Kembali
Motivasi Menulis

Agar Selalu Produktif Menulis – 50

.

Belajar dari Para Penulis Produktif

Oleh : Cahyadi Takariawan

“I write every morning, seven days a week. I write starting about eight o’clock and finish around eleven….I am so compulsive that I have a quota of pages” –Alice Munro.

.

Alice Munro adalah penulis fiksi produktif dan penerima penghargaan Nobel bidang sastra tahun 2013. Munro terkenal dengan gaya tulisan yang sederhana dan bersahaja. Mayoritas karya tulisnya berupa cerita pendek, namun dengan ukuran yang panjang untuk setiap cerpennya.

Pada beberapa postingan sebelumnya, sudah kita bahas tips produktif menulis dari Alice Munro. Kali ini saya tambahkan lagi tips produktif menulis dan Munro. Tentu saja tidak semua hal bisa ditiru. Pilih yang cocok untuk masing-masing kita, tinggalkan yang tidak bisa kita lakukan.

Mengatur Jadwal Menulis

“Ketika anak-anak saya masih kecil, saya selalu menyempatkan menulis setelah mereka berangkat sekolah” –Alice Munro.

Kesibukan, adalah salah satu poin papan atas untuk dijadikan alasan banyak orang untuk tidak menulis. Terlalu banyak orang mengatakan sibuk, sehingga berhari-hari tidak pernah menulis. Terlalu banyak orang mengatakan ‘tidak sempat’ atau ‘tidak ada waktu’ untuk menulis.

Sebenarnya, dua hal terkait dengan persoalan jadwal menulis. Pertama adalah soal nilai kepentingan (meaning) menulis bagi dirinya. Kedua adalah soal manajemen teknis pengaturan kegiatan harian.

Jika dikatakan sibuk, semua orang pasti merasa atau mengaku sibuk. Namun toh mereka tetap makan dan minum di tengah kesibukan. Mereka tetap tidur untuk istirahat –sesibuk apapun hari-hari yang sedang dilalui. Artinya, kesibukan adalah soal prioritas kepentingan. Semua yang kita lakukan, adalah hal yang menurut kita penting.

Sesuatu yang kita anggap tidak penting –paling tidak untuk saat ini, pasti akan berada di urutan bawah dari list yang harus kita kerjakan. Sesuatu yang kita anggap sangat penting, pasti akan menempati urutan atas dari list pekerjaan harian. Maka Anda bisa melihat, apakah menulis masuk list pekerjaan harian atau tidak? Jika masuk, di urutan atas atau paling bawah? Ini hal pertama terkait jadwal.

Hal kedua adalah soal manajemen teknis pengaturan kegiatan harian. Jika menulis masuk daftar prioritas, maka akan didahulukan. Sesibuk apapun kehidupan seseorang. Sebagai apapun diri seseorang.

Pandai Menyiasati Kondisi untuk Menulis

Perhatikan bagaimana Munro mengatur jadwal menulis. “Ketika anak-anak saya masih kecil, saya selalu menyempatkan menulis setelah mereka berangkat sekolah,” ungkap Munro. Ini adalah contoh bagaimana seorang ibu rumah tangga mengatur agenda kegiatannya. Adalah penting untuk mempersiapkan anak ke sekolah, namun ia selalu punya waktu untuk menulis.

“Bisa dikatakan, saya menulis sangat giat di masa tersebut. Suami dan saya memiliki sebuah toko buku. Jika giliran saya tiba untuk jaga toko, saya tidak berangkat dari rumah sampai pukul dua belas siang”, ujar Munro.

“Seharusnya saya membereskan rumah, tapi saya justru banyak menghabiskan waktu menulis”, ujar Munro. “Beberapa tahun kemudian, saat saya tidak lagi bekerja di toko buku, saya menulis sampai suami dan anak pulang untuk makan siang,” ujarnya.

“Kemudian disambung lagi menulis saat suami dan anak keluar rumah sehabis makan siang—sampai sekitar pukul 14.30. Setelah itu saya minum secangkir kopi dan membereskan rumah sebelum anak-anak dan suami saya datang lagi”, ungkap Munro.

“Sekarang saya menulis setiap pagi, tujuh hari sepekan. Saya mulai menulis sekitar pukul delapan dan selesai pada pukul sebelas siang”, ujar Munro. Perhatikan bagaimana ia sangat dinamis mengatur jadwal menulis, disesuaikan dengan berbagai urusan lainnya. Maka waktu menulis menjadi fleksibel tergantung situasi dan kondisi yang  dihadapi.

“Setelah menulis, saya akan melakukan hal lain seharian penuh. Kecuali saya sedang menyelesaikan draft terakhir sebuah cerpen atau saya sangat terdorong untuk menulis sesuatu—pada saat itu saya akan menulis seharian, dengan sedikit sekali waktu istirahat”, sambungnya.

Kita menemukan dua sisi yang dipadukan menjadi satu oleh Munro. Yang pertama adalah nilai kepentingan menulis –bagi Munro menulis adalah prioritas. Maka ia selalu terdorong untuk rutin menulis, seperti apapun kondisinya. Yang kedua adalah fleksibilitas dalam mengelola kegiatan menulis.

Ia tidak kaku mengharuskan diri menulis pada jam tertentu atau kondisi tertentu. Tampak Munro sangat fleksibel, pandai menyiasati kondisi dan situasi. Saat anak-anak masih kecil dan memerlukan perhatian lebih, ia akan mengurus anak hingga berangkat sekolah. Setelah anak di sekolah, ia leluasa menulis.

Saat masih bekerja di toko buku, ia memiliki jadwal tertentu antara bekerja dan menulis. Setelah resain, tidak lagi menjaga toko buku, waktu menulis lebih leluasa. Inilah contoh fleksibilitas yang membuat Munro produktif menulis. Ia pandai menyiasati semua kondisi dan situasi. Meskipun terkadang ada yang terkalahkan –seperti membersihkan rumah, namun hal-hal sangat penting sudah ia selesaikan.

Bagaimana dengan Anda? Selamat berkarya, selamat mengubah dunia.

Bahan Bacaan

Brian Rowe, 5 Quotes by Alice Munro to Make You a Better Writer, https://medium.com, 31 Maret 2020

Jeanne McCulloch & Mona Simpson, Alice Munro : The Art of Fiction No. 137, https://www.theparisreview.org, Issue 131, Summer 1994

Mayo Oshin, The Daily Routine of 20 Famous Writers (and How You Can Use Them to Succeed), 15 Agustus 2017, https://medium.com

Ditulis oleh ruangkeluarga

Dipublikasikan di RUANG KELUARGA. Media edukasi keluarga, parenting, dan keharmonisan rumah tangga.