.
Belajar dari Para Penulis Produktif
Oleh : Cahyadi Takariawan
“Dickens’s strict adherence to a daily writing schedule was mirrored by his formulaic approach to planning his novels. Publishing in serial form makes a novel very difficult to plan in whole” –The Book Habit, 2018.
.
Charles Dickens adalah seorang novelis produktif asal Inggris. Ia dikenal memiliki kepedulian terhadap masyarakat miskin dan marginal. Ia mengangkat realitas ketimpangan masyarakat dalam novel, untuk menjadi kritik konstruktif bagi pemerintah Inggris.
Novel Oliver Twist , David Copperfield, dan A Christmas Carol adalah karya monumental Dickens yang disukai banyak masyarakat dunia, dan mengangkat namanya. Menulis novel bagi Dickens, adalah proses menyuarakan realitas kehidupan. Maka ia memilih gaya penulisan yang ia sebut sebagai ‘natural’.
Pada beberapa postingan sebelumnya, sudah kita bahas tips produktif dari Charles Dickens. Kali ini saya tambahkan lagi tips produktif menulis dan Dickens. Tentu saja tidak semua hal bisa ditiru. Pilih yang cocok untuk masing-masing kita, tinggalkan yang tidak bisa kita lakukan.
Kedetailan dalam Perencanaan Tulisan
“In order to ensure that he was prepared at the start of each new serial, Dickens utilised ‘Plan Sheets’ and working notes as a means to keep track of his story. The use of Plan Sheets was a particularly detailed process” –The Book Habit, 2018.
Dickens dikenal sebagai penulis yang patuh dengan jadwal menulis harian yang diciptakannya. Ia juga dikenal sebagai penulis dengan tingkat ketelitian tinggi dalam membuat perencanaan. Ia memiliki formula untuk merencanakan novel-novelnya. Padahal, penerbitan dalam bentuk serial membuat novel sangat sulit untuk direncanakan secara keseluruhan.
Novel pertama Dickens, The Pickwick Papers, membutuhkan waktu 20 bulan untuk diterbitkan secara penuh. Cukup lama, hampir dua tahun. Novel ini dirilis secara bertahap tiap bulan, dari Maret 1836 hingga Oktober 1837. Keseluruhan novel tersebut terdiri dari 57 bab.
Perencanaan adalah hal penting bagi Dickens. Publikasi secara serial membuatnya terus bergerak ke depan. Cara ini mencegahnya kembali ke bagian-bagian sebelumnya untuk membuat perubahan atau mengatur ulang adegan. Maka ia harus merencanakan semua bagian dengan detail.
Untuk memastikan bahwa dia siap di awal setiap serial baru, Dickens menggunakan ‘Plan Sheets’ dan catatan kerja sebagai sarana untuk melacak ceritanya. Penggunaan Lembar Rencana adalah proses yang sangat rinci. dalam buku biografi Charles Dickens menggambarkan proses perencanaan Dickens
“For each number [monthly installment] he prepared a sheet of paper approximately 7 x 9 inches by turning it sideways, with the long side horizontal, dividing it in two, and then using the left-hand side for what he called ‘Mems’” –Michael Slater.
“Untuk setiap nomor [tulisan serial bulanan] dia menyiapkan selembar kertas kira-kira 7 x 9 inci dengan memutarnya ke samping, dengan sisi panjang horizontal. Ia membaginya menjadi dua, dan kemudian menggunakan sisi kiri untuk hal yang dia sebut sebagai ‘Mems’.
“Ini adalah pengingatan untuk dirinya sendiri tentang peristiwa dan adegan yang mungkin ditampilkan dalam serial, petunjuk tentang kecepatan narasi, frasa tertentu yang ingin dia kerjakan, pertanyaan untuk dirinya sendiri tentang apakah suatu karakter harus muncul dalam serial ini, atau tetap menunggu di sayap. Biasanya dengan beberapa jawaban seperti ‘Ya’, ‘Tidak’, atau ‘Belum’ ditambahkan kemudian”.
“Di sisi kanan kertas biasanya Dickens menulis nomor dan judul dari bab yang membentuk setiap bagian bulanan. Ia mencatat, baik sebelum atau sesudah menulisnya, nama karakter utama dan peristiwa yang ditampilkan di setiap bab, dengan kadang-kadang fragmen penting dari dialog”.
“What Dickens used, then, was not a detailed plan for every aspect of his stories but rather a rough outline of key events, characters, and plot points. This was important, as it allowed him to ensure that plot progression was planned at large, whilst also permitting alterations as feedback was received from his audience” –The Book Habit, 2018.
Apa yang digunakan Dickens kemudian, bukanlah rencana terperinci untuk setiap aspek ceritanya, melainkan garis besar kasar peristiwa, karakter, dan titik plot utama. Ini penting, karena memungkinkan dia untuk memastikan bahwa perkembangan plot direncanakan secara luas, sementara juga memungkinkan perubahan saat umpan balik diterima dari pembacanya.
Lembar Rencana ini dilengkapi dengan halaman catatan kerja di mana Dickens menguraikan strukturnya yang lebih besar, mengembangkan detail karakter yang menonjol, dan mencatat simbol apa pun yang secara khusus ingin ia gabungkan.
Kebiasaan menulis Dickens secara luas mencerminkan tuntutan sastranya. Ia tidak memiliki waktu untuk melakukan pengeditan. Ia fokus memastikan bahwa kreativitasnya selalu hadir dengan jadwal yang ketat.
“Whether or not you enjoy Dickens’s works, his ability to publish in serial form whilst still ending up with a coherent and well-structured novel at the end of the process was truly impressive” –The Book Habit, 2018.
Rutinitas harian yang ketat dan pendekatannya yang terstruktur terhadap perencanaan adalah cara untuk memastikan bahwa ia dapat memenuhi tenggat waktu, sambil tetap meluangkan waktu untuk mencari inspirasi di sekitar kota London. Kemampuan Dickens untuk menerbitkan tulisan dalam bentuk serial bulanan, namun tetap berakhir menjadi sebuah novel yang koheren dan terstruktur dengan baik di akhir proses, benar-benar mengagumkan.
Bahan Bacaan
Alex J. Coyne, 7 Bits Of Writing Advice From The Works Of Charles Dickens, https://www.writerswrite.co.za, 7 Februari 2021
The Book Habit, Literary Lifestyles: The Writing Habits of Charles Dickens, https://thebookhabit.co.uk, 7 November 2018