Kembali
Motivasi Menulis

Agar Selalu Produktif Menulis – 38

.

Belajar dari Para Penulis Produktif

Oleh : Cahyadi Takariawan

“You can go and make up your own list right now and it would be different than mine. The night. The crickets. The train whistle. The basement. The attic. The tennis shoes. The fireworks. All these things are very personal” –Ray Bradbury.

.

Ray Douglas Bradbury (1920 –2012) adalah penulis Amerika yang terkenal karena cerita pendek dan novelnya yang sangat imajinatif. Ia mampu memadukan gaya fiksi, kritik sosial, ilmu pengetahuan dan teknologi.

Pada beberapa postingan sebelumnya, sudah kita bahas beberapa tips produktif menulis dari Bradbury. Kali ini saya tanbahkan lagi tips produktif menulis dan Ray Bradbury.

Tentu saja tidak semua hal bisa ditiru. Pilih yang cocok untuk masing-masing kita, tinggalkan yang tidak bisa kita lakukan.

Latihan Asosiasi Kata

“I finally figured out that if you are going to step on a live mine, make it your own. Be blown up, as it were, by your own delights and despairs” –Ray Bradbury.

Saya sering mendapat pelajaran “asosiasi tiga kata”, atau “asosiasi lima kata”, di berbagai forum pelatihan. Saya tidak menyangka bahwa Bradbury pun menggunakan teknik asosiasi kata ini untuk memicu produktivitas dan kreativitas menulis, namun dengan perspektif yang berbeda.

“Ada tiga hal yang ada di kepala Anda”, ujar Bradbury. “Pertama, semua peristiwa yang Anda alami sejak lahir hingga saat ini. Setiap detik, setiap jam, setiap hari”. Bagi Bradbury, semua peristiwa dan kejadian dalam kehidupan adalah inspirasi untuk diolah menjadi tulisan.

“Kedua, bagaimana Anda bereaksi terhadap peristiwa-peristiwa itu pada saat terjadinya. Apakah peristiwa itu bencana atau kegembiraa? Itu adalah dua hal yang ada dalam pikiran Anda untuk memberi Anda inspirasi,” lanjutnya. Bukan saja tentang kejadian atau peristiwa, namun juga tentang respon atas  peristiwa tersebut.

“Ketiga, semua pengalaman seni yang Anda miliki, berupa hal-hal yang telah Anda pelajari dari penulis, seniman, penyair, sutradara film, dan komposer lain. Jadi semua ini ada dalam pikiran sebagai potensi yang luar biasa dan harus Anda optimalkan”, lanjut Bradbury.

“Bagaimana Anda melakukannya?” ungkap Bradbury. “Saya melakukannya dengan membuat daftar kata benda dan kemudian bertanya, apa arti setiap kata ini? Anda dapat membuat daftar kata sendiri. Malam. Jangkrik. Peluit kereta api. Bawah tanah. Loteng. Sepatu tenis. Kembang api. Semua hal ini sangat pribadi”, ungkapnya.

“Ketika Anda telah menulis daftar kata itu, mulailah mengasosiasikan kata-kata di sekitarnya. Misalnya Anda bertanya, ‘Mengapa saya memilih kata ini? Apa artinya bagi saya? Mengapa saya meletakkan kata benda ini dan bukan kata lain?’ Lakukan ini dan Anda sedang dalam perjalanan untuk menjadi penulis yang baik”, ungkap Bradbury.

Penghayatan yang Mendalam

“How do you do that? I did it by making lists of nouns and then asking, what does each noun mean?” –Ray Bradbury

Dari proses kreatif yang diceritakan Bradbury, saya dapat mengambil pelajaran bahwa ia menulis dengan penghayatan yang mendalam. Ia mempertanyakan “mengapa aku memilih kata itu, bukan yang lain?” Ia mencoba menemukan makna dengan asosiasi atas berbagai hal dalam pengalaman kehidupannya.

Sekarang saya praktikkan ya, pelajaran dari Bradbury di atas. Coba perhatikan. Saya pilih tiga kata berikut ini.

  • Malam
  • Kucing
  • Sepi

Dari tiga kata ini, cobalah membuat asosiasi. Pertama, asosiasikan dengan pengalaman hidup Anda selama ini. “Malam”, apa pengalaman hidup Anda terhadap malam? Apa hal yang berkesan tentang malam? Apa yang menakutkan tentang malam? “Kucing”, apa pengalaman hidup Anda terhadap kucing? “Sepi”, apa pengalaman hidup Anda terhadap sepi?  

Kedua, asosiasikan dengan respon atau reaksi Anda saat kata itu disebutkan. Jika disebut kata “malam”, apa respon Anda? Jika disebut kata “kucing”, apa respon Anda? Jika disebut kata “sepi”, apa respon Anda?

Ketiga, asosiasikan dengan pengalaman estetis yang pernah Anda pelajari dari orang lain. Misalnya, kata “malam”, saya asosiasikan dengan ungkapan Sapardi Djoko Damono, “Ia ingin berdoa malam ini, tapi tak bisa mengakhiri, tak bisa menemukan kata penghabisan”.

Berikutnya kata “kucing”, saya asosiasikan dengan ungkapan Sujiwo Tejo, “Bagi kucing, mungkin kita semua adalah manusia dalam karung”. Kata “sepi”, saya asosiasikan dengan ungkapan Joko Pinurbo, “Engkau tidak takut sekian lama tinggal sendirian? Engkau tidak pernah kesepian? Oh, tidak. Mungkin malah sepi yang takut dengan kesendirianku.”

“Then, when you get the list down, you begin to word-associate around it. You ask, why did I put this word down? What does it mean to me? Why did I put this noun down and not some other word? Do this and you’re on your way to being a good writer” –Ray Bradbury.

Sekarang tanyakan pada diri sendiri, dari semua asosiasi yang sudah Anda lakukan, apa makna malam bagi Anda? Apa makna kucing bagi Anda? Apa makna sepi bagi Anda? Lalu rajutlah semua makna menjadi cerita, menjadi esai, menjadi narasi. Rajutlah semua asosiasi Anda menjadi rangkaian kalimat, rangkaian paragraf, yang bermakna dan berguna.

Ini yang saya maksud penghayatan. Bukan sekedar menghitung jumlah kata yang bisa ditulis per satuan waktu. Namun totalitas menghayati kata per kata.

Bahan Bacaan

Emily Temple, Ray Bradbury’s Greatest Writing Advice, https://lithub.com, 22 Agustus 2018

Mayo Oshin, The Daily Routine of 20 Famous Writers (and How You Can Use Them to Succeed), 15 Agustus 2017, https://medium.com/

Sue Weems, How to Bust Excuses and Focus on Your Writing Like Ray Bradbury, https://thewritepractice.com

Ditulis oleh ruangkeluarga

Dipublikasikan di RUANG KELUARGA. Media edukasi keluarga, parenting, dan keharmonisan rumah tangga.