Kembali
Motivasi Menulis

Agar Selalu Produktif Menulis – 14

.

Belajar dari Para Penulis Produktif

Oleh : Cahyadi Takariawan

“That’s what deadlines do: They give you the excuse to mono-task. If you have the paperwork for six projects on your desk or nine windows open on your computer, you won’t be able to concentrate” –Graham Allcott.

.

Sebagaimana telah saya sampaikan pada beberapa postingan terdahulu, pada dasarnya tidak ada satu cara atau teknik untuk produktif menulis yang bisa berlaku secara umum. Setiap penulis bisa memiliki cara dan teknik yang paling cocok untuk dirinya. Ini seperti yang diungkap oleh Mark D. White, Ph.D.

Namun Bamidele juga mengingatkan, bahwa tidak semua orang berbeda secara keseluruhannya. Selalu akan ditemukan orang-orang dengan sifat dan karakter yang sama atau hampir sama. Selalu ada orang-orang dengan situasi dan kondisi yang sama atau hampir sama. Untuk itu kita bisa saling belajar.

Tips berikutnya untuk bisa produktif menulis, adalah dengan banyak belajar dari para penulis produktif. Mereka sudah terbukti memiliki banyak karya, maka kita belajar kepada mereka bagaimana bisa mendapatkan produktivitas dalam menulis. Tidak semua tips cocok untuk kita, namun akan ada hal yang bisa kita ambil sebagai inspirasi.

Seri # 4 – Belajar Produktif dari Graham Allcot

“When you get an email notification, even if you choose not to respond to it immediately, it draws your attention away. What most people don’t understand is that it’s not so much their time they have to manage, but their attention” –Graham Allcott.

Kali ini kita akan belajar dari Graham Allcott, pendiri Think Productive dan penulis buku How To Be A Productivity Ninja dan How To Be A Knowledge Ninja. Alcott menyatakan, perhatian –bukan waktu, adalah sumber daya esensial yang harus Anda kelola dengan seksama.

Menurut Alcott, ketika Anda merasa memiliki banyak waktu, justru cenderung bersikap santai dan tidak segera menyelesaikan tugas. Maka sangat penting memiliki batas waktu atau deadline. Batas waktu akan memberi Anda alasan untuk melakukan tugas tunggal.

“Jika Anda memiliki dokumen untuk enam jenis proyek, atau sembilan jendela terbuka di komputer, Anda tidak akan dapat berkonsentrasi”, ujar Allcott.

Allcott menyarankan agar Anda mematikan notifikasi ponsel dan email. Menurutnya, saat Anda menerima notifikasi email, bahkan jika memilih untuk tidak segera menanggapinya, itu akan mengalihkan perhatian Anda. Hal penting yang kebanyakan orang tidak mengerti adalah bahwa bukan waktu mereka yang harus mereka kelola, tetapi perhatian (attention).

“An inbox with tens, hundreds, sometimes thousands, of emails is the result of not having clarity around what the inbox is for” –Graham Allcott.

Allcott memberikan tips, agar berbagai ide serta inspirasi yang melintas, segera Anda tuliskan. Jika tidak, ide itu akan segera hilang dan Anda lupakan. Padahal bisa jadi ide itu adalah sesuatu yang penting dan bermanfaat untuk Anda kembangkan.

“Jika ada sesuatu ide melintas di pikiran Anda, segera tuliskan. Jangan gunakan kepala Anda untuk menyimpan semua ide, dan kemudian Anda akan melupakannya”, ujar Allcott.

Produktif itu harus berorientasi pada hasil, bukan semata pada proses. Allcott mencontohkan, banyak pelajar sangat menekankan pada membaca dan mencatat pelajaran. Namun semua sains menunjukkan bahwa ‘pengujian diri’ (sel-testing) secara teratur adalah cara paling efektif dalam mempelajari apa pun.

Dalam konteks menulis, self-testing bisa dilakukan dengan menguji kemampuan menulis. Setiap hari menguji diri sendiri, apakah ada progres peningkatan baik kuantitas maupun kualitas tulisan. Dengan rutin menulis, sekaligus sebagai sarana menguji diri sendiri, dan mengetahui perkembangan secara teratur.

“If there’s something on your mind, put it down in writing. Don’t use your head to store all the ideas, and then worry that you might forget some” –Graham Allcott.

Tips lainnya dari Allcott, ia memiliki “peraturan 2 jam” guna mengoptimalkan kemampuan dan meningkatkan produktivitasnya. Peraturan dua jam mengharuskannya berhenti setelah menulis tanpa jeda selama dua jam untuk menyegarkan kembali pikirannya.

Mewaspadai DDD (Distant Deadline Defeciency)

Allcott menyarankan agar penulis tidak melakukan pengalihan. Misalnya, setelah lama menulis, kemudian mengalihkan perhatian kepada kegiatan lain, seperti menelusuri internet atau menonton video online. Distraction (pengalih) ini patut diwaspadai. Apabila penulis mengerjakan proyek sambil menyelesaikan pekerjaan lain, biasanya yang terjadi hanyalah menyia-nyiakan waktu atau menunda-nunda pekerjaan.

Teknik ‘Pomodoros and Attention’ yang dikenalkan Allcott mengajak Anda untuk membagi projek besar menjadi beberapa bagian. Misalnya, Anda sedang mengerjakan proyek novel pertama. Aturlah jadwal 25 menit setiap periode bagian, lalu selingi 5 menit istirahat. Miliki kesempatan untuk meregangkan otot dan relaksasi sebelum meneurskan menulis bagian berikutnya.

Allcott juga mengenalkan “penyakit” DDD (Distant Deadline Defeciency) sebagai kebiasaan buruk yang sering diabaikan oleh para penulis. DDD adalah kebiasaan menunda pekerjaan karena deadline atau tenggat waktu masih lama.

Ketika seseorang penulis memiliki projek penulisan yang batas waktu pengumpulannya dua pekan lagi, itu terasa masih lama. Saat ia ingin mulai menulis, DDD mencegah dan membisikkan ke telinga, bahwa deadline masih lama. “Kamu masih punya waktu untuk jalan-jalan atau ngopi bersama kawan terlebih dahulu”.

Jika ia terus menunda hingga akhirnya duduk di meja kerja dan baru ingat bahwa tenggat waktu sudah hampir berakhir. Saat deadline hampir habis, ia merasa waktunya begitu sempit. Ia mengajukan perpanjangan disertai protes, mengapa tenggat waktunya sangat pendek. Padahal saat di awal, ia merasa dua pekan itu lama dan panjang.

Bahan Bacaan

Chanpreet Khurana, Graham Allcott: Do More, Know More, https://www.livemint.com, 22 Maret 2015

Manistebu, Menjadi Penulis Produktif, https://manistebu.com, 16 Januari 2017

Yayuk Widiyarti, Sering Malas Menyelesaikan Tugas, Coba Usir dengan 5 Tips Berikut, https://cantik.tempo.co, 16 Oktober 2017 

Ditulis oleh ruangkeluarga

Dipublikasikan di RUANG KELUARGA. Media edukasi keluarga, parenting, dan keharmonisan rumah tangga.

Motivasi Menulis

Agar Selalu Produktif Menulis – 14

.

Belajar dari Para Penulis Produktif

Oleh : Cahyadi Takariawan

“That’s what deadlines do: They give you the excuse to mono-task. If you have the paperwork for six projects on your desk or nine windows open on your computer, you won’t be able to concentrate” –Graham Allcott.

.

Sebagaimana telah saya sampaikan pada beberapa postingan terdahulu, pada dasarnya tidak ada satu cara atau teknik untuk produktif menulis yang bisa berlaku secara umum. Setiap penulis bisa memiliki cara dan teknik yang paling cocok untuk dirinya. Ini seperti yang diungkap oleh Mark D. White, Ph.D.

Namun Bamidele juga mengingatkan, bahwa tidak semua orang berbeda secara keseluruhannya. Selalu akan ditemukan orang-orang dengan sifat dan karakter yang sama atau hampir sama. Selalu ada orang-orang dengan situasi dan kondisi yang sama atau hampir sama. Untuk itu kita bisa saling belajar.

Tips berikutnya untuk bisa produktif menulis, adalah dengan banyak belajar dari para penulis produktif. Mereka sudah terbukti memiliki banyak karya, maka kita belajar kepada mereka bagaimana bisa mendapatkan produktivitas dalam menulis. Tidak semua tips cocok untuk kita, namun akan ada hal yang bisa kita ambil sebagai inspirasi.

Seri # 4 – Belajar Produktif dari Graham Allcot

“When you get an email notification, even if you choose not to respond to it immediately, it draws your attention away. What most people don’t understand is that it’s not so much their time they have to manage, but their attention” –Graham Allcott.

Kali ini kita akan belajar dari Graham Allcott, pendiri Think Productive dan penulis buku How To Be A Productivity Ninja dan How To Be A Knowledge Ninja. Alcott menyatakan, perhatian –bukan waktu, adalah sumber daya esensial yang harus Anda kelola dengan seksama.

Menurut Alcott, ketika Anda merasa memiliki banyak waktu, justru cenderung bersikap santai dan tidak segera menyelesaikan tugas. Maka sangat penting memiliki batas waktu atau deadline. Batas waktu akan memberi Anda alasan untuk melakukan tugas tunggal.

“Jika Anda memiliki dokumen untuk enam jenis proyek, atau sembilan jendela terbuka di komputer, Anda tidak akan dapat berkonsentrasi”, ujar Allcott.

Allcott menyarankan agar Anda mematikan notifikasi ponsel dan email. Menurutnya, saat Anda menerima notifikasi email, bahkan jika memilih untuk tidak segera menanggapinya, itu akan mengalihkan perhatian Anda. Hal penting yang kebanyakan orang tidak mengerti adalah bahwa bukan waktu mereka yang harus mereka kelola, tetapi perhatian (attention).

“An inbox with tens, hundreds, sometimes thousands, of emails is the result of not having clarity around what the inbox is for” –Graham Allcott.

Allcott memberikan tips, agar berbagai ide serta inspirasi yang melintas, segera Anda tuliskan. Jika tidak, ide itu akan segera hilang dan Anda lupakan. Padahal bisa jadi ide itu adalah sesuatu yang penting dan bermanfaat untuk Anda kembangkan.

“Jika ada sesuatu ide melintas di pikiran Anda, segera tuliskan. Jangan gunakan kepala Anda untuk menyimpan semua ide, dan kemudian Anda akan melupakannya”, ujar Allcott.

Produktif itu harus berorientasi pada hasil, bukan semata pada proses. Allcott mencontohkan, banyak pelajar sangat menekankan pada membaca dan mencatat pelajaran. Namun semua sains menunjukkan bahwa ‘pengujian diri’ (sel-testing) secara teratur adalah cara paling efektif dalam mempelajari apa pun.

Dalam konteks menulis, self-testing bisa dilakukan dengan menguji kemampuan menulis. Setiap hari menguji diri sendiri, apakah ada progres peningkatan baik kuantitas maupun kualitas tulisan. Dengan rutin menulis, sekaligus sebagai sarana menguji diri sendiri, dan mengetahui perkembangan secara teratur.

“If there’s something on your mind, put it down in writing. Don’t use your head to store all the ideas, and then worry that you might forget some” –Graham Allcott.

Tips lainnya dari Allcott, ia memiliki “peraturan 2 jam” guna mengoptimalkan kemampuan dan meningkatkan produktivitasnya. Peraturan dua jam mengharuskannya berhenti setelah menulis tanpa jeda selama dua jam untuk menyegarkan kembali pikirannya.

Mewaspadai DDD (Distant Deadline Defeciency)

Allcott menyarankan agar penulis tidak melakukan pengalihan. Misalnya, setelah lama menulis, kemudian mengalihkan perhatian kepada kegiatan lain, seperti menelusuri internet atau menonton video online. Distraction (pengalih) ini patut diwaspadai. Apabila penulis mengerjakan proyek sambil menyelesaikan pekerjaan lain, biasanya yang terjadi hanyalah menyia-nyiakan waktu atau menunda-nunda pekerjaan.

Teknik ‘Pomodoros and Attention’ yang dikenalkan Allcott mengajak Anda untuk membagi projek besar menjadi beberapa bagian. Misalnya, Anda sedang mengerjakan proyek novel pertama. Aturlah jadwal 25 menit setiap periode bagian, lalu selingi 5 menit istirahat. Miliki kesempatan untuk meregangkan otot dan relaksasi sebelum meneurskan menulis bagian berikutnya.

Allcott juga mengenalkan “penyakit” DDD (Distant Deadline Defeciency) sebagai kebiasaan buruk yang sering diabaikan oleh para penulis. DDD adalah kebiasaan menunda pekerjaan karena deadline atau tenggat waktu masih lama.

Ketika seseorang penulis memiliki projek penulisan yang batas waktu pengumpulannya dua pekan lagi, itu terasa masih lama. Saat ia ingin mulai menulis, DDD mencegah dan membisikkan ke telinga, bahwa deadline masih lama. “Kamu masih punya waktu untuk jalan-jalan atau ngopi bersama kawan terlebih dahulu”.

Jika ia terus menunda hingga akhirnya duduk di meja kerja dan baru ingat bahwa tenggat waktu sudah hampir berakhir. Saat deadline hampir habis, ia merasa waktunya begitu sempit. Ia mengajukan perpanjangan disertai protes, mengapa tenggat waktunya sangat pendek. Padahal saat di awal, ia merasa dua pekan itu lama dan panjang.

Bahan Bacaan

Chanpreet Khurana, Graham Allcott: Do More, Know More, https://www.livemint.com, 22 Maret 2015

Manistebu, Menjadi Penulis Produktif, https://manistebu.com, 16 Januari 2017

Yayuk Widiyarti, Sering Malas Menyelesaikan Tugas, Coba Usir dengan 5 Tips Berikut, https://cantik.tempo.co, 16 Oktober 2017 

Ditulis oleh ruangkeluarga

Dipublikasikan di RUANG KELUARGA. Media edukasi keluarga, parenting, dan keharmonisan rumah tangga.