Kembali
Teknik Menulis

Agar Tulisan Tidak Mengambang – 2

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

Pernahkah Anda membaca sebuah tulisan, kemudian Anda merasa bahwa tulisan tersebut sangat ‘mengambang’? Rasanya tidak berbobot, dan tidak memiliki kejelasan. Bagaimana agar tulisan Anda tidak mengambang?

Paling tidak ada empat kondisi, yang menyebabkan tulisan disebut mengambang. Empat kondisi itu adalah sebagai berikut.

  1. Mengambang karena tulisan tidak berbobot
  2. Mengambang karena tidak jelas tujuannya
  3. Mengambang karena tidak jelas alurnya
  4. Mengambang karena tidak jelas kesimpulannya

Poin pertama sudah saya bahas dalam postingan sebelumnya. Simak kembali di sini. Saya akan membahas poin berikutnya.

Kedua, mengambang karena tidak jelas tujuannya

Tujuan menulis itu sangat subyektif. Masing-masing orang bisa berbeda dalam menetapkan tujuan menulis. Bahkan perbedaan tujuan antara penulis satu dengan penulis lainnya bisa sangat tajam dan ekstrem. Bagaikan bumi dan langit.

Sebagai contoh –dalam dunia politik, ada tulisan yang memuji-muji pemerintah sebuah negara, seakan tak ada satupun kekurangan dan kelemahan pada rezim yang tengah berkuasa saat itu. Sementara ada tulisan lain, yang mengkritik bahkan mencaci maki pemerintah, seakan-akan tak ada satupun hal baik pada rezim saat itu.

Dalam dataran realitas –ini terjadi karena berbeda pilihan afiliasi politik. Namun dalam tinjauan kepenulisan, hal itu terjadi karena perbedaan tujuan. Yang satu bertujuan ‘membela’ penguasa, yang satu bertujuan ‘menggulingkan’ penguasa. Ini yang saya katakan, perbedaan tujuan yang sangat tajam, antara bumi dan langit.

Contoh lainnya –dalam konteks ‘fee’ tulisan. Ada penulis yang tidak pernah peduli tulisannya dihargai royalti berapa persen. Dia tidak mau berhitung soal fee. Sepenuhnya diserahkan kepada pihak penerbit. Karena tujuan membuat buku adalah menyebarluaskan pengetahuan yang bermanfaat. Bukan mencari uang lewat buku. Ia menjadikan menulis sebagai kegiatan edukasi masyarakat.

Namun ada penulis yang sangat peduli dengan fee. Ia mengadakan perhitungan, dan tawar menawar, yang sangat cermat dan ketat dengan pihak penerbit. Ia memilih penerbit yang bisa memberikan tawaran tertinggi atas karya tulis yang dimiliki. Karena tujuan menulis buku adalah mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya. Ia menjadikan menulis sebagai mata pencaharian utama.

Apapun tujuan menulis –asalkan jelas, akan melahirkan tulisan yang jelas pula. Tulisan yang ‘ada isinya’, karena sedang berusaha mencapai tujuan tertentu. Membela penguasa, dengan tulisan yang berbobot, supaya diterima publik. Mengkritik penguasa, dengan tulisan berbobot, supaya mendapat simpati publik. Bobot tulisan dipertaruhkan dalam konteks seperti ini, karena akan memengaruhi opini publik.

Tulisan Dengan Kejelasan Tujuan

Jika pembaca bingung setelah membaca tulisan Anda, bisa jadi dari awal menulis, Anda tidak memiliki kejelasan tujuan. Saat pembaca bingung, mereka akan mengatakan bahwa tulisan Anda tidak berbobot. Mengambang. Tidak bisa diambil kesimpulan, atau tidak ada yang bisa dimengerti.

Itu sebabnya saya sering menyarankan agar mendefinisikan tentang kejelasan ‘Who’ dan ‘Do’ sebelum Anda memulai menulis.

  • Kejelasan Segmen Pembaca

‘Who’ adalah pertanyaan tentang siapa segmen pembaca yang Anda inginkan. Ibarat sebuah kiriman paket barang, ‘who’ adalah alamat tujuan si penerima paket. Ketika Anda menulis, untuk siapa tulisan itu Anda alamatkan?

Ketika Anda telah menetapkan segmen yang jelas, maka Anda telah mendapatkan ‘identitas’ yang jelas. Sebagai contoh, Anda menulis untuk segmen remaja SMA. Maka Anda akan lebih mudah memvisualisasikan pesan melalui tulisan, sesuai dengan dunia mereka.

Cara menyapa, pilihan kosa kata, gaya bahasa, istilah, contoh peristiwa, idiom, dan lain sebagainya, harus disesuaikan dengan pelajar SMA. Cara menyampaikan pesan, juga harus sesuai dengan psikologi remaja.

Jika Anda menulis untuk para guru SMA, tentu cara membahasakan dan cara menyapa juga berbeda. Tidak elok menggunakan gaya gaul, sementara segmen yang disapa adalah kalangan senior. Anda harus memilih kosa kata dan gaya bahasa yang sesuai dengan posisi mereka. Sebab cara mengormati setiap kelompok masyarakat, bisa berbeda.

Misalnya, pilihan sapaan : Anda, pembaca, kamu, loe, ente, atau yang lainnya, akan sangat berbeda suasananya. Demikian pula gaya bahasa, memilih formal atau bahasa gaul, sangat berbeda suasananya. Semua disesuaikan dengan siapa segmen pembaca.

Contoh gaya bahasa formal.

Pandemi Covid-19 telah membawa kesengsaraan yang semakin meluas terhadap para pekerja formal dan informal. Kementerian Keuangan RI mencatat, setidaknya ada lebih dari 1,5 juta jiwa pekerja telah dirumahkan dan terkena PHK. Dari angka tersebut 90 persen dirumahkan dan 10 persen sisanya terkena PHK. Sebanyak 1,24 juta orang merupakan berasal pekerja formal dan 265 ribu lainnya merupakan pekerja informal.

Contoh gaya gaul.

Pandemi Covid-19 bikin mampus pekerja formal dan informal. Bayangin Bro, data Kementerian Keuangan menunjukkan, ada lebih dari 1,5 juta jiwa pekerja telah dirumahkan dan terkena PHK. Gila gak ini. Dari angka tersebut 1,24 juta orang merupakan berasal pekerja formal dan 265 ribu lainnya merupakan pekerja informal. Busyet dah. Lama-lama bisa mampus semua kita ini.

Mengapa berbeda gaya bahasanya? Karena berbeda segmennya. Padahal isinya sama.

Jika segmen Anda tidak jelas, sangat mungkin menimbulkan ketidakjelasan dalam tulisan Anda. Ibarat mengirim paket, tanpa kejelasan alamat. Pastinya paket tidak akan pernah sampai.

  • Kejelasan Harapan Perubahan

‘Do’ adalah perubahan apa yang Anda inginkan dari pembaca, setelah mereka membaca tulisan Anda? Atau apa yang Anda harapkan terjadi pada pembaca, setelah membacatulisanAnda? Misalnya, pembaca mengetahui sesuatu informasi, pembaca menjadi paham, pembaca termotivasi, pembaca terhibur, pembaca terinspirasi, dan seterusnya.

Semakin jelas harapan yang Anda inginkan dari tulisan Anda, akan semakin jelas pula Anda dalam menuliskannya. Sejak dari tema, kerangka, kosa kata dan penyajian tulisan, mengarah kepada perubahan yang Anda harapkan terjadi pada pembaca.

Ini yang namanya ‘menyapa’ pembaca. Tak ubahnya dengan kehidupan nyata. Saat Anda bertemu sekelompok orang, Anda bisa mengabaikan mereka, atau Anda bisa menyapa mereka. Jika Anda memilih menyapa mereka, maka Anda tentu akan menyesuaikan dengan kondisi dan situasi mereka.

Saat bertemu anak muda, Anda bisa menyapa, “Hai gaes…”. Ketika bertemu orang-orang yang tampak penting, Anda bisa menyapa, “Permisi Pak…”. Ketika bertemu orang-orang tua, kalau di Jawa Tengah, Anda bisa menyapa, “Nyuwun sewu Pak, ndherek langkung…”

Nah, dalam bahasa tulisan, Anda juga perlu menyesuaikan dengan segmen yang sedang Anda sapa. Sebagai contoh, segmen tulisan Anda (who) adalah pelajar SMA. Harapan yang Anda inginkan (do) adalah, mereka bisa menjaga semangat belajar di masa pandemi Covid-19.

“Hai gaes, Covid-19 ini pastinya bener-bener bikin kamu ga nyaman ya… Ga bisa main, ga bisa ngumpul, di rumah mulu… Pasti bete deh. Tapi tenang saja Bro… Karena sebenernya, segala sesuatu kembali kepada diri kamu sendiri. Ini justru sebuah latihan yang sangat menantang. Anggap saja kamu sedang bermain game level 50.

Lalu gimana agar kamu tetap bisa heppi belajar daring? Padahal kan ga enak banget tuh, tiap hari di rumah cuma ketemu bokap sama nyokap kamu. Nah, berikut kakak sampaikan lima tips agar kalian bisa belajar dengan nyaman. Simak ya gaes…”

Tentu saja, setiap segmen memiliki istilah, idiom dan gaya bahasa yang berbeda. Itulah sebabnya, perlu memperjelas ‘who’ dan ‘do’, supaya cara menyapa dan cara menyampaikan pesan bisa sesuai dengan situasi dan kondisi pembaca.

Jika tidak jelas ‘alamat’ tulisan itu untuk siapa, serta tidak jelas harapan perubahan yang diinginkan terhadap pembaca, membuat tulisan mengambang. Tidak jelas, membingungkan, karena tak ada kepastian alamat.

Lalu akan sampai kemanakah tulisan itu?

Bersambung.

Ditulis oleh Cahyadi Takariawan

Dipublikasikan di RUANG KELUARGA. Media edukasi keluarga, parenting, dan keharmonisan rumah tangga.