Kembali
Motivasi Menulis

Agar Selalu Produktif Menulis – 12

.

Belajar dari Para Penulis Produktif

Oleh : Cahyadi Takariawan

“I try to get six pages a day” – Stephen King

.

Sebagaimana telah saya sampaikan pada beberapa postingan terdahulu, pada dasarnya tidak ada satu cara atau teknik untuk produktif menulis yang bisa berlaku secara umum. Setiap penulis bisa memiliki cara dan teknik yang paling cocok untuk dirinya. Ini seperti yang diungkap oleh Mark D. White, Ph.D.

Namun Bamidele mengingatkan, bahwa tidak semua orang berbeda secara keseluruhannya. Selalu akan ditemukan orang-orang dengan sifat dan karakter yang sama atau hampir sama. Selalu ada orang-orang dengan situasi dan kondisi yang sama atau hampir sama. Untuk itu kita bisa saling belajar.

Tips berikutnya untuk bisa produktif menulis, adalah dengan banyak belajar dari para penulis produktif. Mereka sudah terbukti memiliki banyak karya, maka kita belajar kepada mereka bagaimana bisa mendapatkan produktivitas dalam menulis. Tidak semua tips cocok untuk kita, namun akan ada hal yang bisa kita ambil sebagai inspirasi.

Seri # 2 – Belajar Produktif dari Stephen King

Kali ini kita akan belajar dari Stephen King, seorang penulis yang sangat produktif. Bahkan mendapat julukan sebagai King of Horor. Siapakah jati dirinya? Mari kita simak.

Stephen Edwin King atau yang lebih dikenal dengan Stephen King adalah salah satu novelis legendaris dunia. Lelaki kelahiran 21 September 1947 di Portland, AS ini banyak menulis novel bergenre misteri atau horor. Namun King juga menulis novel dengan genre fantasi dan fiksi ilmiah.

Hingga hari ini, sudah lebih dari 350 juta eksemplar bukunya terjual di seluruh dunia. Banyak di antara karyanya diadaptasi menjadi film layar lebar, film serial di televisi, dan juga buku komik. 

King senang menulis sejak sekolah. Ia mengawali menulis artikel untuk surat kabar Dave’s Rag, dan menjual cerita karangannya ke teman-temannya. Buku pertama King yang diterbitkan berjudul “I Was a Teenage Grave Robber” pada 1965.

Setelah lulus kuliah, King mulai aktif mengirim cerpen ke majalah seperti Cavalier. Selain itu, ia juga aktif menulis novel. Pada 1973, novel pertamanya terbit dengan judul “Carrie”. Setelah itu, karir King terus meningkat hingga menjadi novelis sukses. 

King mulai tertarik menulis novel horor setelah membaca salinan buku tua milik ayahnya. Buku itu berjudul ‘The Luker in Shadow’  karya HP Lovecraft, yang ia temukan di loteng rumahnya. Usai membaca buku tua tersebut, King merasa ‘telah menemukan rumahnya’. 

King memiliki seorang istri dan tiga orang anak. Uniknya, istri dan kedua anak laki-lakinya juga penulis. Tabitha King, sang istri, menerbitkan 8 novel dan 2 karya non-fiksi. Anak pertama, Joseph Hillstorm King, menerbitkan 4 novel, 2 koleksi cerita pendek, dan 1 seri buku komik.

Anak kedua, Owen King, menerbitkan beberapa buku cerita pendek dan novel. Hanya Naomi Rachel King, satu-satunya anak perempuan King, yang tidak menjadi penulis. Ia justru menjadi menteri. 

Stephen King menulis 59 novel, 5 buku nonfiksi, dan lebih dari 200 cerita pendek yang dibukukan. Dari seluruh buku tersebut, 34 diantaranya diadaptasi ke layar lebar. Ini membuat King memecahkan rekor sebagai penulis tunggal dengan adaptasi film paling banyak dibandingkan penulis lainnya.

Di sepanjang karirnya menjadi seorang penulis, Stephen King berhasil mendapatkan lebih dari 50 jenis penghargaan. Salah satu penghargaan terbesar yang pernah diterima oleh King adalah National Medal of Arts yang didapatnya pada tahun 2015 lalu, dari America Serikat National Endowment for the Arts atas kontribusinya dalam dunia sastra.

Di penghargaan sastra tertinggi di Amerika Serikat tersebut, Stephen King dianugerahi medali oleh Presiden Amerika Serikat yang menjabat pada saat itu, yaitu Barack Obama. Sejak itu, King mendapat sebutan sebagai ‘King of Horor’. 

Memiliki Target yang Jelas

Salah satu hal yang bisa kita pelajari dari Stephen King adalah, ia memiliki target menulis harian. Cara King membuat target adalah dengan patokan jumlah halaman yang harus ditulis. Ia memiliki sejumlah agenda lainnya untuk dilakukan –bukan hanya menulis. Maka ia bekerja berdasarkan tercapainya target.

Dalam sebuah wawancara dengan George R.R. Martin, penulis serial Game Of Thrones, Stephen King ditanya bagaimana ia mampu menulis dengan cepat dan menyelesaikan begitu banyak pekerjaan. “Saya berusaha menulis enam halaman sehari,” ungkap King.

“There are books, and there are books. The way that I work, I try to get out there and I try to get six pages a day” –Stephen King.

Menjawab pertanyaan George Martin, King menyatakan, “Cara saya bekerja adalah dengan mencoba untuk keluar dan berusaha untuk menulis enam halaman sehari. Saya bekerja tiga sampai empat jam setiap hari, untuk bisa menyelesaikan enam halaman itu”.

Tentu saja mudah bagi kita semua untuk menetapkan target. Yang tidak mudah adalah disiplin dan komitmen untuk mencapai target itu. Misalnya, seorang penulis menarget bisa menghasilkan 5.000 kata setiap hari. Namun ternyata tidak ada kedisplinan dan tidak ada komitmen untuk mencapai target tersebut.

Inilah salah satu kehebatan Stephen King. Ia tidak hanya menetapkan target menulis harian, namun ia mampu untuk mencapainya setiap hari. Dengan demikian, setiap hari ada enam halaman yang selalu dihasilkan. Berarti sebulan dia menulis 180 halaman, dan dalam dua bulan sudah 360 halaman. Sangat keren.

“I mean, there’s real life, I could be working away, and something comes up and you have to get up … but mostly I try to get the six pages in” –Stephen King.

Menjaga Ritme Keteraturan

Salah satu yang kita pelajari dari King adalah, menjaga keteraturan. King terbiasa melakukan hal-hal yang sama setiap pagi. Menulis di tempat yang sama, menata peralatan menulis selalu sama, dan melakukan ‘ritual’ yang sama.

“I have a glass of water or a cup of tea. There’s a certain time I sit down, from 8.00 to 8.30, somewhere within that half hour every morning” –Stephen King.

Setiap pagi ia melakukan relaksasi, dengan duduk santai, antara pukul 08.00 hingga 08,30. Ia menjaga rutinitas ini sebagai bagian dari menciptakan keteraturan dan habit. Jika sesuatu sudah menjadi habit, akan lebih mudah untuk diulang setiap saat.

Dengan demikian, tidak memerlukan tambahan waktu untuk melakukan proses penyesuaian. Semua sudah berjalan dengan rutin. Mengalir lancar, sehingga memacu produktivitas.

“I have my vitamin pill and my music, sit in the same seat, and the papers are all arranged in the same places…The cumulative purpose of doing these things the same way every day seems to be a way of saying to the mind, you’re going to be dreaming soon” –Stephen King.

Di antara ‘ritual’ menulis yang dilakukan King adalah, mengonsumsi vitamin agar tubuh selalu sehat. Ia membawa segelas air mineral atau secangkir teh. Ia pun mendengarkan musik kesayangan. Ini semua menjadi rutinitas harian yang mengiringi produktivitas menulisnya.

“Saya membawa segelas air mineral atau secangkir teh. Ada waktu tertentu saya duduk, dari jam 8:00 sampai 08:30, di suatu tempat. Setengah jam itu rutin saya lakukan setiap pagi,” ujar King.

“Saya mengonsumsi vitamin dan mendengarkan musik kesukaan. Saya duduk di kursi yang sama, dan semua peralatan diatur di tempat yang sama”, ujar King. “Tujuan kumulatif melakukan hal-hal yang sama setiap hari adalah cara untuk mengatakan kepada diri sendiri, kamu akan segera bermimpi,” tambahnya.

Dengan melakukan segala sesuatu secara teratur, baginya menjadi stimulus bagi otaknya untuk bekerja secara produktif. “Kamu akan segera bermimpi”, menjadi stimulus, setelah ia melakukan berbagai rutinitas harian.

Selamat berkarya. Selamat mengubah dunia.

Bahan Bacaan

Eliza Ustman, 8 Fakta Stephen King, Novelis Legendaris Si Raja Kisah Misteri, 9 September 2019, https://www.idntimes.com

Mayo Oshin, The Daily Routine of 20 Famous Writers (and How You Can Use Them to Succeed), 15 Agustus 2017, https://medium.com/

Ditulis oleh ruangkeluarga

Dipublikasikan di RUANG KELUARGA. Media edukasi keluarga, parenting, dan keharmonisan rumah tangga.