Kembali
Motivasi Menulis

Agar Selalu Produktif Menulis – 18

.

Belajar dari Para Penulis Produktif

Oleh : Cahyadi Takariawan

“A writer who waits for ideal conditions under which to work will die without putting a word on paper” –E.B. White

.

Sebagaimana telah saya sampaikan pada beberapa postingan terdahulu, pada dasarnya tidak ada satu cara atau teknik untuk produktif menulis yang bisa berlaku secara umum. Setiap penulis bisa memiliki cara dan teknik yang paling cocok untuk dirinya. Ini seperti yang diungkap oleh Mark D. White, Ph.D.

Namun Bamidele juga mengingatkan, bahwa tidak semua orang berbeda secara keseluruhannya. Selalu akan ditemukan orang-orang dengan sifat dan karakter yang sama atau hampir sama. Selalu ada orang-orang dengan situasi dan kondisi yang sama atau hampir sama. Untuk itu kita bisa saling belajar.

Tips berikutnya untuk bisa produktif menulis, adalah dengan banyak belajar dari para penulis produktif. Mereka sudah terbukti memiliki banyak karya, maka kita belajar kepada mereka bagaimana bisa mendapatkan produktivitas dalam menulis. Tidak semua tips cocok untuk kita, namun akan ada hal yang bisa kita ambil sebagai inspirasi.

Seri # 8 – Belajar Produktif dari E.B. White

“You asked me about writing—how I did it. There is no trick to it. If you like to write and want to write, you write, no matter where you are or what else you are doing or whether anyone pays any heed” –E.B. White.

Kali ini kita akan belajar dari E.B. White, seorang penulis yang produktif. Siapakah jati dirinya? Mari kita simak.

Elwyn Brooks White, atau yang lebih dikenal dengan E.B. White (1899 – 1985) lahir di Mount Vernon, New York. Ia adalah salah seorang esais dan novelis terkemuka di Amerika yang dikenal dengan gaya tulisan yang ringkas dan menyegarkan. White juga menulis cerita untuk anak-anak. Cerita anak-anak karya White antara lain Stuart Little (1945), Charlotte’s Web (1952); The Trumpet of the Swan (1970), dan lain-lain.  

Lulus dari Cornell University, White menjalani berbagai jenis pekerjaan. Ia pernah menjadi reporter untuk United Press, American Legion News dan Seattle Times. Pernah bekerja sebagai asisten produksi dan penulis naskah iklan. Hingga akhirnya bergabung dengan majalah mingguan New Yorker.

Selama sebelas tahun White menulis esai editorial dan puisi. Ia senang menyoroti kompleksitas masyarakat modern, kegagalan kemajuan teknologi, kegembiraan kehidupan desa dan kota, perang, dan internasionalisme. Pada tahun 1959 White menerbitkan buku panduan menulis, The Elements of Style, yang kemudian menjadi acuan di kampus-kampus Inggris dan Amerika Serikat.

Penghargaan yang pernah diterimanya antara lain medali emas dari National Institute of Arts and Letters dan Pulitzer Prize (1978). Dia juga mendapat gelar kehormatan dari tujuh universitas di Amerika dan menjadi anggota American Academy.

White menghabiskan 50 tahun terakhir dalam kehidupannya di sebuah rumah pertanian putih tua yang menghadap ke laut di North Brooklin, Maine. Di tempat inilah ia menulis sebagian besar karya esainya yang terkenal, tiga buku anak-anak yang sangat populer, dan buku panduan menulis.

Ingin Menjadi Penulis? Menulis Saja!

“Our professional life has been a long shameless exercise in avoidance. Our home is designed for the maximum of interruption, our office is the place where we never are. Yet the record is there. Not even lying down and closing the blinds stops us from writing; not even our family, and our preoccupation with same, stops us” –E.B. White.

Ia pernah membalas surat seorang penggemarnya (17 tahun) yang bertanya tentang tips menulis. “Anda bertanya kepada saya tentang menulis –bagaimana saya melakukannya? Tidak ada tips khusus untuk itu. Jika Anda suka menulis dan ingin menulis, tulis saja, di mana pun Anda berada,” jawab White.

“Jika Anda ingin menulis tentang perasaan, tentang akhir musim panas, tentang perubahan, tulislah tentang itu. Banyak tulisan tidak diplot. Sebagian besar esai saya tidak memiliki  plot atau struktur tertentu”, tambah White.

Terkadang penulis pemula merasa minder, apakah akan ada yang peduli dengan tulisannya? Sebagian yang lain merasa, tema yang akan ditulis terlalu umum, sudah banyak orang menulisnya. “Jika Anda bertanya, ‘Siapa peduli?’ Semua orang peduli. Jika Anda berkata, ‘Ini sudah ditulis sebelumnya.’ Semuanya telah ditulis sebelumnya”, lanjut White.

“You ask, ‘Who cares?’ Everybody cares. You say, ‘It’s been written before’. Everything has been written before” –E.B. White.

Seorang pemula yang ingin menjadi sukses menjadi penulis, terkadang merasa takut untuk memulai. Mereka terbebani, apakah mungkin aku menjadi penulis terkenal? “Anda benar bahwa tugas seseorang dalam hidup adalah menggapai mimpinya. Tetapi jangan khawatir tentang itu dan jangan biarkan membuat Anda menjadi takut”, ujar White. 

Henry Thoreau, penulis Walden, berkata, ‘Saya belajar ini setidaknya melalui eksperimen, bahwa jika seseorang maju dengan percaya diri ke arah mimpinya, dan berusaha untuk menjalani kehidupan yang dia bayangkan, dia akan bertemu dengan kesuksesan yang tak terduga dalam kehidupan biasa’.”

“If you want to write about feelings, about the end of summer, about growing, write about it. A great deal of writing is not “plotted”—most of my essays have no plot structure, they are a ramble in the woods, or a ramble in the basement of my mind” –E.B. White.

Dalam kesempatan yang lain, White menyatakan, “Rumah kita dirancang untuk menghadirkan gangguan maksimal, kantor kita adalah tempat di mana kami tidak pernah berada. Namun tulisan ada di sana. Bahkan sembari berbaring dan menutup tirai, tidak menghentikan kita untuk menulis. Keluarga dan keasyikan kita, tidak menghentikan untuk menulis”.

Tentang Tanggung Jawab Penulis

“I feel no obligation to deal with politics. I do feel a responsibility to society because of going into print: a writer has the duty to be good, not lousy; true, not false; lively, not dull; accurate, not full of error” –E.B. White.

Dalam sebuah wawancara untuk The Paris Review pada tahun 1969, White ditanya pandangannya tentang komitmen penulis terhadap politik dan urusan internasional. “Seorang penulis,” ungkap White, “Harus menyibukkan diri dengan apa pun yang menyerap imajinasinya, menggerakkan hatinya, dan menjalankan mesin tiknya”. 

”Saya merasa tidak ada kewajiban untuk berurusan dengan politik. Saya benar-benar merasa bertanggung jawab kepada masyarakat. Penulis memiliki tugas untuk menjadi baik, bukan buruk; menjadi benar, bukan salah; menjadi asyik, tidak membosankan; akurat, dan tidak penuh dengan kesalahan”, lanjut White. 

“Penulis harus memuliakan orang lain, bukan merendahkan mereka. Penulis tidak hanya merefleksikan dan menafsirkan kehidupan, mereka menginformasikan dan membentuk kehidupan”, ujar White.

“He should tend to lift people up, not lower them down. Writers do not merely reflect and interpret life, they inform and shape life” –E.B. White.

White menilai, penulis harus melihat orang lain untuk dihargai, bukan untuk dihina dan direndahkan. “Saya meyakini bahwa tidak ada penulis yang dapat memperbaiki karyanya sampai dia membuang anggapan bahwa pembaca berpikiran lemah. Menulis adalah tindakan keyakinan, bukan tata bahasa. Pendakian adalah inti dari masalah ini”. 

Tentang Gaya Kepenulisan

“Young writers often suppose that style is a garnish for the meat of prose, a sauce by which a dull dish is made palatable. Style has no such separate entity; is nondetachable, unfilterable” –E.B. White.

White berpandangan, gaya kepenulisan seseorang hendaknya mencerminkan jati dirinya. Bukan sesuatu yang dibuat-buat. Bukan sesuatu yang bercorak asesoris. Namun benar-benar nilai diri sebagai penulis, yang jujur dan sederhana/

“Penulis pemula mengira bahwa gaya menulis adalah hiasan untuk ‘daging’ prosa, semacam saus yang digunakan untuk membuat hidangan yang membosankan menjadi enak. Gaya bukanlah entitas yang terpisah seperti itu. Gaya tidak dapat dilepas, tidak dapat difilter”. 

Penulis pemula harus memilih gaya dengan hati-hati, menyadari bahwa yang dipilih adalah dirinya sendiri, bukan yang lain. Ia harus berpaling dari semua hal yang secara populer diyakini sebagai gaya –tingkah laku, tipu daya, dandanan, asesoris. Pendekatan gaya adalah dengan cara kesederhanaan, keteraturan, dan ketulusan”, ujar White.

“A writer is a gunner, sometimes waiting in his blind for something to come in, sometimes roaming the countryside hoping to scare something up. Like other gunners, he must cultivate patience; he may have to work many covers to bring down one partridge” –E.B. White.

“Seorang penulis adalah penembak, terkadang menunggu dalam buta untuk sesuatu yang akan datang, terkadang berkeliaran di pedesaan berharap untuk menakut-nakuti sesuatu. Seperti penembak lainnya, dia harus memupuk kesabaran. Ia mungkin harus menggunakan banyak alat untuk menurunkan seekor ayam hutan”.

Bagaimana E.B. White Produktif Menulis?

“I never listen to music when I’m working. I haven’t that kind of attentiveness, and I wouldn’t like it at all” –E.B. White.

White adalah contoh salah seorang penulis yang menyukai keheningan saat bekerja. Ia menyatakan, “Saya tidak pernah mendengarkan musik ketika saya bekerja. Saya tidak memiliki perhatian seperti itu, dan saya tidak akan menyukainya sama sekali. Di sisi lain, saya dapat bekerja dengan cukup baik di antara gangguan biasa”.

Uniknya, ia tetap bisa menulis dengan baik walau di rumah terdapat banyak ‘gangguan’ yang alami. “Rumah saya memiliki ruang tamu yang merupakan inti dari segala sesuatu yang terjadi: itu adalah lorong ke ruang bawah tanah, ke dapur, ke lemari tempat telepon berada. Ada banyak lalu lintas”, ujarnya.

“Namun itu adalah ruangan yang cerah dan ceria, dan saya sering menggunakannya sebagai ruangan untuk menulis, terlepas dari keramaian yang terjadi di sekitar saya”, lanjut White. Ia tidak menyukai menulis sambil mendengarkan musik, namun ia bisa menikmati keramaian alami yang muncul dari keluarganya.

“On the other hand, I’m able to work fairly well among ordinary distractions. My house has a living room that is at the core of everything that goes on… There’s a lot of traffic. But it’s a bright, cheerful room, and I often use it as a room to write in, despite the carnival that is going on all around me” –E.B. White.

Karena ia lebih banyak menulis di rumah, “Anggota keluarga saya tidak pernah menganggap saya sebagai seorang profesional penulis. Mereka membuat semua keributan dan kemeriahan yang mereka inginkan,” ujar White.

“Jika saya mulai merasa terganggu, saya punya tempat yang bisa saya kunjungi. Seorang penulis yang menunggu kondisi ideal untuk bekerja akan mati tanpa menuliskan sepatah kata pun di atas kertas”, sambungnya.

Kata kunci produktivitas E.B. White adalah terus menulis, dalam kondisi apapun, tanpa menunggu kondisi ideal. Kadang kita ingin kondisi sunyi sepi, namun jika ternyata menghadapi keramaian, tetap harus menulis. Sebagian penulis justru ingin keramaian, tidak tahan dengan kesepian. Namun jika ternyata ia menjumpai suasana sepi, tetap harus menulis.

Dengan kata lain, tidak beralasan. Terus menulis setiap hari, apapun kondisinya, tanpa beralasan.

Bahan Bacaan

Gerald Lebovits, Thoughts on Legal Writing from the Greatest of Them All: William Strunk Jr. & E.B. White, https://nysba.org, 8 Juli 2020

Mayo Oshin, The Daily Routine of 20 Famous Writers (and How You Can Use Them to Succeed), 15 Agustus 2017, https://medium.com/

Richard Nordquist, What E.B. White Has to Say About Writing, www.thoughtco.com, 16 Februari 2021

Ditulis oleh ruangkeluarga

Dipublikasikan di RUANG KELUARGA. Media edukasi keluarga, parenting, dan keharmonisan rumah tangga.