Agar Rumah Tangga Segar Sepanjang Masa

Agar Rumah Tangga Segar Sepanjang Masa

AGAR RUMAH TANGGA SEGAR SEPANJANG MASA

 

@Ummu Rochimah

 

“Ummii… suamiku selingkuh dengan mantannya waktu SMP!”

“ Ini…, baca deh chattingannya!” sambil menyorongkan smartphonenya ke hadapanku.

Sekilas aku membaca gambar tangkapan layar chattingan di smartphonenya dan menganggukkan kepala.

“ Aku marah mi…! Aku harus gimana?!”

Seorang perempuan muda yang duduk dihadapanku nampak begitu emosional menceritakan kelakuan suaminya yang sepertinya sedang mencoba mengulang kisah masa lalunya saat masih berseragam putih biru.

Kucoba untuk menenangkan dirinya, dan memintanya untuk menceritakan dengan runut tragedi yang menimpa rumah tangganya yang baru berjalan selama 6 tahun.

Ini, bukan kali pertama mendapat curhatan seorang istri tentang suaminya yang mencoba bermain api di belakang pernikahannya. Lagi-lagi tentang perselingkuhan, tentang CLBK, tentang si mantan. Kisah yang tak pernah habis. Ini salah satu bentuk godaan kesetiaan dalam kehidupan rumah tangga.

Kehidupan rumah tangga adalah kehidupan yang bersifat dinamis. Sejak masa akad nikah, menjadi pengantin baru, kemudian mengalami tahapan-tahapann kehidupan rumah tangga berupa masa bulan madu yang indah, membahagiakan dan penuh gelora atau disebut dengan masa romantic love, lalu melewati masa-masa sulit dan kekecewaan atau distress and dissappoinment yaitu timbulnya saling menyalahkan di antara suami istri, merasa tidak nyaman satu sama lain. Hingga kemudian sampai pada tahap knowledge and awareness yaitu saling memahami saling terbuka. Lalu menuju tahap penerimaan dan sampai akhirnya menua bersama memasuki tahapan real love.

Dalam pandangan agama Islam disebut sebagai pasangan suami istri apabila mereka telah melaksanakan akad nikah, sedang dalam negara disebut pasangan suami istri bila sudah tercatat oleh petugas pencatat pernikahan. Sedekat dan seintim apapun laki-laki dan perempuan, selama mereka belum melakukan akad nikah tidak dapat disebut sebagai suami istri.

Dalam bahasa sosial, disebut suami istri bila mereka memiliki kesetiaan. Dalam Islam akad nikah harus diniatkan untuk selama-lamanya. Tidak boleh dibatasi oleh waktu. Akan menjadi tidak sah pernikahan itu bila di dalam akad nikahnya mengandung pembatasan waktu. Misal nikah hanya untuk satu bulan, satu tahun dan sebagainya. Walaupun boleh jadi dalam perjalanan pernikahan itu ada hal-hal yang menyebabkan terjadinya perpisahan di antara mereka. Itu hal lain yang berbeda.

Pernikahan adalah ibadah, ia adalah bagian utuh dari upaya membentuk peradaban kemanusiaan yang bermartabat. Pernikahan bukan semata-mata karena ingin menikah, tapi adalah salah satu ibadah kepada Allah, maka harus diniatkan untuk selamanya.

Pasangan suami istri yang berinteraksi setiap hari, menghabiskan waktu dengan orang yang sama, serumah, sekamar, sekasur.  hingga pada titik tertentu mereka akan mulai menemui bermacam-macam ujian, godaan, hambatan dan tantangan kesetiaan terhadap pasangan yang harus mereka sikapi dengan tepat dan bijaksana.

Kesetiaan menjadi suatu ciri kehidupan pasangan suami istri yang paling menonjol. Karena kesetiaan bukanlah sesuatu yang mudah untuk dijalankan. Mengapa? Kesetiaan dalam pernikahan tidak memilikki batas waktu. Berbeda dengan ketika seseorang diminta untuk setia sampai batas waktu tertentu, misalnya sebulan atau setahun. Ini menjadi sesuatu yang lebih mudah. Saat masa yang ditentukan tercapai maka tidak ada lagi kewajiban untuk tepat setia. Seperti misalnya dalam berbisnis, seseorang dapat berganti-ganti pasangan atau mitra bisnis, sesuai kebutuhan dan kesepakatan di antara mereka. Namun dalam kehidupan suami istri harus diniatkan untuk selamanya.

Namun karena pernikahan adalah untuk seumur hidup, maka kesetiaan menjadi sesuatu yang sulit dilakukan. Karena harus setia pada orang yang sama, dalam waktu yang lama, dalam masa yang panjang, jelas ini sesuatu yang tidak gampang. Maka godaan terbesar dalam kehidupan pernikahan adalah waktu itu sendiri. Melewati kehidupan pernikahan dengan orang yang sama hingga batas usia yang ditentukan, tidur dengan orang yang sama, makan dengan orang yang sama, mengobrol dengan orang yang sama, tentu ini menjadi kesulitan tersendiri bagi suami atau istri manakala mereka tidak memahami dan mampu mengelola dengan baik sumber-sumber godaan yang datang menghampiri.

Persoalan kehidupan rumah tangga yang banyak ditemui adalah adanya godaan kesetiaan di antara pasangan suami istri. Ada beberapa jenis godaan kesetiaan dalam pernikahan salah satunya adalah perselingkuhan. Salah satu pintu masuk sebuah perselingkuhan dalam kehidupan pernikahan adalah munculnya kejenuhan atau rasa bosan.

 

Kejenuhan atau Rasa Bosan.

Seperti halnya seseorang yang setiap hari makan nasi. Nasi itu dari zaman dulu hingga sekarang bentuk dan rasanya ya seperti itu, sama saja. Maka agar tidak dihinggapi rasa bosan, kita lalu membuat variasi lauk yang akan menemani nasi tersebut atau nasi itu dijadikan sebagai nasi goreng, nasi kebuli, nasi uduk, nasi kuning dan lain-lain. Tujuannya agar tidak terjadi kebosanan dalam mengkonsumsi nasi. Begitulah dalam kehidupan, kebosanan atau kejenuhan dapat terjadi di berbagai bidang kehidupan manusia.

Kejenuhan dapat timbul karena ketidak pandaian seseorang dalam mengelola apa yang sudah dimiliki. Adapun godaan kejenuhan dalam pernikahan misalnya; jenuh atau bosan dengan pasangan, pasangan tidak seperti yang diharapkan atau diinginkan, pasangan merupakan tipe yang tidak romantis atau dingin, tidak kreatif dalam menjalani kehidupan rumah tangga, tidak pernah mengajak rekreasi, atau termasuk tidak kreatif dalam masalah hubungan seksual. Dengan kata lain, pasangan gitu-gitu aja!

Atau jenuh dengan keadaan yang tidak ada perubahan, mandek; misalnya secara ekonomi tidak ada peningkatan, rumah masih mengontrak terus, kendaraan belum punya dan lain-lain. Karir suami ditempat kerja yang tidak mengalami peningkatan sehingga berimbas pada penghasilan yang tidak mengalami kenaikan. Bila ini berlangsung dalam waktu yang lama dapat menimbulkan kejenuhan.

Atau jenuh karena aktifitas yang hanya itu-itu saja. Terutama terjadi pada ibu rumah tangga yang full time hanya di rumah saja mengurus suami, mengurus anak, mengurus rumah, dan sebagainya. Bila tidak ada variasi kegiatan yagn dilakukan, dapat mengakibatkan kejenuhan bagi istri.

Kejenuhan yang terus menerus melanda pasangan suami istri dapat mendorong mereka untuk mencoba sesuatu yang dapat memberi sensasi, ada manis-manisnya gitu seperti mencoba bermain api di belakang pernikahan. Oleh karena itu sebelum hal ini terjadi, pasangan suami istri harus mencari cara dan mengemas aneka bentuk akttifitas rumah tangga sebelum kejenuhan melanda pernikahan mereka.

Ummu Rochimah

Tinggalkan Balasan