4 Tips Menjadi Ibu yang Berbahagia

4 Tips Menjadi Ibu yang Berbahagia

Oleh : Ummu Rochimah

Ketika seorang ibu ditanyakan, apakah ia bahagia mempunyai anak? Hampir semua ibu akan menjawabnya ‘ya’. Benarkah?

Seorang psikolog dan peneliti perilaku, Peter Ubel yang merupakan guru besar psikologi di Universitas Michigan, Amerika Serikat melakukan penelitian terhadap 900 orang dengan status
sebagai ibu yang memiliki anak. Hasil penelitiannya melaporkan bahwa ibu dari anak-anak di bawah usia 3 tahun mengalami kondisi tertekan. Terlalu letih, frustasi dan terkadang mudah marah menjadi menjadi jawaban terbesar para ibu dalam penelitian tersebut. Akibat negatif lainnya yaitu menjadi mudah cekcok dan konflik dengan pasangan.

Alhasil, ternyata mengurus anak hanya sedikit lebih menyenangkan ketimbang pekerjaan rumah tangga. Begitulah hasil penelitian yang dilakukan oleh Peter Ubel di Universitas Michigan.

Sementara pekerjaan sebagai ibu adalah sesuatu yang akan terus melekat pada diri seseorang yang memiliki anak. Apakah kemudian seorang ibu tidak berhak bahagia?
Kebahagiaan seorang ibu bukan lah hasil pemberian dari orang lain, suami sekalipun. Tapi ia harus diupayakan oleh si ibu sendiri.

Bila diibaratkan kebutuhan hormon bahagia seorang istri atau ibu itu seperti sumur yang harus diisi, 90% isi sumur kebahagiaan menjadi tanggung jawab istri atau ibu untuk mengisinya dan sisanya yang 10% menjadi tanggung jawab suami. Walau hanya 10% saja, namun ini dapat mempengaruhi kelengkapan kebahagiaan seorang istri atau ibu. Ketika seorang istri hampir terpenuhi sumur kebahagiaannya, maka suami akan termotivasi secara alami untuk melengkapinya hingga mencapai 100%.

Namun bila sumur itu sama sekali kosong, ibu tidak memulainya untuk mengisi sumur tersebut dan


hanya berharap suami mengisinya, maka sumur kebahagiaan itu hanya mampu terisi sebesar 10 % sehinga sang istri akan tetap merasa kosong.

Dengan bertanggung jawab terhadap kebahagiaan sendiri sebagai istri atau ibu mengisi sumur kebahagiaan hingga hampir penuh dan suami kemudian melengkapinya hingga menjadi benar-benar penuh, maka seorang istri atau ibu akan mampu
memposisikan diri dan pasangan dalam suatu hubungan yang jauh leibh berhasil.

Untuk itu sebagai ibu atau istri perlu melakukan hal-hal berikut agar kebahagiaan senantiasa melingkupi dirinya :
1. Mulai dari Diri Sendiri

Langkah pertama untuk menjadi seorang istri atau ibu yang bahagia adalah menghargai apa yang dilakukan saat ini. Menjadi seorang istri itu penting, menjadi ibu itu penting.

Setelah itu, mencari cara agar dapat melakukan pekerjaan itu dengan lebih menyenangkan. Ketika seorang istri atau ibu sudah menemukan cara yang menyenangkan dalam melakukan pekerjaannya, maka bukan saja ia akan melakukan hal terbaik untuk diri sendiri, tapi juga akan menjadi istri
dan ibu yang lebih menyenangkan bagi suami dan anak-anak.

Sebagai contoh, misalnya saat anak yang masih kecil menginginkan minum susunya dengan gelas yang berwarna merah, sementara saat itu gelas merahnya sedang kotor belum dicuci. Jika hati sedang kusut, mungkin saja sang ibu akan mengatakan,
Duh, mau minum aja pakai
pilih-pilih gelas, pakai yang ada aja!”

Tentu hal ini akan membuat suasana hati keduanya menjadi tidak nyaman, hati ibu dan anak.

Tapi, jika sang ibu bersikap positif, dengan perlahan ia sampaikan,
“Dek, maaf ya.. gelas merahnya kotor, belum dicuci, pakai yang ini aja dulu ya, ini juga bagus kok..”
Jika cara ini belum juga berhasil dan anak masih kekeuh mau pakai gelas merahnya, maka sedikit kreatiflah sebagai ibu, cari kertas merah, gunting dan tempelkan pada gelas tersebut lalu berikan kepada anak.
Cara kecil ini dapat menerbitkan kebahagiaan di hati ibu dan anak, ketimbang ngotot dengan anak.

2. Mengakui Saat Lelah atau Stress

Perasaan stres atau tertekan dapat bermula dari perasaan dalam diri sendiri berupa harapan atau ekspekatasi menjadi seorang istri atau ibu yang sempurna, menjadi wonder woman, ibu segala bisa. Sehingga, ketika timbul ketidaksesuaian antara harapan dan kenyataan, sekecil apa pun hal itu dapat mengakibatkan stres.

Maka mulailah untuk berhenti mengharapkan menjadi istri atau ibu yang sempurna, karena dengan itu maka hidup menjadi istri atau ibu menjadi lebih mudah.

Tidak mengapa jika terkadang istri atau ibu merasa lelah, katakan terus terang kepada pasangan atau kepada anak-anak,
Ibu lelah, boleh ngga istirahat dulu..” atau
Aku lelah mas, mau istrirahat dulu.

Mengakui dan menerima diri kala lelah atau stress bukan berarti ia menjadi ibu yang buruk. Karena istri atau ibu itu kan juga manusia punya rasa punya hati.

3. Istirahat yang Cukup

Menurut Norbert Schwart, PhD dari Universitas Michigan bahwa, uang yang banyak tidak terlalu berpengaruh terhadap kebahagiaan ketimbang tidur yang cukup.

Seorang ibu dari anak berusia satu tahun bercerita, suaminya mengambil alih tugas pengasuhan anak selama dua jam di akhir pekan sehingga ia bisa istirahat dengan tidur siang
yang nyenyak dan tanggapannya, “Nyata sekali bedanya.”

Ia menjadi lebih segar dan siap melakukan sesuatu dalam hal pengasuhan secara lebih positif.

4. Mempertimbangkan Prioritas

Hal ini kelihatannya sesuatu yang sepele. Tapi, prioritas menjadi salah satu kunci untuk seseorang berada
dalam suasana hati yang lebih positif sehingga ia bisa melakukan lebih banyak hal yang disukai.

Ketidak mampuan seseorang dalam menetapkan skala prioritas dalam kehidupannya akan membuat ia selalu berada dalam keadaan hectic, seolah-olah perkerjaan tidak ada habisnya, bingung harus memulai dari mana, semua menjadi penting atau semua menjadi tidak penting.

Yuuk kita mulai hari ini untuk menjadi ibu yang berbahagia.

Ummu Rochimah

Tinggalkan Balasan