.
Belajar dari Para Penulis Produktif
Oleh : Cahyadi Takariawan
“Auden rose shortly after 6:00 a.m., made himself coffee, and settled down to work quickly, perhaps after taking a first pass at the crossword. His mind was sharpest from 7:00 until 11:30 a.m., and he rarely failed to take advantage of these hours” –Mayo Oshin, 2017.
.
Sebagaimana telah saya sampaikan pada beberapa postingan terdahulu, pada dasarnya tidak ada satu cara atau teknik untuk produktif menulis yang bisa berlaku secara umum. Setiap penulis bisa memiliki cara dan teknik yang paling cocok untuk dirinya. Ini seperti yang diungkap oleh Mark D. White, Ph.D.
Namun Bamidele juga mengingatkan, bahwa tidak semua orang berbeda secara keseluruhannya. Selalu akan ditemukan orang-orang dengan sifat dan karakter yang sama atau hampir sama. Selalu ada orang-orang dengan situasi dan kondisi yang sama atau hampir sama. Untuk itu kita bisa saling belajar.
Tips berikutnya untuk bisa produktif menulis, adalah dengan banyak belajar dari para penulis produktif. Mereka sudah terbukti memiliki banyak karya, maka kita belajar kepada mereka bagaimana bisa mendapatkan produktivitas dalam menulis. Tidak semua tips cocok untuk kita, namun akan ada hal yang bisa kita ambil sebagai inspirasi.
Seri # 7 – Belajar Produktif dari W.H. Auden
“A writer, is always being asked by people who should know better: ‘Whom do you write for?’ The question is, of course, a silly one, but I can give it a silly answer. Occasionally I come across a book which I feel has been written especially for me and for me only” –W.H. Auden.
Kali ini kita akan belajar dari W.H. Auden, seorang penyair dan pengajar yang produktif. Siapakah jati dirinya? Mari kita simak.
Wystan Hugh Auden atau sering ditulis dengan W.H. Auden, lahir di kota York, Inggris, pada 21 Februari 1907. Karya tulis Auden pertama kali dipublikasikan ketika ia menulis puisi untuk majalah sekolahnya Gresham’s School pada tahun 1923.
Auden kuliah di jurusan Sastra Inggris dan lulus tahun 1928. Pada tahun 1930 buku kumpulan puisinya Poems diterbitkan oleh penerbit Faber and Faber. Pada tahun 1936 Auden melakukan perjalanan ke Iceland untuk mengumpulkan bahan pembuatan buku perjalanan Letter from Iceland yang disusun bersama Louis MacNeice.
“Like a jealous lover, I don’t want anybody else to hear of it. To have a million such readers, unaware of each other’s existence, to be read with passion and never talked about, is the daydream, surely, of every author” –W.H. Auden.
Auden bukan hanya menerbitkan buku puisi, prosa dan catatan perjalanan, dia juga membuat buku tentang catatan peperangan. Auden rela berangkat ke wilayah perang untuk mengumpulkan bahan tulisannya. Pada tahun 1937 dia berangkat ke Spanyol untuk membuat buku Spanish Civil War. Auden juga mengunjungi daerah perang Sino – Jepang bersama dengan Isherwood untuk membuat buku Journey to a War yang terbit tahun 1939.
1939 Auden berlayar ke Amerika dengan visa sementara. Ketika meletus perang Inggris – Jerman September 1939, Auden menyatakan siap kembali ke Inggris jika diperlukan. Namun dia juga dipanggil Angkatan Darat Amerika Serikat pada bulan Agustus 1942, tapi tidak lolos tes medis. Auden tinggal di Manhattan dan menekuni pekerjaan sebagai penulis. Ia resmi pindah kewarganegaraan Amerika Serikat pada tahun 1946.
Auden mendapatkan banyak penghargaan, salah satunya adalah pemenang hadiah Pulitzer 1948. Auden menjadi Profesor Puisi di Universitas Oxford dan memberikan tiga kuliah setiap tahunnya. Selain mengajar Auden juga menjadi penulis di majalah The New Yorker dan beberapa majalah lainnya. Auden meninggal tahun 1973 di Vienna.
Menjaga Ketulusan
“Just as a good man forgets his deed the moment he has done it, a genuine writer forgets a work as soon as he has completed it and starts to think about the next one; if he thinks about his past work at all, he is more likely to remember its faults than its virtues. Fame often makes a writer vain, but seldom makes him proud” –W.H. Auden.
W.H. Auden menyatakan, “Seorang penulis selalu ditanya, ‘Untuk siapa Anda menulis?’ Pertanyaan yang konyol. Tetapi saya bisa memberikan jawaban yang juga konyol. Kadang-kadang saya menemukan sebuah buku yang saya rasa ditulis khusus untuk saya dan hanya untuk saya”.
“Seperti kekasih yang cemburu”, lanjut Auden, “Saya tidak ingin ada orang lain yang mendengarnya. Memiliki sejuta pembaca seperti itu, tidak menyadari keberadaan satu sama lain, untuk dibaca dengan penuh semangat dan tidak pernah dibicarakan, adalah impian setiap penulis”.
“Every writer would rather be rich than poor, but no genuine writer cares about popularity as such” –W.H. Auden.
“Sama seperti orang yang baik melupakan perbuatannya begitu dia melakukannya, seorang penulis sejati melupakan sebuah karya segera setelah dia menyelesaikannya dan mulai memikirkan karya berikutnya. Jika terus memikirkan karya yang terdahulu, dia lebih mungkin untuk mengingat kekurangannya daripada kebaikannya”.
“Ketenaran sering membuat seorang penulis sombong, tetapi jarang membuatnya bangga” ujar Auden. “Setiap penulis lebih suka menjadi kaya daripada miskin, tetapi sesungguhnya tidak ada penulis sejati yang peduli popularitas”.
“Sincerity is like sleep. Normally, one should assume that, of course, one will be sincere, and not give the question a second thought. Most writers, however, suffer occasionally from bouts of insincerity as men do from bouts of insomnia” –W.H. Auden.
Ketulusan itu seperti tidur. Biasanya, seseorang harus berasumsi bahwa, tentu saja, seseorang akan tulus, dan tidak memikirkan pertanyaan itu lagi. Kebanyakan penulis, bagaimanapun, kadang-kadang menderita serangan ketidaktulusan seperti yang dialami seseorang karena serangan insomnia.
Ketulusan dalam arti kata yang tepat, yang berarti keaslian, seharusnya menjadi perhatian utama setiap penulis. Tidak ada penulis yang dapat menilai dengan tepat seberapa baik atau buruk hasil karyanya. Tetapi ia dapat mengetahui apakah hasil karya tulisnya adalah asli —dalam tulisan tangan— atau palsu.
“Sincerity in the proper sense of the word, meaning authenticity, is, however, or ought to be, a writer’s chief preoccupation. No writer can ever judge exactly how good or bad a work of his may be, but he can always know, not immediately perhaps, but certainly in a short while, whether something he has written is authentic — in his handwriting — or a forgery” –W.H. Auden.
Kedisplinan W.H. Auden
“Routine, in an intelligent man, is a sign of ambition” — W.H. Auden.
W.H. Auden pernah menyatakan, “Rutinitas, pada orang yang cerdas, adalah tanda ambisi”. Auden sendiri adalah salah seorang penyair yang ambisius. Ia sangat obsesif untuk selalu tepat waktu dan hidup dengan jadwal yang tepat sepanjang hidupnya.
“Dia memeriksa arlojinya berulang kali,” ugkap seorang teman Auden. “Makan, minum, menulis, berbelanja, teka-teki silang, bahkan kedatangan tukang pos—semuanya diatur dalam hitungan menit dan dengan rutinitas yang menyertainya.”
Auden percaya bahwa kehidupan dengan kedisplinan ala militer penting untuk kreativitasnya. Sebuah cara untuk menjinakkan kehadiran inspirasi dengan jadwalnya sendiri.
“Orang modern mengerti bahwa cara paling pasti untuk memunculkan gairah adalah dengan mendisiplinkan waktu. Putuskan apa yang Anda inginkan atau harus Anda lakukan, lalu selalu kerjakan pada waktu yang sama setiap hari”.
“A modern stoic knows that the surest way to discipline passion is to discipline time: decide what you want or ought to do during the day, then always do it at exactly the same moment every day, and passion will give you no trouble” –W.H. Auden.
Auden bangun sekitar pukul 6.00 pagi. Ia membuat kopi untuk dirinya sendiri, dan segera memulai aktivitas. Ia senang mengisi teka-teki silang. Pikirannya bekerja paling tajam dari pukul 7.00 sampai 11.30, dan dia jarang gagal memanfaatkan waktu emas ini untuk menulis.
Auden melanjutkan pekerjaannya setelah makan siang dan berlanjut hingga sore hari. Ia rehat pukul 18.30. Kemudian menikmati ‘upacara’ makan malam. Auden tidur awal, tidak pernah lebih dari pukul 23.00. Ini semua agar bisa bangun awal, dan menunaikan rutinitas harian.
Menulis adalah salah satu prioritas kegiatan dalam kehidupan Auden. Lagi-lagi, kuncinya adalah disiplin. Ia menjalani kehidupan denga penuh kedisiplinan. Wajar jika Auden disebut sebagai salah satu penyair besar dunia di zamannya.
Bahan Bacaan
Eko Setiawan, Wystan Hugh Auden, https://www.merdeka.com, diakses 13 September 2021
Maria Popova, Auden on Writing, Originality, Self-Criticism, and How to Be a Good Reader, 10 Agustus 2016, https://www.brainpickings.org
Mayo Oshin, The Daily Routine of 20 Famous Writers (and How You Can Use Them to Succeed), 15 Agustus 2017, https://medium.com/