8 HAL YANG HARUS BERUBAH SETELAH MENIKAH

8 HAL YANG HARUS BERUBAH SETELAH MENIKAH

Oleh : Cahyadi Takariawan

Apakah ada bedanya bagi anda, keadaan sebelum dan setelah menikah? Sebagian orang menganggap ada bedanya, namun perbedaan keadaan itu biasa saja. Bahkan ada orang yang mengatakan, sama saja. Tidak mengerti apa yang berbeda antara sebelum dan setelah menikah. Nah, setelah membaca tulisan ini, anda akan mengerti bahwa sangat banyak hal yang berbeda. Bahkan harus berubah, karena konsekuensi pernikahan yang mengharuskan adanya sejumlah perubahan keadaan yang signifikan.

Setelah menikah, lelaki dan perempuan lajang telah berubah status menjadi suami dan istri. Maka mereka terikat oleh sejumlah peran, hak dan kewajiban yang melekat pada posisi masing-masing. Tentu diperlukan sejumlah perubahan secara bersama-sama, untuk memulai kehidupan baru yang harus segera mereka jalani. Berikut ini adalah delapan sisi dalam diri suami dan istri yang harus ada perubahan bersama pasangan:

1. Status dan Tanggungjawab

Sebelum menikah, anda disebut lajang atau jomblo. Setelah menikah, anda disebut suami dan istri. Kelak setelah punya anak, anda disebut ayah dan ibu. Setelah punya menantu anda disebut ayah dan ibu mertua oleh menantu anda. Dan setelah punya cucu nanti, anda disebut kakek dan nenek. Dalam seluruh fase kehidupan kita, ada status yang berbeda, dan oleh karena itu memunculkan tanggungjawab yang berbeda pula. Perbedaan status dan tanggungjawab ini harus anda sadari sepenuhnya sejak sebelum menikah, sehingga tidak menimbulkan kekagetan setelah menikah.

Ini salah satu alasan mengapa untuk menikah dipersyaratkan harus sudah aqil dan baligh. Aqil atau berakal, artinya seseorang sudah bisa berpikir dengan benar, mengerti perbedaan antara benar dengan salah, bisa membedakan yang boleh dan tidak boleh, yang patut dan tidak patut, yang layak dan tidak layak. Baligh atau dewasa secara ukuran fikih, bagi laki-laki adalah ihtilam atau mimpi basah, sedangkan bagi perempuan adalah haid. Namun harus ditambah dengan kedewasaan secara kejiwaan, bahwa seseorang sudah mampu memikul tanggung jawab.

2. Kebebasan dan Keterikatan

Sebelum menikah, masing-masing anda adalah orang bebas merdeka. Saat kuliah, apalagi ketika hidup ngekos, maka benar-benar anda makhluk yang sangat merdeka. Memutuskan berangkat kuliah, pulang kuliah, mampir dimana, pergi kemana, makan dimana, makan jam berapa, mandi kapan, tidur jam berapa, posisi tidur seperti apa, saat tidur lampunya menyala atau dimatikan, memakai selimut atau tidak, bagaimana cara berpakaian dan berpenampilan; semua itu adalah kehendak bebas anda masing-masing. “Terserah gue”, demikian kira-kira pernyataannya.

Namun setelah menikah, anda berdua saling terikat satu dengan yang lainnya. Maka anda tidak bisa lagi terserah gue. Karena anda memiliki pasangan yang akan sangat terpengaruh oleh ritme dan kondisi anda. Ketika memutuskan untuk pergi, walaupun rutin setiap pagi untuk bekerja, maka perlu konfirmasi dengan pasangan. Pulang jam berapa, mampir dimana, makan dimana, makan apa, perlu konfirmasi dengan pasangan. Semua harus disesuaikan dengan keinginan pasangan, karena anda sudah tidak lagi memiliki kebebasan penuh seperti saat lajang.

Tidur anda jam berapa, seterang atau segelap apa suasana kamar anda saat tidur, posisi dan cara tidur anda seperti apa, semua perlu dikonfirmasikan dengan pasangan. Penampilan, dandanan, asesoris yang anda kenakan baik ketika di rumah maupun keluar rumah, perlu konfirmasi dengan pasangan. Karena pasangan anda akan merasa tidak nyaman jika penampilan dan dandanan anda tidak sesuai dengan keinginan dan harapannya. Ini semua adalah contoh kebebasan yang sudah berakhir, karena anda memasuki wilayah keterikatan satu dengan yang lain bersama pasangan.

3. Kesendirian dan Kebersamaan

Sebelum menikah, bisa jadi ada sebagian orang yang lebih suka sendirian dalam segala sesuatu. Ada orang yang menikmati kesunyian, bekerja dalam kesendirian, beraktivitas dalam diam, penuh kesibukan namun tidak ingin kelihatan. Setelah menikah, ia tidak boleh lagi dengan seenaknya mengatakan “aku ingin sendiri”, atau “jangan ganggu aku”, karena sekarang sudah ada istri atau suami di sampingnya. Dulu ia bebas bertindak seperti itu karena memang belum memiliki pasangan. Setelah menikah maka harus ada kesadaran yang utuh untuk sharing dalam segala sesuatu.

Dulu anda tidur sendirian, setelah menikah anda harus menerima perubahan bahwa ada pasangan yang tidur di samping anda. Dulu anda suka makan sendirian, setelah menikah anda harus bisa menikmati makan berdua dengan pasangan. Dulu anda suka bepergian dan berkegiatan sendirian, sekarang anda harus bisa menikmati pergi dan berkegiatan bersama pasangan. Dulu anda memutuskan segala sesuatu seorang diri, kini harus melibatkan pasangan dalam mengambil keputusan penting, karena apapun yang terjadi pada anda akan berdampak kepada pasangan anda.

4. Cita-cita dan Realitas Keadaan

Sebelum menikah anda sudah memupuk harapan dan cita-cita. Ingin kuliah lanjut S2 dan S3 di luar negeri, ingin bekerja di sektor tertentu, ingin menekuni profesi tertentu, ingin memiliki sesuatu, ingin tinggal di daerah atau negeri tertentu. Semua cita-cita dan keinginan tersebut tentu sah saja, karena masing-masing dari anda sudah memiliki rencana untuk menjadi panduan dalam memilih jurusan saat sekolah dan kuliah. Bahkan berbagai pengorbanan dan perjuangan sudah anda lakukan dalam masa yang panjang untuk mewujudkan cita-cita dan harapan tersebut.

Namun setelah anda menikah, ceritanya bisa berbeda. Ya benar, bisa berbeda. Karena pernikahan adalah misteri, anda tidak tahu ketemu jodoh dimana, jodoh anda berasal dari mana, dengan pendidikan apa, dengan profesi apa, akan bekerja dimana, akan tinggal dimana; pada awalnya kita semua tidak ada yang mengetahuinya. Baru setelah menikah, ternyata bertemu dengan jodoh yang mungkin saja membuat anda harus mengubah dan menyesuaikan berbagai cita-cita yang sudah lama anda rencanakan dalam kehidupan. Inilah realitas keadaan yang harus anda hadapi bersama pasangan.

Bisa jadi ada situasi dan kondisi dalam hidup berumah tangga yang membuat seorang perempuan harus mengikuti tempat tinggal suami; atau seorang lelaki harus mengikutitempat tinggal istri, karena adanya alasan tertentu. Mungkin anda dan pasangan anda bekerja pada instansi yang sama, namun mendapat penempatan pada daerah yang sangat jauh jaraknya. Apalagi ketika instansi tempat anda bekerja memang berbeda, maka lebih memungkinkan mendapatkan tugas di daerah yang berbeda. Nah berbagai situasi dan kondisi seperti ini harus disikapi dengan bijak. Maka bicarakan baik-baik, bagaimana menemukan solusi yang bisa diterima dengan nyaman oleh semua pihak.

5. Kebiasaan dan Gaya Hidup

Bisa jadi anda berdua berasal dari keluarga yang berkecukupan, bahkan berkelebihan. Saat masih lajang anda terbiasa mendapatkan kecukupan resources dari orang tua, tanpa pernah merasakan kesulitan dan kekurangan. Semua serba ada, anda tinggal menyampaikan daftar keinginan kepada orang tua. Kiriman uang tiap bulan mengalir, masih ditambah fasilitas motor atau bahkan mobil, berikan uang untuk operasional dan perawatan. Kondisi ini membentuk kebiasaan dan gaya hidup tertentu pada diri anda. Demikian pula apabila terjadi sebaliknya. Apabila anda berasal dari keluarga yang kurang mampu, yang serba sulit kondisinya. Inipun akan membentuk kebiasaan dan gaya hidup tertentu.

Setelah menikah, anda harus hidup mandiri, terlepas dari orang tua. Bahkan ada masa dan situasi tertentu, dimana anda harus membantu kehidupan orang tua dan keluarga lainnya. Maka seperti apapun kebiasaan dan gaya hidup anda di saat lajang, setelah menikah harus membentuk kebiasaan dan gaya hidup baru yang sesuai dengan kemampuan keluarga anda sendiri. Jika dulu terbiasa makan di restoran mewah bersama orang tua, bisa jadi harus meninggalkan kebiasaan dan gaya hidup itu karena ternyata setelah menikah situasi ekonomi keluarga anda belum mendukung.

Mungkin saat lajang anda terbiasa bepergian dengan mobil pemberian orang tua. Namun setelah menikah harus dihitung dengan cermat apakah daya dukung ekonomi keluarga anda memungkinkan untuk tetap menggunakan mobil. Dan begitu seterusnya, untuk berbagai macam kebiasaan dan gaya hidup. Anda harus mampu untuk menyesuaikan kebiasaan dan gaya hidup yang tepat bersama pasangan, baik dalam artian menurun ataupun meningkat kualitasnya. Semua harus disesuaikan dengan kemampuan riil keluarga anda dalam memenuhi kebiasaan dan gaya hidup yang anda inginkan. Jangan sampai menjadi beban.

6. Standar dan Ukuran

Sebelum menikah, masing-masing memiliki standar dan ukuran tersendiri dalam segala sesuatu. Misalnya standar tentang kesederhanaan dan kemewahan. Standar tentang kebersihan, kerapian, kedisiplinan, kebahagiaan, kesengsaraan, dan lain sebagainya. Pada saat masih lajang, seorang lelaki yang berasal dari keluarga sederhana, telah memiliki standar tersendiri tentang kesederhanaan dan kemewahan, sebagaimana yang didapatkan dariorang tua. Seorang perempuan yang berasal dari keluarga kaya, juga memiliki standar dan ukuran tersendiri tentang kesederhanaan serta kemewahan. Apabila lelaki dan perempuan tersebut menikah, maka setelah hidup berumah tangga mereka akan segera menemukan perbedaan standar dan ukuran dalam menentukan batas kesederhanaan serta kemewahan.

Perbedaan standar dan ukuran tersebut harus berhasil mereka atasi dengan menetapkan kesepakatan bersama, yang bisa melegakan dan membuat nyaman kedua belah pihak. Masing-masing tidak berhak memaksakan standar dan ukuran kepada pasangan, karena mereka memang berasal dari latar belakang yang sangat berbeda. Yang harus mereka lakukan adalah sama-sama bersedia berubah, menemukan standar dan ukuran yang baru, sesuai dengan kondisi dan situasi keluarga baru tersebut.

Demikian pula dalam urusan kebersihan, kerapian, penampilan, kedisiplinan, kebahagiaan, kepedihan; masing-masing memiliki standar dan ukuran yang bisa berbeda karena latar belakang dan pengalaman yang memang tidak sama. Namun setelah menikah, suami dan istri harus bersedia untuk menemukan standar dan ukuran tersendiri yang mereka berlakukan dalam kehidupan. Dengan demikian, mereka sama-sama merasa nyaman, karena tidak saling memaksakan ukuran dan standar kepada pasangan.

7. Pergaulan dan Sosial

Sebelum menikah, lelaki dan perempuan lajang bisa memiliki pergaulan yang cenderung lebih terbuka. Apalagi di saat sama-sama masih kuliah, mereka memiliki lingkungan pergaulan dan cara bergaul yang khas ala anak kuliahan. Mereka mengikuti aneka jenis kegiatan di kampus, kegiatan organisasi, kegiatan sosial yang sangat beragam. Interaksi mereka sebagai sesama mahasiswa sedemikian luas dan akrab, baik dengan teman laki-laki maupun teman perempuan. Semua adalah teman-teman yang akrab dan saling membantu dalam berbagai kegiatan. Baik kegiatan di lingkungan kampus, maupun kegiatan di luar kampus, mereka terbiasa bersama-sama dan saling menjaga kekompakan. Termasuk dalam dunia media sosial.

Setelah menikah, pergaulan dan kehidupan sosial anda tidak lagi sebebas dulu. Karena anda sudah terikat dengan pasangan, yang anda harus menenggang perasaannya. Seorang istri bisa cemburu karena suaminya begitu akrab, ramah dan dekat dengan teman-teman kerja atau organisasi, padahal di rumah menampakkan sikap yang biasa saja, bahkan cenderung dingin. Seorang suami bisa cemburu karena istrinya demikian ramah serta terbuka dalam berkomunikasi dengan teman-teman kerja yang laki-laki.

Inilah berbagai perbedaan kondisi yang harus dipahami sebelum menikah dengan setelah menikah. Kedua belah pihak harus bersedia untuk berubah bersama-sama menuju kondisi yang membuat keduanya merasa nyaman. Perubahan adalah keharusan, namun berubah tidak sendirian. Berubah bersama pasangan.

8. Adat dan Kebiasaan

Semua orang selalu terpengaruh oleh adat dan kebiasaan yang dijalani sejak kecil hingga masa dewasa. Seorang yang lahir di suatu daerah, akan memiliki adat dan kebiasaan yang berbeda dengan daerah lain. Baik dari segi bahasa, intonasi pembicaraan, cara berkomunikasi, cara menyampaikan pendapat, cara menyapa, cara berpenampilan, dan lain sebagainya. Setiap daerah dan etnik memiliki tradisi yang khas, dan akan mempengaruhi masyarakat yang berada di dalamnya. Maka kita bisa dengan mudah membedakan asal suku dan daerah dari cara berbicara dan cara komunikasi satu dengan yang lain.

Setelah menikah, suami dan istri harus berusaha untuk berubah menuju kenyamanan komunikasi dan interaksi, terutama apabila mereka berdua berasal dari sukudan bangsa yang berbeda. Jika bersal dari suku dan bangsa yang sama, cenderung saling mengerti adat serta kebiasaan yang mempengaruhi mereka. Namun jika berasal dari suku dan bangsa yang berbeda, kedua belah pihak harus bersedia untuk mengerti, memahami, untuk selanjutnya berubah menyesuaikan situasi dan kondisi baru yang mereka bangun di dalam keluarga.

Cahyadi Takariawan

Cahyadi Takariawan telah menulis lebih dari 50 judul buku yang sebagian besarnya bertema keluarga. Aktivitasnya saat ini selain menulis adalah menjadi narasumber dalam berbagai seminar dan pelatihan di dalam dan luar negeri. Mendirikan Jogja Family Center (JFC) pada tahun 2000 sebagai kontribusi untuk mengokohkan keluarga Indonesia. Kini JFC bermetamorfosis menjadi Wonderful Family Institute. Beliau dapat diakses melalui Instagram @cahyadi_takariawan

Tinggalkan Balasan