.
Belajar dari Para Penulis Produktif
Oleh : Cahyadi Takariawan
“Dickens left his desk for a vigorous three-hour walk through the countryside or the streets of London” –Mayo Oshin, 2017
.
Charles Dickens adalah seorang novelis produktif asal Inggris. Ia dikenal memiliki kepedulian terhadap masyarakat miskin dan marginal. Ia mengangkat realitas ketimpangan masyarakat dalam novel, untuk menjadi kritik konstruktif bagi pemerintah Inggris.
Novel Oliver Twist , David Copperfield, dan A Christmas Carol adalah karya monumental Dickens yang disukai banyak masyarakat dunia, dan mengangkat namanya. Menulis novel bagi Dickens, adalah proses menyuarakan realitas kehidupan. Maka ia memilih gaya penulisan yang ia sebut sebagai ‘natural’.
Pada postingan sebelumnya, sudah kita bahas tips produktif dari Charles Dickens. Kali ini saya tambahkan lagi tips produktif menulis dan Dickens. Tentu saja tidak semua hal bisa ditiru. Pilih yang cocok untuk masing-masing kita, tinggalkan yang tidak bisa kita lakukan.
Mencari Inspirasi Langsung di Tengah Masyarakat
“Promptly at 2:00, Dickens left his desk for a vigorous three-hour walk through the countryside or the streets of London, continuing to think of his story and, as he described it, “searching for some pictures I wanted to build upon” –Mayo Oshin, 2017
Penulis sukses dan produktif bukanlah orang yang mengasingkan diri dari keramaian. Bukan orang ‘aneh’ yang hidup terasing dari realitas masyarakat. Hidup menyendiri, menyepi, mencari inspirasi dalam pengasingan. Bukan seperti itu.
Penulis produktif justru karena mereka hidup dalam denyut masyarakat. Mengerti, melihat dan mendengar berbagai persoalan kehidupan yang aktual. Mereka bahkan bisa menyuarakan kepedihan serta harapan masyarakat melalui berbagai bentuk tulisan. Tulisannya menjadi lebih hidup dan bertenaga, justru karena mengerti secara langsung kondisi masyarakat di sekitarnya.
Di dunia cyber saat ini, salah satu tantangan kehidupan kita adalah tergantikannya ruang sosial nyata dengan ruang sosial yang serba maya. Sebagaimana dinyatakan oleh Katherine Diggory (2018), “Nothing compares to living in real communities and spending actual physical time with the people we love”. Interaksi langsung tak akan tergantikan oleh apapun, karena di situlah letak kemanusiaan kita yang sesungguhnya.
“Dickens’s working hours were invariable. His eldest son recalled that ‘no city clerk was ever more methodical or orderly than he; no humdrum, monotonous, conventional task could ever have been discharged with more punctuality or with more business-like regularity, than he gave to the work of his imagination and fancy’” –Mayo Oshin, 2017
Oleh karena itu, hendaknya memperluas titik pergaulan langsung di dunia nyata, dan berbincang dengan mereka. Saat hidup bermasyarakat, rajin menyapa tetangga. Mendengar suara mereka, mengerti kondisi mereka. Ini adalah bahan tulisan yang nyata, dan tidak mengada-ada.
Demikianlah yang dilakukan oleh Charles Dickens. Mayo Oshin (2017) menuturkan, “Dickens meninggalkan meja kerjanya untuk berjalan-jalan selama tiga jam melalui pedesaan atau jalan-jalan London”. Dickens bukan tipe penulis kantoran atau gedongan. Ia justru suka berada di jalan-jalan di kota ataupun pedesaan.
Dari sana ia mendapatkan “gambar” yang hendak dituliskan. Imajinasinya berkembang untuk menghasilkan karya tulis.
Mempertahankan Ritme Kerja Harian
“He rose at 7:00, had breakfast at 8:00, and was in his study by 9:00. He stayed there until 2:00, taking a brief break for lunch with his family, during which he often seemed to be in a trance, eating mechanically and barely speaking a word before hurrying back to his desk” –Mayo Oshin, 2017
Jam menulis Dickens tidak berubah. Ia adalah sosok yang sangat tertib dan teratur. Putra sulungnya mengingat bahwa “tidak ada petugas kota yang lebih metodis atau tertib daripada Dickens. Tidak ada tugas yang membosankan, monoton, dan konvensional yang dapat diselesaikan dengan lebih tepat waktu atau lebih teratur, daripada yang Dickens berikan pada karya imajinasi dan fantasinya.”
Dickens bangun pukul 7.00 pagi, sarapan pukul 8.00, dan berada di ruang kerjanya jam 9.00. Dia menulis sampai pukul 14.00, diselingi istirahat sejenak untuk makan siang bersama keluarganya. “Ia sering tampak seperti kesurupan. Makan secara mekanis dan nyaris tidak berbicara sepatah kata pun, lalu bergegas kembali ke mejanya”, tulis Oshin.
Pada hari biasa Dickens menulis sekitar dua ribu kata dengan cara ini. Tetapi terkadang berhasil menulis dua kali lipat, hingga empat ribu kata sehari. Ada pula hari si mana ia hampir tidak menulis apa pun. Meski demikian, ia tetap berada pada jadwal kerja yang tetap. Pada jam kerjanya, ia akan mencoret-coret sesuatu sambil menatap ke luar jendela.
Tepat pukul 14.00, Dickens meninggalkan meja kerjanya untuk berjalan-jalan selama tiga jam melalui pedesaan atau jalan-jalan London. Ia terus memikirkan ceritanya dan –seperti yang ia katakan, “mencari beberapa gambar yang ingin saya tuliskan.”
Sekembalinya ke rumah, “ia melihat personifikasi energi, yang tampaknya mengalir dari setiap pori seperti dari reservoir tersembunyi,” ungkap seorang saudaranya. Malam hari bagi Dickens, dia buat santai. Makan malam pada pukul 18.00, kemudian menghabiskan waktu bersama keluarga atau teman hingga tengah malam.
Bahan Bacaan
Katherine Diggory, The Importance of Human Interaction and Relationships, Explore Life Web, www.explore-life.com, Desember 2018
Mayo Oshin, The Daily Routine of 20 Famous Writers (and How You Can Use Them to Succeed), 15 Agustus 2017, https://medium.com/