dan kita bisa menahan diri terhadapnya, di situlah letaknya kekuasaan sejati.
Di saat kita bisa memenuhi semua keinginan hati, tetapi tidak kita ikuti disaat itulah kita menjadi pemenangnya. Dan ketika kita bisa memenangkan diri kita dari hawa nafsu, disaat itulah kita akan menjadi pemenang sejati
Taklukkan dirimu, Maka dunia akan takluk padamu
–Wince
(18)
Niat yang kuat akan mengalahkan kemalasan. Jangan bikin kendor .
–Dwi Handayanti
(19)
Tidak ada yang perlu dikhawatirkan selama kita bersandar pada-Nya, sebab kekhawatiran hanya mendatangkan kelemahan jiwa dan setan dengan mudah menguasai pikiran pikiran kita, maka jadikan sholat dan sabar serta syukur menjadi penolongmu.
–Yuli Pinasti
(20)
Jika seseorang melakukan keburukan kepadamu maka janganlah kamu membalas dengan keburukan pula. Yakinlah semua pasti berlalu dan kamu akan mendapati keburukan itu menjadi sebuah kebaikan atas dirimu
–Ifah Latifah
++
Ramadan telah tiba . Ahlan wa Sahlan yaa Ramadan. Harapan bertaburan untuk melukis amal kebaikan pada bulan yang lebih baik dari seribu bulan ini.
Agar Ramadan berhias amal dari awal sampai akhir, jangan lupa alunan dzikir dan do’a yang terukir.
Berjuang maksimal karena perjuangan itu menjadikan sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin.
–Puspa Mafazan
++
Memaafkan itu wilayah hati, melupakan wilayah ingatan. Puasa menguatkan keduanya, menguatkan hati yang rapuh, membersihkan ingatan yang terluka
Hanya orang-orang yang beriman penuh ketakwaan yang mampu menangkap keduanya.
–Syasha Lusiana
++
Mengawali Ramadan dengan benahi niat agar senantiasa tulus ikhlas. Bersungguh-sungguh beramal baik dengan iman yang terhujam di dasar hati. Tarikan ruh melangitkan do’a. Memantaskan diri hanya mengharap rida Ilahi.
Mulailah memasuki kemulian Ramadan dengan melepaskan maaf kita untuk mereka yang pernah hadir dalam memori masalah lalu yang tidak baik. Maafkan … maafkan … maafkan.
–Nunun Nurlaila