Kembali
Motivasi Menulis

Agar Selalu Produktif Menulis – 53

.

Belajar dari Para Penulis Produktif

Oleh : Cahyadi Takariawan

“I write every weekday morning. I try to vary what I am doing, and my verse, or poetry, is a help here. Embarked on a long project, I try to stay with it even on dull days” –John Updike.

.

Menulis adalah aktivitas kreatif, yang bercorak sangat dinamis. Pada dasarnya tidak ada satu cara atau teknik untuk produktif menulis yang bisa berlaku secara umum. Setiap penulis bisa memiliki cara dan teknik yang paling cocok untuk dirinya –yang bisa berbeda dengan orang lain.

Namun kita juga menyadari, tidak semua orang berbeda secara keseluruhannya. Selalu akan ditemukan orang-orang dengan sifat dan karakter yang sama atau hampir sama. Selalu ada orang-orang dengan situasi dan kondisi yang sama atau hampir sama. Untuk itu kita bisa saling belajar.

Salah satu tips untuk bisa produktif menulis, adalah dengan banyak belajar dari para penulis produktif. Mereka sudah terbukti memiliki banyak karya, maka kita belajar kepada mereka bagaimana bisa mendapatkan produktivitas dalam menulis. Tidak semua tips cocok untuk kita, namun akan ada hal yang bisa kita ambil sebagai inspirasi.

Kita batasi wilayah pembelajaran, hanya dalam konteks proses kreatif dan produktivitas menulis. Kita tidak sedang belajar atau mengadopsi ideologi, isme, keyakinan, ataupun ajaran. Kita tengah belajar tips kreatif dan produktif menulis.

Seri # 14 – Belajar Produktif dari John Updike

Kali ini kita akan belajar dari John Updike, seorang penulis yang produktif. Siapakah jati dirinya? Mari kita simak.

John Hoyer Updike adalah seorang novelis, penulis puisi, penulis cerita pendek, kontributor The New Yorker, kritikus seni, dan sekaligus kritikus karya sastra. Penulis produktif ini lahir pada 1932, dan wafat pada 2009 di Amerika Serikat.

Karyanya yang paling terkenal adalah seri Harry “Rabbit” Angstrom yang mengisahkan tentang kehidupan Rabbit dari masa mudanya hingga detik-detik kematiannya. Bukunya yang berjudul “Rabbit is Rich” dan “Rabbit at Rest” mendapat penghargaan Pulitzer untuk kategori karya fiksi.

Di sepanjang hidupnya, Updike telah menerbitkan lebih dari 20 novel, belasan kumpulan cerita pendek, delapan volume buku kumpulan puisi, dan beberapa buku nonfiksi. Buku pertamanya berjudul The Carpenter’s Hen berbentuk kumpulan puisi. Demikian pula karyanya yang terakhir, Endpoint, berbentuk kumpulan puisi.

Tetap Menulis Pada Hari yang Membosankan

“For every novel, however, that I’ve published, there has been one left unfinished or scrapped. Some short stories, are fragments salvaged and reshaped” –John Updike.

Mengapa seseorang bisa produktif menulis? Salah satu jawabannya adalah, karena ia terus menulis, meskipun pada hari-hari yang sangat sibuk dan melelahkan. Terkadang, seseorang membiarkan dirinya tidak menulis karena bertemu hari yang padat kegiatan dan melelahkan.

Ada pula orang yang tidak menulis lantaran merasa tidak menemukan mood, atau tidak menemukan ide untuk ditulis. Dampaknya, berhari-hari ia hanya berharap hadirnya mood yang akan membuatnya semangat menulis. Ia berharap hadirnya keajaiban yang memberinya tenaga ekstra untuk melahirkan karya tulis.

Inilah salah satu kunci produktivitas John Updike. “Saya berusaha untuk tetap menulis, bahkan pada hari-hari yang sangat membosankan,” ujar Updike. JikaAndaberada dalam sebuah projek penulisan buku dengan waktu yang panjang, terkadang menemukan hari-hari yang menjemukan.

Sebuah buku tebal bisa ditulis hingga berbulan-bulan baru selesai. Tentu saja hal ini bisa menjadi rutinitas yang sangat melelahkan. Pada titik tertentu, bisa jadi akan menemukan kebosanan. Berita bagusnya, Updike memberi contoh bahwa ia tetap menulis walau menghadapi hari-hari yang membosankan. Ia tidak menjadikan kebosanan sebagai alasan untuk tidak menulis.

“Saya menulis setiap pagi,” ungkap Updike. Ini menambah daftar deretan panjang para penulis pagi. Toni Morrison, Haruki Murakami, Ernest Hemingway, dan sangat banyak penulis dunia lainnya, terbiasa menoreh karya pada pagi hari. Pagi adalah waktu yang memacu hadirnya kreativitas. Menulis di waktu pagi memberikan suntikan motivasi berkarya pada banyak penulis dunia.

Menemukan Titik Kebahagiaan

“In the execution there has to be a ‘happiness’ that can’t be willed or foreordained. It has to sing, click, something” –John Updike.

Untuk menghindari kebosanan, Updike berusaha membuat variasi. Menulis hanya satu jenis, bisa membuatnya jenuh. “Saya mencoba memvariasikan apa yang saya lakukan, dan syair atau puisi, sangat membantu di sini,” ungkap Updike. Membuat variasi saat menulis, adalah cara untuk menjaga gairah dan kebahagiaan.

Ketika Updike mulai menulis novel yang panjang, ia harus berkonsentrasi untuk menuntaskannya. Namun ia juga menyadari, tidak boleh kehilangan kebahagiaan dalam melakukannya. “Memulai proyek yang panjang, saya mencoba untuk tetap melakukannya bahkan pada hari-hari yang membosankan”, ujarnya.

Melewati hari-hari membosankan, apabila dibiarkan tanpa tulisan, akan membuat projek penulisan buku berlarut-larut. Tidak segera terselesaikan. Untuk itu, Updike selalu berusaha menghadirkan kebahagiaan dalam proses penulisan. “Dalam pelaksanaannya harus ada ‘kebahagiaan’ yang tidak bisa ditentukan sebelumnya,” tambahnya.

Bagaimana dengan Anda? Selamat berkarya, selamat berbahagia.  

Bahan Bacaan

Mayo Oshin, The Daily Routine of 20 Famous Writers (and How You Can Use Them to Succeed), https://medium.com, 15 Agustus 2017

Sam Tanenhaus, John Updike’s Archive: A Great Writer at Work, https://www.nytimes.com, 20 Juni 2010

Ditulis oleh ruangkeluarga

Dipublikasikan di RUANG KELUARGA. Media edukasi keluarga, parenting, dan keharmonisan rumah tangga.