Kembali
Motivasi Menulis

Agar Selalu Produktif Menulis – 68

.

Belajar dari Para Penulis Produktif

Oleh : Cahyadi Takariawan

“If at any time I have slipped into idleness for a day or two, the record of that idleness has been there staring me in the face, and demanding of me increased labour” –Anthony Trollope.

.

Anthony Trollope adalah seorang novelis produktif. Ia dikenal memiliki kemampuan menulis dengan kecepatan yang luar biasa. Novel pertamanya terbit pada tahun 1847. Pada kurun masa 38 tahun berikutnya, ia menerbitkan 47 novel, 18 karya nonfiksi, 12 cerita pendek, 2 drama, dan berbagai artikel.

Pada beberapa postingan sebelumnya, sudah kita bahas tips produktif dari Anthony Trollope. Kali ini saya tambahkan lagi tips produktif menulis dan Trollope. Tentu saja tidak semua hal bisa ditiru. Pilih yang cocok untuk masing-masing kita, tinggalkan yang tidak bisa kita lakukan.

Etos Kerja yang Luar Biasa

“Trollope had an absolutely ferocious work ethic. For each book he kept a diary and noted down the number of pages he wrote every week” –Victoria Blake, 2014

Ada sangat banyak jenis penulis. Beberapa orang menceritakan menulis dengan cara santai bahkan cenderung “semaunya”. Mereka tidak mau diikat oleh suatu aturan tertentu. Mereka menulis sesuai aliran jiwa mereka pada saat itu.

Namun ada jenis penulis yang sangat disiplin dalam segala sesuatu. Trollope adalah salah satu contoh penulis yang bertipe disiplin. Ia membuat aturan untuk dirinya sendiri, dan ia tunduk pada aturan tersebut. Inilah etos kerja luar biasa yang pernah ditunjukkan oleh penulis dalam menghasilkan karya.

Trollope memiliki etos kerja yang benar-benar tinggi. Setiap kali mulai menulis buku baru, ia mencatat progres di sebuah buku catatan harian untuk mencatat jumlah halaman yang berhasil ditulis setiap pekan. Alasannya sangat kuat, “Jika suatu saat saya tergelincir ke dalam kemalasan selama satu atau dua hari, catatan kemalasan itu telah ada di sana, menatap wajah saya, dan menuntut saya untuk meningkatkan kinerja,” ujar Trollope.

Ia menulis 250 kata dalam satu halaman buku. Setiap halaman buku diselesaikan dalam waktu 15 menit. Ia menentukan jumlah halaman yang harus ditulis dalam sepekan. Kenyataannya, sepekan ia menulis 20 halaman, atau 5.000 kata, kadang bisa mencapai 40 halaman, atau 10.000 kata, dan bahkan terkadang bisa mencapai 112 halaman, atau 28.000 kata.

Trollope benar-benar penulis berdedikasi tinggi untuk setiap karya yang dihasilkannya. Setiap pukul 05.30 pagi ia telah mulai menulis, selama tiga jam, sebelum berangkat bekerja ke kantornya sebagai inspektur Kantor Pos. Ia bukan pengangguran yang memanfaatkan waktu untuk menulis. Ia bukan tipe orang iseng yang menghabiskan waktu luangnya untuk menulis.

“So this is a man who is spectacularly industrious, never misses a deadline and always delivers to the right length. In other words he is highly professional. He is not interested in the glamour of the hare, he is the tortoise who plods away and knows he will win in the end. He is also completely scornful of the idea of waiting for inspiration” –Victoria Blake, 2014

Ia sangat disiplin. Tidak mau melewatkan tenggat waktu yang ditetapkannya sendiri, dan selalu memberikan hasil yang tepat. Ia menulis dengan cara sangat profesional. Ia tidak mau bersantai dan bermalas-malasan –jika sudah dikaitkan dengan karya tulis. Tentu ia juge menikmati waktu libur dan bersantai, namun tidak pada saat zona waktu menulis yang telah ditetapkan.

Tak Ada yang Perlu Ditunggu

“To me it would not be more absurd if the shoemaker were to wait for inspiration, or the tallow-chandler for the divine moment of melting” –Anthony Trollope.

Trollope heran dengan mereka yang suka mengatakan “menunggu inspirasi” untuk menulis. Baginya, tidak ada yang perlu ditunggu. Menulis itu bukan menunggu sesuatu, namun melakukan sesuatu. Menuangkan sesuatu, bukan berharap datangnya sesuatu.

Dalam postingan sebelumnya telah saya sampaikan, Trollope menyatakan menulis itu seperti membuat sepatu. Maka menjadi mengherankan dan tidak masuk adal bahwa para pekerja pembuat sepatu itu tidak bekerja berhari-hari karena  sedang menunggu inspirasi.  Mereka duduk melamun dan menunggu “wangsit”, agar bisa membuat sepatu. Jika begitu cara mereka bekerja, tentu tidak akan ada sepatu yang mereka hasilkan.

Sama dengan menulis. Tidak ada yang perlu ditunggu. Lakukan saja, tuangkan saja, tuliskan saja. Tidak ada yang harus ditunggu. “Bagi saya tidak masuk akal jika para pembuat sepatu menunggu inspirasi, atau lampu gantung untuk momentum pencairan”, ungkap Trollope.

Sama juga kondisinya dengan orang-orang yang menunggu mood untuk menulis. Banyak orang tidak menulis karena merasa tidak memiliki mood. Padahal, jika Anda tidak memiliki mood, tidak ada masalah sekali, Anda tetap bisa menulis. Sama dengan para guru yang mengajar rutin setiap hari, mereka tetap bisa mengajar tanpa menunggu datangnya mood.

Maka sebagaimana keyakinan Trollope, tidak ada yang harus ditunggu untuk menulis. Ia bangun dengan secangkir kopi, lalu mulai menulis pada pukul 05.30. Setiap 15 menit ia akan memeriksa target penulisannya. Ia harus memastikan bahwa dalam 15 menit itu ia mampu menulis 250 kata, atau satu halaman.

Bagaimana dengan Anda? Selamat berkarya, selamat mengubah dunia.

Bahan Bacaan

James Clear, The 15-Minute Routine Anthony Trollope Used to Write 40+ Books, https://jamesclear.com

Maria Popova, Anthony Trollope’s Witty and Wise Advice on How to Be a Successful Writer, https://www.themarginalian.org, 24 April 2014

Mayo Oshin, The Daily Routine of 20 Famous Writers (and How You Can Use Them to Succeed), 15 Agustus 2017, https://medium.com/

Nicole Bianchi, How to Supercharge Your Writing Productivity: Anthony Trollope’s Strategy for Writing 45+ Books, https://nicolebianchi.com, 26 Februari 2016

Victoria Blake, Writing Tips form a Trollope! https://victoriablakewriter.wordpress.com, 3 November 2014

Ditulis oleh ruangkeluarga

Dipublikasikan di RUANG KELUARGA. Media edukasi keluarga, parenting, dan keharmonisan rumah tangga.