Agar Kamu Tidak Bersedih

Agar Kamu Tidak Bersedih

Oleh : Cahyadi Takariawan

 

 

Perjalanan hidup manusia, akan selalu penuh dengan dinamika. Ada yang datang, ada yang pergi. Ada yang hilang, ada yang tumbuh bersemi. Ada yang malang, ada yang bahagia berseri-seri.

Adalah sifat manusia, cepat merasa senang saat mendapatkan apa yang diharapkan. Bangga, gembira, berpesta pora saat mendapatkan berbagai hal yang diusahakan dalam kehidupan. Bahkan dengan kegembiraan yang berlebihan. Tak jarang manusia menjadi sombong karena prestasinya, menjadi tinggi hati karena kehebatannya.

Namun betapa cepat bersedih dan berduka saat tidak mendapatkan hal yang diinginkan. Cepat bersedih ketika ada yang hilang darinya. Bahkan dengan kesedihan yang berlebihan. Tak jarang manusia dilanda frustrasi dan depresi atas cita-cita yang tak berhasil diraihnya, atas posisi dan jabatan yang tak dapat didudukinya, atas hal-hal yang hilang dalam kehidupannya.

Membangun SIkap Hidup Positif

Allah mengingatkan manusia, agar tidak berduka cita saat ada yang hilang dari kehidupannya, juga tidak berlebihan dalam kegembiraan saat mendapatkan apa yang diharapkannya. Mari kita renungi dua ayat dalam surat Al Hadid berikut ini, sebagai panduan memiliki sikap hidup yang positif dalam kehidupan sehari hari.

Ayat Pertama

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah” (QS. Al Hadid: 22)

Ayat Kedua

لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

“(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri” (QS. Al Hadid: 23)

Refleksi Hari Ini

Mari kita bawa makna dua ayat di atas, untuk kita refleksikan pada kejadian hari ini. Pada dasarnya, semua yang menimpa manusia hari ini, termasuk wabah virus corona, telah tercatat di Lauhul Mahfuzh. Yang dimaksud dengan “lauh” adalah lembaran, sedangkan “mahfuzh” artinya terjaga. Al Hafizh Ibnu Katsir menjelaskan, Lauhul Mahfuzh berada di tempat yang tinggi, yang membuatnya terjaga dari penambahan, pengurangan, perubahan dan penggantian. Di dalam Lauhul Mahfuzh inilah telah dicatat takdir setiap makhluk.

Sebagaimana kita ketahui, Allah telah mencatat ketetapan atas makhlukNya, limapuluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi, sebagaimana sabda Nabi Saw:

كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

“Allah mencatat takdir setiap makhluk 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.” HR. Muslim no. 2653.

Beliau Saw juga menjelaskan:

إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللَّهُ الْقَلَمَ فَقَالَ اكْتُبْ. فَقَالَ مَا أَكْتُبُ قَالَ اكْتُبِ الْقَدَرَ مَا كَانَ وَمَا هُوَ كَائِنٌ إِلَى الأَبَدِ

“Sesungguhnya awal yang Allah ciptakan adalah qalam (pena), kemudian Allah berfirman, “Tulislah”. Pena berkata, “Apa yang harus aku tulis”. Allah berfirman, “Tulislah takdir berbagai kejadian dan yang terjadi selamanya”.  HR. Tirmidzi no. 2155.

Semua hal yang telah tercatat di Lauhul Mahfuzh, tidak akan berubah. Al Mubarakfuri menyatakan, “Dicatat di Lauhul Mahfuzh berbagai macam takdir. Ketika selesai pencatatan, tidaklah satu pun lagi yang dicatat.”

Para ulama menjelaskan, al kitabah (pencatatan) ada dua macam. Pertama pencatatan yang tidak mungkin berubah, yaitu catatan takdir di Lauhul Mahfuzh. Kedua, pencatatan yang dapat berubah, yaitu catatan di sisi para malaikat, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

يَمْحُوا اللَّهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ

“Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul Kitab (Lauh Mahfuzh).” (QS. Ar Ra’du: 39).

Ibnu Taimiyah rahimahullah ketika ditanya apakah rizki yang telah ditakdirkan bisa bertambah dan berkurang, beliau menjawab, “Rizki itu ada dua macam. Pertama, rizki yang Allah ilmui bahwasanya Allah akan memberi rizki pada hamba sekian dan sekian. Rizki semacam ini tidak mungkin berubah. Kedua, rizki yang dicatat dan diketahui oleh Malaikat. Ketetapan rizki semacam ini bisa bertambah dan berkurang sesuai dengan sebab yang dilakukan oleh hamba. Allah akan menyuruh malaikat untuk mencatat rizki baginya. Jika ia menjalin hubungan silaturahmi, Allah pun akan menambah rizki baginya.”

Semua yang menimpa manusia dalam kehidupannya, adalah hal yang memang harus menimpa dirinya. Allah telah berfirman:

قُل لَّن يُصِيبَنَآ إِلَّا مَا كَتَبَ ٱللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَىٰنَا ۚ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ ٱلْمُؤْمِنُونَ

“Katakanlah: ‘Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal”. (QS. At Taubah : 51)

Manusia tidak mungkin menghindar dari sesuatu yang telah ditetapkan untuknya. Sebagaimana manusia tidak akan terkena apapun yang tidak ditetapkan untuk dirinya. Nabi Saw bersabda:

وَتَعْلَمَ أَنَّ مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ وَأَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ

“Hendaklah engkau tahu bahwa sesuatu yang ditakdirkan akan menimpamu, tidak mungkin luput darimu. Dan segala sesuatu yang ditakdirkan luput darimu, pasti tidak akan menimpamu.” HR. Ahmad 5/185.

Sikap Positif Pertama : Jangan Larut dalam Kesedihan

Dari ayat ke 23 surat Al Hadid di atas, kita mendapatkan tuntunan agar tidak membiarkan diri larut dalam kesedihan.

لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ

“(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu”.

Rasa sedih ketika kehilangan sesuatu, atau tidak berhasil mendapatkan sesuatu, atau menemukan kejadian yang tak diharapkan, adalah hal yang wajar dan manusiawi. Namun jangan larut dalam kesedihan. Jangan hanyut dalam duka cita. Kesedihan yang berlebihan akan membunuh karakter manusia. Kedukaan yang berlebihan akan mematikan jiwa.

Sikap Positif Kedua, Jangan Larut dalam Kegembiraan

وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آَتَاكُمْ

“Dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu”.

Hendaknya manusia jangan terlalu bergembira saat mendapatkan karunia dari Allah. Mungkin seseorang mendapatkan anugerah istimewa berupa kekayaan yang melimpah, kedudukan yang tinggi, popularitas yang luas, fasilitas yang tak terbatas, dan semua kesenangan hidup lainnya. Namun jangan larut dalam kegembiraan. Tentu boleh bergembira, namun tidak boleh berlebihan.

Sikap Positif Ketiga, Jangan Sombong

وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

“Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri”.

Manusia tidak layak sombong. Semua kesombongan akan dihancurkan oleh Allah. Jangan merasa kuat dan hebat —–bisnisku tak mungkin bangkrut, usahaku tak mungkin gagal, rumahku tak mungkin ambruk, hartaku tak mungkin habis, keluargaku tak mungkin miskin, handphoneku tak mungkin bisa disadap, sistem yang aku bangun tak mungkin dilumpuhkan, organisasi yang akan bangun tak mungkin bubar—- karena itu semua adalah kesombongan.

Renungan Penutup

Asy Syaukani rahimahullah dalam kitab Fathul Qadir menyatakan, “Janganlah bersedih dengan nikmat dunia yang luput darimu. Janganlah pula berbangga dengan nikmat yang diberikan padamu. Karena nikmat tersebut dalam waktu dekat bisa sirna. Sesuatu yang dalam waktu dekat bisa sirna tidak perlu dibangga-banggakan. Jadi tidak perlu engkau berbangga dengan hasil yang diperoleh dan tidak perlu engkau bersedih dengan sesuatu yang luput darimu. Semua ini adalah ketetapan dan takdir Allah”.

 

Jakarta – Tegal, Argo Cheribon, 14 Maret 2020

 

 

Cahyadi Takariawan

Cahyadi Takariawan telah menulis lebih dari 50 judul buku yang sebagian besarnya bertema keluarga. Aktivitasnya saat ini selain menulis adalah menjadi narasumber dalam berbagai seminar dan pelatihan di dalam dan luar negeri. Mendirikan Jogja Family Center (JFC) pada tahun 2000 sebagai kontribusi untuk mengokohkan keluarga Indonesia. Kini JFC bermetamorfosis menjadi Wonderful Family Institute. Beliau dapat diakses melalui Instagram @cahyadi_takariawan

Tinggalkan Balasan