.
Belajar dari Para Penulis Produktif
Oleh : Cahyadi Takariawan
“You do not have to experience death or destruction or agony to write. You simply have to care about something. Perhaps what you care about is joyful” –Kurt Vonnegut (1922 – 2007)
.
Sebagaimana telah saya sampaikan pada beberapa postingan terdahulu, pada dasarnya tidak ada satu cara atau teknik untuk produktif menulis yang bisa berlaku secara umum. Setiap penulis bisa memiliki cara dan teknik yang paling cocok untuk dirinya. Ini seperti yang diungkap oleh Mark D. White, Ph.D.
Namun Bamidele juga mengingatkan, bahwa tidak semua orang berbeda secara keseluruhannya. Selalu akan ditemukan orang-orang dengan sifat dan karakter yang sama atau hampir sama. Selalu ada orang-orang dengan situasi dan kondisi yang sama atau hampir sama. Untuk itu kita bisa saling belajar.
Tips berikutnya untuk bisa produktif menulis, adalah dengan banyak belajar dari para penulis produktif. Mereka sudah terbukti memiliki banyak karya, maka kita belajar kepada mereka bagaimana bisa mendapatkan produktivitas dalam menulis. Tidak semua tips cocok untuk kita, namun akan ada hal yang bisa kita ambil sebagai inspirasi.
Seri # 10 – Belajar Produktif dari Kurt Vonnegut
“A young woman to whom I was teaching Creative Writing at CCNY years ago, confessed to me, half-ashamed, as though this was keeping her from being a truly creative writer, that she had never seen a dead person. I put my hand on her shoulder, and I said, “One must be patient” –Kurt Vonnegut.
Kali ini kita akan belajar dari Kurt Vonnegut, seorang novelis yang produktif. Siapakah jati dirinya? Mari kita simak.
Kurt Vonnegut adalah novelis produktif yang telah melahirkan karya mendunia, di antaranya adalah Cat’s Cradle, Breakfast of Champions, dan Slaughterhouse Five. Karya-karyanya dinilai sering memunculkan kontradiksi.
Lahir 1922 di Indianapolis AS dan wafat pada 2007 di New York, Vonnegut dibesarkan di Indianapolis dalam keluarga yang kaya raya. Semasa remaja, Vonnegut telah menulis untuk surat kabar di sekolah menengahnya. Selanjutnya ia melanjutkan pendidikan di Universitas Cornell di New York.
Ia ditangkap oleh tentara Jerman selama Perang Dunia II. Vonnegut adalah salah satu korban selamat dari penembakan di Dresden, Jerman, pada Februari 1945. Usai perang, Vonnegut mengambil kuliah pascasarjana dalam bidang antropologi di Universitas Chicago sekaligus bekerja sebagai reporter.
Awal 1950, Vonnegut mulai menerbitkan beberapa cerita pendek. Novel pertamanya, Player Piano (1952), menguraikan tema-tema teknologi dan masa depan, memvisualisasikan masyarakat yang sepenuhnya mekanis dan otomatis yang efek dehumanisasinya tidak berhasil ditentang oleh para ilmuwan dan pekerja di kota industri New York.
Novel kedua berjudul The Sirens of Titan (1959). Dalam novel ini, Vonnegut membayangkan sebuah skenario di mana seluruh sejarah umat manusia dianggap sebagai petugas kecelakaan di planet asing yang mencari suku cadang untuk pesawat ruang angkasa.
Vonnegut terpilih sebagai anggota Akademi Seni dan Sains Amerika (the American Academy of Arts and Sciences) pada tahun 1973. Vonnegut tetap produktif sepanjang tahun 1980-an, ia berjuang dengan depresi dan pada tahun 1984 sempat mencoba untuk bunuh diri (Mena Oktariyana, 2020).
Kunci Produktivitas Menulis ala Vonnegut
“I do pushups and sit ups all the time” –Kurt Vonnegut.
Saya coba pelajari proses menulis Vonnegut dari berbagai sumber. Saya menemukan beberapa kata kunci produktivitas Vonnegut dalam melahirkan karya tulis. Di antaranya adalah sebagai berikut.
Kunci pertama yang bisa diambil dari Vonnegut adalah kesabaran. Vonnegut menceritakan, “Seorang perempuan muda yang mengikuti kelas kepenulisan kreatif di CCNY, mengaku kepadaku dengan agak malu”.
“Seakan kelas pembelajaran ini akan dapat menjadikannya penulis yang benar-benar kreatif. Aku meletakkan tanganku di bahunya, dan berkata, “Seseorang harus bersabar,” ujar Vonnegut.
Sabar, ini salah satu kunci produktivitas menulis yang diajarkan Vonnegut. Sering kali, para penulis pemula tidak sabar. Apalagi tipe manusia di zaman cyber. Sering kali tergilas budaya instan. Ingin cepat mendapatkan hasil tanpa harus melewati proses.
Kunci kedua yang bisa diambil dari Vonnegut adalah disiplin menulis di waktu pagi. Pada tahun 1965, Kurt Vonnegut menulis surat kepada Jane. Dalam surat itu ia menceritakan rutinitas hariannya.
“Aku bangun pukul 05.30, kemudian menulis sampai pukul 08.00. Aku sarapan pagi di rumah, lanjut menulis sampai pukul 10.00,” tulis Vonnegut. Ia termasuk tipe penulis pagi, yang mengoptimalkan potensi kesegaran pagi untuk membangkitkan ide-ide segar.
Kunci ketiga yang bisa diambil dari Vonnegut adalah menjaga olah raga. Vonnegut tak meninggalkan olah raga rutin. Ia suka berjalan kaki, berenang, push up dan sit up.
“Aku berjalan kaki beberapa blok ke arah kota, menuju kolam renang kota terdekat, dan berenang setengah jam”, ujarnya. Dalam kesempatan lain, ia menceritakan bahwa ia melakukan push up dan sit up sepanjang waktu.
“Aku melakukan push up dan sit up sepanjang waktu, dan merasa seolah-olah telah menjadi kurus dan berotot, tapi mungkin saja tidak,” ujarnya.
Kunci keempat yang bisa diambil dari Vonnegut adalah mampu menikmati rutinitas hidup. “(Setelah berenang), aku pulang ke rumah pukul 11.45. Sesampai di rumah membaca surat-surat yang datang, dan makan siang,” tulis Vonnegut.
“Sore hari aku mulai melaksanakan tugas untuk kelas, baik mengajar maupun mempersiapkan diri. Pulang dari aktivitas kelas sekitar pukul 17.30, aku membeli Scotch di toko State Liquor. Sampai di rumah aku menyiapkan makan malam, membaca dan mendengarkan musik jazz. Aku tidur pukul sepuluh malam”.
Tentu saja untuk Scotch dan yang semacamnya –bukan untuk ditiru. Masing-masing kita punya minuman kesukaan sendiri-sendiri. Saya suka kopi, Haruki Murakami suka jus jeruk, Stephen King suka teh panas, Anda juga punya kesukaan masing-masing. Tidak perlu meniru soal merk dan jenis minuman.
Kunci kelima yang bisa diambil dari Vonnegut adalah menetapkan minat terhadap sesuatu. “Kamu tidak harus mengalami kematian atau kehancuran atau penderitaan untuk menulis. Kamu hanya perlu peduli tentang sesuatu. Mungkin yang kamu pedulikan itu kegembiraan”, ujar Vonnegut.
Terkadang seseorang merasa dirinya tidak pernah mengalami kejadian-kejadian besar dan spektakuler untuk bisa ditulis. Vonnegut menyatakan, seseorang hanya perlu peduli tentang sesuatu. Tidak selalu penderitaan dan kematian —seperti dirinya yang menjadi tawanan perang.
Karena pada dasarnya –semua hal bisa ditulis. Bagaimana dengan Anda? Apa minat dan peduli Anda? Segera tuliskan.
Bahan Bacaan
Mayo Oshin, The Daily Routine of 20 Famous Writers (and How You Can Use Them to Succeed), 15 Agustus 2017, https://medium.com/
Mena Oktariyana, Mengenal Kurt Vonnegut, Si Penulis Novel-novel Satir, https://www.kompasiana.com, 21 April 2020
Suzanne McConnel & Kurt Vonnegut, Kurt Vonnegut’s Advice for the Impatient Writer, https://lithub.com, 11 November 2019
Yoga Akbar S, Nasihat Kurt Vonnegut untuk Penulis Tidak Sabaran, https://www.akbaryoga.com, 18 November 2019