AL FATIHAH : MEMASTIKAN DI JALAN YANG LURUS

AL FATIHAH : MEMASTIKAN DI JALAN YANG LURUS

Kuliah Ramadhan Hari Kesepuluh

Oleh : Cahyadi Takariawan

 

Jumhur ulama menyatakan bahwa membaca surat Al Fatihah adalah rukun shalat. Tidak sah shalat tanpa membaca Al Fatihah. Nabi Saw telah bersabda:

لا صلاةَ لمن لم يقرأْ بفاتحةِ الكتابِ

“Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Fatihatul Kitab.” Hadits Riwayat Bukhari nomer 756 dan Muslim nomer 394.

Beliau Saw juga bersabda:

كلُّ صلاةٍ لا يُقرَأُ فيها بأمِّ الكتابِ ، فَهيَ خِداجٌ ، فَهيَ خِداجٌ

“Setiap shalat yang di dalamnya tidak dibaca Fatihatul Kitab, maka ia cacat, maka ia cacat”. Hadits Riwayat Ibnu Majah nomer 693, disahihkan Al Albani dalam Shahih Ibnu Majah.

Dinamakan Al Fatihah –yang bermakna pembukaan– karena dengan surat inilah dibuka dan dimulainya Al Qur’an. Al Fatihah juga dinyatakan oleh Nabi Saw sebagai surat yang paling agung di dalam Al Qur’an, sebagaimana hadits dari Abu Sa’id Rafi’ Ibnul Mu’alla Ra.

Abu Sa’id Rafi ibnul Mu’alla mengatakan: Rasulullah Saw berkata kepadaku, “Maukah kamu aku ajari sebuah surat paling agung dalam Al Quran sebelum kamu keluar dari masjid nanti?” Maka beliau pun berjalan sembari menggandeng tanganku. Tatkala kami sudah hampir keluar maka aku pun berkata; wahai Rasulullah, engkau tadi telah bersabda, “Aku akan mengajarimu sebuah surat paling agung dalam Al Quran?” Maka beliau bersabda, “(Surat itu adalah) Alhamdulillaahi Rabbil ‘alamiin (surat Al Fatihah), itulah As Sab’ul Matsani serta Al Quran Al ‘Azhim yang dikaruniakan kepadaku.” Hadits Riwayat Imam Bukhari.

Al Fatihah disebut pula sebagai Ummul Qur’an, atau induk Al Quran, karena ia merupakan induk dari semua isi Al Quran. Disebut pula sebagai As Sab’ul Matsani, yaitu tujuh yang berulang-ulang, karena jumlah ayatnya tujuh dan dibaca berulang-ulang ketika shalat.

Disebut juga surat Al Kafiyatu Asy Syafiyah. Al Kafiyah maknanya adalah pencukup, dan Asy Syafiyah berarti penyembuh, karena di dalam surat Al Fatihah terdapat penyembuh yang mencukupi untuk berbagai macam penyakit hati maupun badan.

Sebagai Al Fatihah —pembuka, seluruh kandungan maknanya apabila dipahami dan dilaksanakan dengan baik serta benar, akan membimbing manusia untuk membuka kebaikan-kebaikan dalam kehidupan yang telah dituntunkan Allah dan Rasul. Di dalamnya terdapat prinsip Tauhid Rububiyah dan Tauhid Uluhiyah sebagai pondasi aqidah setiap muslim.

Dalam surat ini terdapat kandungan doa yang sangat fundamental, “ihdinash shirathal mustaqim” — tunjukilah kami jalan yang lurus. Ini merupakan hajat mendasar dalam kehidupan manusia, agar selalu berada di jalan yang lurus. Bukan jalan oang-orang yang Allah murkai, bukan pula jalan orang-orang yang sesat.

Kita mengulang-ulang membaca Al Fatihah dalam setiap raka’at shalat, baik shalat wajib maupun shalat sunnah, baik shalat berjama’ah maupun shalat sendirian, agar memiliki orientasi hidup yang lurus. Terus menerus membaca dan menghayati Al Fatihah, agar kehidupan kita selalu dibukakan kebaikan oleh Allah, dan selalu berada di jalan yang lurus.

Maka ketika membaca Al Fatihah, hendaknya disertai kesadaran akan maknanya. Agar Allah benar-benar membuka pintu-pintu kebaikan dalam kehidupan. Agar Allah selalu menjaga kita, sehingga berada di jalan yang lurus.

Semoga spirit Al Fatihah membawa kita menuju kemenangan dunia akhirat. Mari perbanyak membaca Al Fatihah. Jangan lupa, perbanyak pula sedekah, mumpung ketemu bulan penuh berkah.

Cahyadi Takariawan

Cahyadi Takariawan telah menulis lebih dari 50 judul buku yang sebagian besarnya bertema keluarga. Aktivitasnya saat ini selain menulis adalah menjadi narasumber dalam berbagai seminar dan pelatihan di dalam dan luar negeri. Mendirikan Jogja Family Center (JFC) pada tahun 2000 sebagai kontribusi untuk mengokohkan keluarga Indonesia. Kini JFC bermetamorfosis menjadi Wonderful Family Institute. Beliau dapat diakses melalui Instagram @cahyadi_takariawan

Tinggalkan Balasan