Kembali
Motivasi Menulis

Agar Selalu Produktif Menulis – 88

.

Belajar dari Para Penulis Produktif

Oleh : Cahyadi Takariawan

“Work according to the program and not according to mood” –Henry Miller.

.

Henry Miller adalah seorang penulis dan pelukis produktif asal Amerika. Karya-karya Miller yang mengungkap secara vulgar aspek seksualitas mengundang kontroversi, sehingga dilarang selama beberapa dekade di Amerika Serikat. Miller sering dijuluki sebagai seniman anarkhi kreatif, atas karya-karya yang cenderung memberontak terhadap berbagai kemapanan sosial dan budaya.

Pada tahun 1932, Henry Miller mengemukakan “11 komando” yang membuat dirinya bisa konsisten menulis pada jadwal kerja dan rutinitas harian selama bertahun-tahun. Sebelas “komando” Miller tersebut banyak memberi inspirasi kepada para penulis.

Tentu saja tidak semua poin bisa ditiru dan dieksekusi. Pilih saja yang cocok untuk masing-masing kita, tinggalkan yang tidak bisa kita lakukan.

Jangan Menunggu Mood

“Work according to the program and not according to mood. Stop at the appointed time!” –Henry Miller.

Salah satu dari “sebelas komando Miller” adalah agar kita memiliki program yang jelas. Saya menyebut hal ini sebagai “tujuan” atau goals. Saya memulai proses menulis, dengan menetapkan tujuan yang jelas. Maka saya bisa menulis di manapun dan kapanpun, karena mengetahui tujuan.

Dalam istilah Miller, mulailah menulis dengan kejelasan program, agar Anda tidak perlu menunggu hadirnya mood. “Bekerjalah sesuai program, bukan sesuai mood. Berhentilah pada waktu yang ditentukan!”, demikian salah satu poin komando Miller.

Banyak penulis pemula yang duduk termenung di depan layar laptop –menunggu mood. Berjam-jam duduk menunggu mood, sehingga tidak menulis satu patah katapun. Ini adalah tindakan sia-sia. Tidak ada yang perlu ditunggu jika Anda punya tujuan, jika Anda punya program yang jelas.

Misalnya, program Anda menulis setiap pagi pukul lima hingga pukul enam. Maka menulislah pada waktu yang sudah Anda programkan, tanpa menunggu hadirnya mood. Anda juga bisa menulis dengan pendekatan tujuan –yaitu tetapkan tujuan, lalu menulislah. Tidak ada hal apapun yang  perlu Anda tunggu sepanjang sudah mengerti tujuan menulis.

Perluas Pergaulan Anda

“Keep human! See people, go places, drink if you feel like it” –Henry Miller.

Salah satu dari “sebelas komando Miller” adalah agar kita menjadi penulis yang ‘manusiawi’. Bukan penulis robot yang bekerja tanpa perasaan, bukan penulis yang teralienasi dari kehidupan nyata. “Jaga manusia! Lihat orang, pergi ke berbagai tempat, minum jika Anda mau”, demikian ‘komando’ Miller.

Penulis sukses dan produktif bukanlah orang yang mengasingkan diri dari keramaian. Bukan orang ‘aneh’ yang hidup terasing dari realitas masyarakat. Hidup menyendiri, menyepi, mencari inspirasi dalam pengasingan. Bukan seperti itu.

Penulis produktif justru karena mereka hidup dalam denyut masyarakat. Mengerti, melihat dan mendengar berbagai persoalan kehidupan yang aktual. Mereka bahkan bisa menyuarakan kepedihan serta harapan masyarakat melalui berbagai bentuk tulisan. Tulisannya menjadi lebih hidup dan bertenaga, justru karena mengerti secara langsung kondisi masyarakat di sekitarnya.

Di dunia cyber saat ini, salah satu tantangan kehidupan kita adalah tergantikannya ruang sosial nyata dengan ruang sosial yang serba maya. Sebagaimana dinyatakan oleh Katherine Diggory (2018), “Nothing compares to living in real communities and spending actual physical time with the people we love”. Interaksi langsung tak akan tergantikan oleh apapun, karena di situlah letak kemanusiaan kita yang sesungguhnya.

Oleh karena itu, hendaknya memperluas titik pergaulan langsung di dunia nyata, dan berbincang dengan mereka. Saat hidup bermasyarakat, rajin menyapa tetangga. Mendengar suara mereka, mengerti kondisi mereka. Ini adalah bahan tulisan yang nyata, dan tidak mengada-ada.

Selesaikan Target Menulis Anda

“Write first and always. Painting, music, friends, cinema, all these come afterwards” –Henry Miller.

Salah satu dari “sebelas komando Miller” adalah agar kita mengutamakan aktivitas menulis, sebelum ‘bersenang-senang’ dengan aktivitas lainnya. “Menulis dulu dan selalu dahulukan menulis. Lukisan, musik, teman, bioskop, semua bisa dilakukan setelahnya”, ujar Miller.

Sebelum Anda memulai menulis, sebaiknya Anda sudah menentukan target akhir dari penulisan tersebut. Misalnya, Anda ingin menulis naskah sebanyak seribu kata. Lalu, hari ini Anda akan menyelesaikan berapa kata –misalnya hari ini menulis 200 kata dari target 1.000 kata tersebut. Target ini penting Anda tetapkan agar memiliki progres dari hari ke hari.

Ketika target sehari tersebut telah tercapai, yaitu menulis 200 kata, berarti Anda sudah mencapai target, atau sudah selesai menulis untuk hari ini. Usai menulis 200 kata tersebut, Anda baru boleh bersenang-senang dengan aktivitas lainnya. Hal ini untuk menciptakan habit dan kedisiplinan.

Bahan Bacaan

David W. Berner, Writing Lessons from Henry Miller, https://writingcooperative.com, 27 Maret 2019

Katherine Diggory, The Importance of Human Interaction and Relationships, Explore Life Web, www.explore-life.com, Desember 2018

Mayo Oshin, The Daily Routine of 20 Famous Writers (and How You Can Use Them to Succeed), 15 Agustus 2017, https://medium.com/

Maria Popova, Henry Miller’s 11 Commandments of Writing and His Daily Creative Routine, https://www.themarginalian.org, 22 Februari 2012

Ditulis oleh ruangkeluarga

Dipublikasikan di RUANG KELUARGA. Media edukasi keluarga, parenting, dan keharmonisan rumah tangga.