.
Belajar dari Para Penulis Produktif
Oleh : Cahyadi Takariawan
“Since I’ve gone through some trouble not to teach and not to have any employment, I have no reason not to go to my desk after breakfast and work there until lunch, so I work three or four hours in the morning. And it’s not all covering blank paper with beautiful phrases” –John Updike.
.
John Hoyer Updike adalah seorang novelis, penulis puisi, penulis cerita pendek, serta kontributor The New Yorker. Dua karyanya mendapatkan penghargaan bergengsi Pulitzer untuk kategori fiksi. Di sepanjang hidupnya, Updike telah menerbitkan lebih dari 20 novel, belasan kumpulan cerita pendek, delapan volume buku kumpulan puisi, dan beberapa buku nonfiksi.
Pada beberapa postingan sebelumnya, sudah kita bahas tips produktif menulis dari John Updike. Kali ini saya tambahkan lagi tips produktif menulis dan Updike. Tentu saja tidak semua hal bisa ditiru. Pilih yang cocok untuk masing-masing kita, tinggalkan yang tidak bisa kita lakukan.
Membangun Rutinitas Menulis
“I begin by answering a letter or two — there’s a lot of junk in your life as a writer, most people have junk in their lives — but I try to give about three hours to the project at hand and to move it along” –John Updike.
Jessica Brody (2020), seorang penulis dan bloger, menyarankan agar Anda menulis pada waktu yang sama setiap harinya. Menurutnya, ketika Anda melakukan hal yang sama setiap hari, Anda tidak perlu berpikir untuk melakukannya. Itu sudah menjadi rutinitas yang bisa berjalan dengan otomatis. Menulis akan menjadi bagian dari hari Anda. Bukan sesuatu yang harus dipaksa ke dalam jadwal kegiatan Anda.
“Saya sering membandingkan menulis dengan menyikat gigi”, ungkap Brody. “Kebanyakan orang menyikat gigi pada waktu yang sama setiap hari. Kita tidak perlu memikirkannya, kita hanya melakukannya. Semakin mampu Anda memperkuat waktu menulis ke dalam aktivitas harian hari Anda, semakin terasa menjadi bagian dari hari Anda,” lanjut Brody.
Demikian pula Updike. Ia merasa harus secara rutin melakukan menulis pada waktu yang sama. “Saya mengalami kesulitan untuk tidak mengajar dan tidak memiliki pekerjaan, maka saya tidak punya alasan untuk tidak pergi ke meja saya setelah sarapan”, ujar Updike.
Ia menulis sejak sarapan pagi hingga tiba waktu makan siang. “Saya menulis tiga atau empat jam di pagi hari. Dan itu tidak semua menutupi kertas kosong dengan frasa yang indah”, lanjut Updike. Meskipun sudah menulis tiga hingga empat jam setiap pagi, namun belum bisa menuntaskan karya tulis yang ia kerjakan. Ia harus melanjutkannya besok pagi.
“Saya mulai dengan menjawab satu atau dua surat”, ungkap Updike. Ini adalah sebentuk kepedulian yang harus ia lakukan. “Ada banyak sampah dalam hidup Anda sebagai penulis, sebagaimana kebanyakan orang memiliki sampah dalam hidup mereka”, ungkap Updike. “Saya mencoba mengalokasikan sekitar tiga jam untuk menulis”, sambungnya.
Konsistensi, ini yang mahal. “Saya mencoba untuk tetap pada jadwal. Saya telah mempertahankan jadwal ini terus menerus”, ujar Updike. Saya kira, ini salah satu faktor penting yang membangun produktivitas menulis Updike.
Kuncinya adalah pada kecermatan kita terhadap rutinitas harian yang kita lalui. Jessica Brody menyarankan, “Lihatlah jadwal Anda dan tanyakan pada diri sendiri, di mana Anda dapat secara realistis menyesuaikan diri dalam sesi menulis. Jujurlah pada diri sendiri”, ujarnya.
“Jika Anda terlalu ambisius dan mencoba menulis pada jam 6 sore setiap hari tetapi Anda tahu bahwa Anda sering memiliki rencana makan malam sepanjang pekan, akan sulit untuk membuatnya berhasil”, ungkap Brody.
“Jadi meskipun Anda hanya bisa menulis selama 30 menit setiap hari, lakukan. Jika Anda bisa menulis lebih banyak, bagus. Tapi sekali lagi, kuncinya adalah jujur pada diri sendiri. Jangan terlalu berambisi dan kemudian harus membiarkan diri Anda libur menulis selama dua minggu”, ujar Brody.
“Lebih baik menjadwalkan sesi menulis 45 menit setiap hari dan dapat melewati waktu pada beberapa hari,” ungkap Brody. “Anda bisa menyelesaikan banyak sekali tulisan hanya dalam 45 menit jika Anda melakukannya secara konsisten dan mampu menghilangkan gangguan selama menulis”
Tak Ada Pensiun Menulis
“It’s a long time to be doing one thing. I don’t know how to retire. I don’t know how to get off the horse, though. I still like to do it. I still love books coming out” –John Updike.
Ketika menulis sudah menjadi bagian dari kehidupan Anda, maka Anda tidak akan bisa pensiun. “Ini adalah waktu yang lama untuk melakukan satu hal. Saya tidak tahu bagaimana cara pensiun”, ujar Updike. Menulis sudah menjadi habit, menjadi kenikmatan, menjadi kebahagiaan, sehingga Updike tidak bisa pensiun dari menulis.
“Saya tidak tahu bagaimana cara turun dari kuda. Saya masih suka melakukannya. Saya masih suka melihat buku-buku yang terbit. Saya suka bau lem dan tampilan jaket dan tipenya yang mengkilap, dan melihat coretan Anda sendiri berubah menjadi tipe yang semakin sempurna”, ujar Updike.
“I love the smell of glue and the shiny look of the jacket and the type, and to see your own scribbles turned into more or less impeccable type” –John Updike.
“Ini masih menjadi sensasi yang luar biasa bagi saya, jadi saya mungkin akan bertahan sedikit lebih lama,” sambung Updike. Ketika menulis telah menjadi bagian dari kehidupan seseorang, semua hal terkait tulis menulis menjadi sensasi yang menyenangkan. Bahkan “bau lem” ataupun “jaket” pada kulit buku, menjadi sangat sensasional bagi Updike.
Bagaimana dengan Anda? Selamat berkarya, selamat mengubah dunia.
Bahan Bacaan
A Writers Den, John Updike, https://awritersden.wordpress.com, 20 Desember 2017
Jessica Brody, How to Create a Writing Routine that will Activate Your Creativity, https://www.jessicabrody.com, 29 Desember 2020
Mayo Oshin, The Daily Routine of 20 Famous Writers (and How You Can Use Them to Succeed), https://medium.com, 15 Agustus 2017
Sam Tanenhaus, John Updike’s Archive: A Great Writer at Work, https://www.nytimes.com, 20 Juni 2010